Kemiskinan Pendidikan

ilustrasi

Oleh : Iman Zanatul Haeri

Jangan beri aku ikan, kata seorang Motivator. Berilah aku pancing. Orang yang mengatakan ini sepertinya tidak pernah diberi pancing oleh pemerintah. Ratusan program 'memberi pancing' pemerintah tidak pernah menuntaskan kemiskinan. Apalagi soal kesejahteraan guru.

Kemiskinan akan menghambat aktivitas guru sebagai agen pendidikan. Jika Anda menyusun daftar profesi paling berpengaruh, tulis seorang sejarawan Belanda, guru kemungkinan akan menempati peringkat tertinggi. Ini bukan karena guru mendapat hadiah seperti uang, kekuasaan, atau status, tetapi karena mengajar membentuk sesuatu yang jauh lebih besar - perjalanan sejarah manusia (Bregman, 2016:147)

Kemiskinan akan mengganggu konsentrasi guru ketika dalam proses belajar dan mengajar. Menurut Skeffington & Rea dalam penelitian mereka berjudul How poverty affects people’s decision-making processes menunjukan bahwa pengambilan keputusan dalam konteks kemiskinan merupakan proses yang sulit.

Secara normatif, tindakan dan perilaku individu dari mereka yang hidup di dekat kemiskinan berisiko mendukung peran faktor struktural sosial yang lebih luas dalam memperburuk dan mempertahankan kemiskinan. Secara empiris, ada begitu banyak keputusan penting dipengaruhi kemiskinan sehingga pemahaman yang kurang komprehensif berpotensi menimbulkan kesulitan dalam berkomunikasi (Skeffington & Rea, 2017:44).

Oleh sebab itu kemiskinan seorang guru akan berpengaruh besar dalam setiap pembuatan keputusannya selama proses belajar-mengajar. Seperti penguasaan materi ajar, interaksinya dengan siswa, pemilihan media pembelajaran dan strategi yang diambil untuk melakukan evaluasi.

Stigma yang umum terhadap kemiskinan, adalah bahwa orang miskin cenderung mengambil keputusan yang mengarahkannya untuk tetap miskin. Sejarawan Belanda, Rutger Bregman mengutip stigma ini dari Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, yang menyatakan bahwa keputusan orang miskin merupakan ‘cacat kepribadian’ (Personality Defect) (Bregman, 2016:100).

Bregman mencontohkan Bagaimana penelitian IQ petani tebu di India yang mengalami perubahan sebelum dan sesudah panen. Nilai test IQ terhadap petani sebelum panen hasilnya rendah, turun sebanyak 14 poin. Justru nilai tes IQ petani tersebut meningkat ketika panen berlangsung. Petani tersebut akhirnya bisa berfikir lebih jernih dan mengambil keputusan yang tepat. Alasan utama IQ menurun saat sebelum panen karena terdapat dorongan psikologis yang disebut Mental kelangkaan (Scarcity Mentality) (Mullainathan & Shafir, 2013).

Melalui penelitian Sendhil Mullainathan and Eldar Shafir tersebut, Bregman menyatakan, kurangnya karakter (mental) tidak menyebabkan kemiskinan, tapi kekurangan uanglah yang menyebabkan kemiskinan (Tedtalk, 2017). Ia mengutip tindakan Michael Faye pendiri Givedirecly yang memiliki program memberi uang cash kepada orang miskin di Kenya dan pemerintah Uganda yang memberikan begitu saja $ 400 Dollar kepada 12.000 rakyatnya yang berusia 16 sampai 36 tahun.

Umumnya, para pengamat ekonomi dengan pesimis memprediksi bahwa dengan ‘karakter kemiskinan’ mereka tidak akan mampu mengatur pengeluaran. Hasilnya, penerima Givedirecly mengalami peningkatan pendapatan tiga kali lipat, dan masyarakat penerima dana pemerintah Uganda mengalami peningkatan pendapatan sampai 50% (2016: 57-8).

Menurutnya, pemberian uang (cash) langsung dan tidak melalui proses yang rumit akan memudahkan orang miskin mengambil keputusan yang bijak. Indonesia sendiri pernah melakukannya dalam program Bantuan Langsung Tunai (BLT). World Bank mencatat 10% penerima manfaat BLT menjadi memiliki pekerjaan. Namun progam ini terbatas pada masa darurat menghadapi krisis global 2008 (World Bank, 2012:43).

Tentu profesi yang merupakan agen bagi kemakmuran negara seperti guru patut untuk lolos dari mental kelangkaan. Sangat penting ekonomi memberi nilai lebih pada pekerjaan pendidikan. Bregman menulis bahwa para politisi dan pembayar pajak selalu melihatnya sebagai pembiayaan. Mereka tidak menyadari bahwa semakin kaya suatu negara semakin banyak yang harus dibelanjakan untuk profesi seperti guru (2016:168).

Saran saya, daripada melatih guru-guru, langsung saja kirimkan mereka uang. Langsung ke rekeningnya. Terutama guru honorer. Gaji para guru honorer ini menurut Mendikbud berkisar antara 150.000 hingga 1,2 juta rupiah perbulan (Pikiran Rakyat, 11/10/2019). Sedangkan menurut Badan Pusat Statistik (BPS) untuk penghasilan berkisar antara 410.670 sampai 2.017.664 Rupiah masuk kategori orang miskin. Dengan demikian, 984.600 atau hampir satu juta guru honorer ini berada digaris kemiskinan.

Guru honorer bisa dijelaskan dalam filsafat kemiskinan. Tetapi program pelatihan guru-guru selalu mengalami kemiskinan filsafat.

Sumber : Status Facebook Iman Zanatul Haeri

Tuesday, July 28, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: