Kemubaziran Terstruktur

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Dua hari di Karimun Jawa, banyak hal-hal yg membuat kita ngelus dada. Landing di Bandara Dewa Daru dgn pswt Wings Air 80 seat, full. 80% penumpangnya turis bule.

Tidur di hotel yg pemiliknya orang Indonesia beristrikan orang Belanda dgn top view yg indah, hotel ini lumayan bagus dan bersih, Happinezz Hills namanya. Dari info yg ada 80% turis disana dimanjakan dgn aktivitas snorkling dgn paket murah. Ditunjang dgn laut yg bersih memang mengasikkan, makanannya ikan segar bakar dgn rasa relatif membuat lidah makin memerah.

 

Kami kesana mmng bukan utk liburan, kami sdg survey komoditi hasil laut dan potensi lain, ternyata punya potensi besar dan layak dikerjakan. Kecamatan dgn populasi 10.000 orang itu termasuk kecamatan dgn penduduk terkecil di Kab. Jepara, 27 pulau yg ada, hanya 4 pulau yg terhuni oleh penduduk. 

Dalam perjalanan blususukan yg kami lakukan kami temukan tandon pengadaan air tenaga surya yg sdh mangkrak, dan satu alat proses hasil laut dari hibah UNDIP, nasibnya sama, tergeletak di depan rumah bekas kepala desa, kondisinya mulai berkarat. Saya teringat alat pengolah limbah di pabrik tebu Jatiroto Jatim dari hibah pem Jepang dgn nilai 18 m 15 thn yll, juga mangkrak. Gak kebayang nasib ratusan barang hibah yg bernasib sama, ini attitude, bad sheed, tapi ngedumel saja jg gak ada solusi.

Saya langsung cari dgn siapa bs bicara, saya minta teman saya cari camatnya, saya mau hidupkan mesin pompa air agar warga bisa memakainya, jadi ingat Anies, gubernur bijak ini sedih melihat warganya beli air 600 rb perak per bulan, tapi dia beli bambu 550 jt perak utk tempat berak lalat di dedepan HI, skrg malah sdh dibongkar. Dan dia berkelakar bambu menjadi bermutu kl disentuh dgn seniman bermutu, sayang dia punya bola mata dan otak yg sdh membatu, shg susah membedakan mana sampah, mana marwah. Dan sekarang Jakarta udaranya parah karena terpolusi sedunia, katanya lidah mertuanya bisa menurunkan kadar polusinya, hahaha. Anies pemegang nilai 5, mau bergaya.

Saya milih Karimun Jawa saja agar lebih bermakna, targetnya 17 Agustus nanti air sudah bisa mengalir, sambil mendengar lagu Indonesia Raya tanpa bendera, tapi hormat kami buat Indonesia tanpa pura-pura.

 

(Sumber: facebook Iyyas Subiakto)

Monday, July 29, 2019 - 20:30
Kategori Rubrik: