Kemenangan Sadiq Khan, Diskriminasi dan Islamfobia

Oleh: Ervan Hardoko

Sore hari di akhir Agustus 2012, saya sedang dalam perjalanan menuju bandara internasional Heathrow, London dengan menumpang sebuah taksi.

Pengemudi taksi itu adalah seorang pria asal Kashmir, Pakistan berusia pertengahan 30-an dan memperkenalkan diri sebagai Imran.

Dalam perjalanan menuju bandara itu, Imran banyak bercerita soal dirinya, warga keturunan Pakistan dan Islam.

Dia mengatakan, Inggris dulu sangat mudah dimasuki warga dari India, Pakistan atau Banglades yang ingin mencari penghidupan atau menuntut ilmu.

“Tapi sejak  banyak aksi terorisme dengan mengatasnamakan Islam, banyak warga Pakistan atau Banglades, yang beragama Islam, sulit masuk ke Inggris,” kata Imran.

“Mereka yang mengatasnamakan Islam untuk melakukan kekerasan sebenarnya tidak sedang berjihad.  Sayalah saat ini yang sedang berjihad, karena bekerja menjadi sopir taksi untuk menghidupi keluarga saya,” tambah pria bercambang itu.

Saya mendengarkan sambil mengganggukkan kepala dan sesekali membenarkan semua ucapannya.

Memang sejak tragedi WTC di New York pada 2001 yang disusul pencanangan perang terhadap terorisme oleh Amerika Serikat, Islamophobia  agaknya menjadi wabah di berbagai belahan dunia, khususnya di negara-negara Barat.

Beberapa hari sebelum saya menumpang taksi yang dikemudikan Imran, saya menyempatkan diri berjalan-jalan di Hyde Park, London.

Di salah satu sudut taman itu, saya bertemu sekelompok pemuda berusia 20-an sedang menyebarkan pamflet dan brosur.

Ternyata mereka adalah para pemuda dan pemudi Muslim keturunan Banglades yang berusaha memberi pengetahuan kepada warga Inggris  tentang Islam yang sesungguhnya.

“Kami mencoba memberikan gambaran bahwa Islam adalah agama yang damai dan terbuka sehingga tak perlu ditakuti,” ujar salah seorang pemuda.

Padahal, setidaknya menurut penglihatan saya, di London tak terlihat adanya diskriminasi terhadap minoritas, khususnya umat Muslim.

Masjid-masjid dalam berbagai ukuran bertebaran di kota London. Di ibu kota Inggris itu setidaknya terdapat lebih dari 400 masjid  sedangkan di seluruh Inggris Raya diperkirakan ada setidaknya 1.200 masjid.

Di saat bulan suci Ramadhan, kedai-kedai milik warga keturunan Timur Tengah juga ramai dipadati warga Muslim ketika saat berbuka sudah tiba.

****

Tapi apakah umat Muslim di Inggris Raya sudah 100 persen terlepas dari diskriminasi? Jawabannya tentu saja tidak, apalagi Inggris beberapa kali menjadi sasaran aksi teror yang mengatasnamakan Islam.

Pengeboman bus kota di London pada 7 Juli 2005 yang menewaskan 52 orang tentu tak mudah hilang dari ingatan warga kota itu.

Apalagi, keempat pengebom bunuh diri itu semuanya adalah warga Muslim Inggris, yang berdarah Pakistan dan Jamaika. Motif mereka adalah keterlibatan Inggris dalam perang di Irak.

Serangan lainnya terjadi di bandara internasional Glasgow pada 30 Juni 2007, ketika sebuah jeep berisi tabung-tabung gas propana ditabrakkan ke salah satu terminal di bandara itu dan menimbulkan ledakan.

Dua pelaku adalah Bilal Abdullah, warga Inggris keturunan Irak dan Khalid Ahmed, yang mengemudikan jeep itu.

Keduanya luka parah akibat aksi mereka. Khalid Ahmed meninggal dunia di rumah sakit pada 2 Agustus 2007 dan Bilal Abdullah diadili lalu divonis hukuman penjara selama 32 tahun.

Aksi terbaru di daratan Inggris adalah pembunuhan prajurit Lee Rigby yang tewas dipenggal dua pria di dekat baraknya di Woolwich, London.

Pelaku serangan yang dikecam para tokoh Muslim Inggris itu dilakukan dua pemuda keturunan Nigeria. Motifnya  adalah membalaskan kematian umat Muslim di Timur Tengah yang diakibatkan tentara Inggris.

Jika melihat serentetan aksi berdarah itu maka tak heran jika sebagian warga Inggris, terutama mereka yang tak mengenal Islam dan pemeluknya, langsung dihinggapi Islamophobia.

Pada Januari 2010, Pusat Riset Muslim Eropa di Universitas Exeter, Inggris mencatat jumlah tindak kriminal terkait kebencian terhadap Islam meningkat dalam berbagai bentuk.

Sementara, Kepolisian Metropolitan London memiliki data bahwa angka kejahatan terkait kebencian terhadap Islam menunjukkan angka 8,5 antara 2009-2012. Namun, angka tersebut melonjak setelah pembunuhan prajurit Lee Rigby.

Sepanjang 2014, kepolisian Inggris mencatat 667 seragan berlatar belakang kebencian agama. Angka itu meningkat 60 persen pada 2015.

Sementara itu, Tell MAMA, sebuah organisasi yang memantau Islamofobia di Inggris, mencatat sedikitnya 2.500 insiden terkait Islamophobia terjadi di seluruh Inggris pada tahun lalu.

Masalah ini diperkeruh karena menurut sensus 2001, umat sebagian besar umat Muslim di Inggris Raya masih hidup dalam standar rendah hampir dalam berbagai aspek.

Di sisi lain, tercatat sekitar 10.000 umat Muslim Inggris masuk ke dalam katagori miliarder dan komunitas pengusaha Muslim Inggris juga terus mengalami peningkatan.

****

JUMAT, 19 Desember 2014, di kediaman resminya di Jakarta, duta besar Inggris yang baru, Moazzam Malik mengundang sejumlah media nasional dalam sebuah jumpa pers.

Sehari sebelumnya, Moazzam Malik baru saja menyerahkan surat kepercayaan dari Ratu Elizabeth II kepada Presiden Joko Widodo.

Uniknya,  Moazzam adalah Muslim pertama yang menjadi duta besar di Indonesia, negeri dengan populasi pemeluk Islam terbesar di dunia.

Tentu saja, Kementerian Luar Negeri Inggris tak begitu saja menunjuk Moazzam menjadi duta besar di Indonesia, dengan latar belakangnya sebagai Muslim tentu Inggris ingin mencapai sesuatu di Indonesia.

Namun, saat itu Moazzam mengatakan, terpilihnya dia sebagai duta besar menunjukkan Inggris memberi kesempatan yang sama bagi semua warga negara itu.

"Saya mewakili wajah modern Inggris di luar negeri. Kami ingin menunjukkan bahwa semua bangsa dan ras mendapatkan kesempatan yang sama dan bisa sukses di Inggris," ujar Moazzam.

Dia juga tak melihat agama Islam yang dipeluknya akan menjadi keuntungan tersendiri saat menjalankan tugas di Indo "Bukan keuntungan, tapi bisa menjadi gambaran bahwa kami sangat menghargai latar belakang dan warisan kami. Yang jelas saya adalah seorang diplomat profesional dengan tujuan yang jelas selama bertugas di Indonesia," tambah dia.

Ucapan Moazzam Malik, terkait kesempatan yang setara di Inggris, agaknya terbukti dengan suksesnya Sadiq Khan terpilih menjadi wali kota London pertama yang memeluk Islam.

Seperti ditulis BBC, putra sopir bus berdarah Pakistan itu, juga harus mengalami jalan terjal selama kampanye.

Sebagai minoritas, baik dari sisi etnis dan agama, berbagai serangan kampanye hitam menerpa  pria kelahiran 8 Oktober 1970, termasuk dianggap dekat dengan ekstremisme.

Nyatanya, dalam pemungutan suara, politisi Partai Buruh itu meraup 56,8 persen suara dan saingan terdekatnya Zac Goldsmith dari Partai Konservatif hanya meraup 43,2 persen suara

Kampanye hitam terkait latar belakang agama yang dianut Khan memang muncul, tetapi hal itu ternyata tak memengaruhi sebagian besar pemilih.

 

Sadiq Khan sendiri bukan anak kemarin sore dalam dunia politik Inggris.  Dia sudah menjadi anggota Partai Buruh pada usia 15 tahun. Saat berusia 24 tahun, Khan sudah menjadi anggota majelis di sebuah kawasan yang didominasi Partai Konservatif.

Saat menjadi menteri dalam kabinet pemerintahan PM Gordon Brown, Khan adalah Muslim pertama yang hadir dalam rapat kabinet. Jadi untuk masalah politik tak ada masalah dengan Khan.

AFP Infografik Sadiq Khan

Pertanyaannya, apakah terpilihnya Sadiq Khan sebagai wali kota London juga akan menghentikan diskriminasi dan Islamofobia?

Sesuai janjinya untuk menjadi wali kota bagi seluruh warga London, maka kemenangan Khan bukan monopoli warga Muslim Inggris, khususnya London.

Bahkan dalam beberapa hal, sejumlah pernyataannya bertentangan dengan keyakinan umat Muslim, misalnya Khan secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap pernikahan gay.

Gayanya yang tenang dalam menghadapi serangan kampanye hitam mendapat banyak pujian termasuk dari komunitas umat Yahudi Inggris.

Sebagian warga London memahami bahwa kekuatan kota itu adalah dari keberagaman penduduknya, dan bahwa minoritas harus dihormati bukan dieksploitasi atau diabaikan.

Walau begitu, terpilihnya seorang Muslim sebagai wali kota London tak serta merta mengakhiri Islamofobia di Inggris namun setidaknya untuk saat ini memberikan secercah harapan. **(ak)

Sumber: kompas.com

 

Sunday, May 8, 2016 - 11:30
Kategori Rubrik: