Kemiskinan Tersembunyi

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Seusai jam kantor di Hongkong teman saya selalu kumpul dengan teman temannya di Cafe. Tidak ada yang di bicarakan dengan serius. Mereka hanya bicara kosong dan kadang larut dalam perasaan sahdu ketika menikmati live musik yang melantunkan lagu romantis. Kadang ikut menghentakan kaki ketika mendengar lagu ceria. Keadaan itu juga adalah yang dilakukan oleh pengunjung Cafe lainnya. Jam merangkak lambat menuju malam dan yang tersisa hanyalah wajah lelah. Besok adalah hari hari seperti kemarin , sesak dan melelahkan. Selalu. Itulah panggung tentang manusia.

Di layar kaca kita menyaksikan wajah penuh senyum sang da'i bicara tentang hidup bermakna dengan amal dan sabar. Penontonnya senang di liput TV dan memastikan baju baru yang dibeli khusus untuk acara itu di liat teman dan handai tolan. Usai acara itu. Da'i dapat honor dan penonton dapat kepuasan aktualisasi diri di depan layar kaca. Setelah itu mereka harus menghadapi kontradiksi antara utopia da'i dengan realita. Yang tak sudah menyisakan tanda tanya , apalagi setelah utopia agama di yakini yang di saksikan adalah amarah dan kematian akibat aksi teror. Itulah panggung tentang manusia.

Di wall Fb banyak photo teman yang tampil ceria bersama keluarga atau handaitolan dan sahabat. Wajah yang tak menyiratkan lain kecuali dia bahagia. Seakan berkata " inilah aku dengan hidupku. Aku bahagia". Setiap hari selalu ada photo baru di tampilkan di wall. Setiap hari , adalah hari bahagia dan sesuatu yang luar biasa yang tak mungkin di lewatkan tanpa di abadikan lewat selfi. Dan setelah itu sedih. Mengapa yang like sedikit? Kemana teman yang lain? Mengapa mereka tidak peduli? . Namun selfi terus di lakukan sekedar lari dari realitas. Onani bahagia barang kali, juga tidak salah. Itulah panggung kehidupan.

Dalam salah satu majalah yang lupa kapan saya bacanya namun tidak pernah lupa akan tulisannya. Penulisnya seorang Business woman yang kaya raya menjual parfurmed dan alat kecantikan. Dia mengatakan bahwa sadar tidak sadar begitu banyak kemiskinan tersembunyi. Mereka bukan orang lapar makan dan dahaga air. Tapi lapar kasih sayang. Dahaga cinta. Karena begitu sering harus berdamai dengan kenyataan ketika kantor atau pasangannya atau sahabatnya tidak memperdulikan dirinya. Kalau ia nampak bahagia maka itu karena dia tidak pernah mengeluh dan hebat membungkus dirinya dengan tampil ceria di hadapan siapapun.

Mereka tidak miskin secara materi. Tapi mereka miskin cinta. Bukan karena mereka tidak mampu mencintai tapi begitu banyak cara yang telah mereka lakukan untuk di cintai oleh pasangan atau keluarga atau sahabat atau pimpinan namun mereka tidak mendapatkan sesuai yang mereka mau. Hanya karena mereka cerdas melewati hidup sehingga mereka tidak nampak murung di depan umum walau sebetulnya kadang menangis di tempat sepi. Dan Tuhan dengan cintaNya menyembunyikan aib mereka.

Hidup terus berlanjut. Kemiskinan tersembunyi mungkin lebih banyak di bandingkan kemiskinan yang vulgar. Sayang statistik tidak mampu membuat sensus soal ini. Inilah panggung sandiwara terbaik ciptaan Tuhan. Semua kita merasakannya. Namun tidak perlu sedih dan kecewa dengan kemiskinan tersembunyi atau vulgar sekalipun. Karena hidup pada akhirnya bukan apa yang kita pikirkan tapi apa yang kita lakukan. Bukan apa yang kita dapat tapi apa yang kita berikan. Bukan apa yang kita pelajari tapi apa yang kira ajarkan.

Anak ku.. Hidup memang tidak selalu apa yang kita inginkan sesuai dengan kehendak hati. Dan apa yang sesuai dengan kehendak hati belum tentu sesuai yang di inginkan. Akan selalu begitu. Semua kita akan terus di uji sampai ajal menjemput. Itulah hidup yang memang sepertinya hanya senda gurau saja. Kalau ada kesempatan , usahakan bersantai dan carilah jalan untukmu melupakan barang sejenak kerumitan hidup. Kalau bisa teruslah memberi karena itu membuat kamu bahagia. Agar kamu selalu bisa bertahan dalam berdamai dengan kenyataan yang memang kadang tidak ramah...

Pahamkan sayang...**

Sumber : Facebook Erizeli Jely Bandaro

Saturday, July 16, 2016 - 12:45
Kategori Rubrik: