Kemenangan Mahathir, Penyemangat atau Ancaman bagi Oposisi?

Oleh: Aldie Al Kaezzar

 

Kubu oposisi di Indonesia terlihat semangat menyambut kemenangan PM baru Malaysia, Dr. Mahathir. Senang karena posisi Mahathir sebagai oposisi yg menang melawan petahana, Najib Razak. Harapannya, kemenangan oposisi di Malaysia bisa "menular" di Indonesia 2019.

Berharap tentu sah saja. Tapi tanpa melihat situasi kiri kanan di sana, jangan-jangan malah jadi bumerang pehape semata. Yang perlu dipertanyakan adalah apa kemenangan Mahathir mengejutkan? Kalau menurut saya hal ini sangat tidak mengejutkan.

 

 

Ada beberapa faktor yg begitu menguntungkan Mahathir sebelum memasuki arena tarung pemilu kemarin:

1. Najib sempat tersandung kasus dugaan korupsi 1MDB. Terlepas dr putusan pengadilan terakhir yg menyatakan tidak bersalah, namun sulit dipungkiri kalau citra negatifnya sudah kadung meluas ke penjuru negeri. Apalagi ditambah rasa tidak percaya kepada netralitas pengadilan, tentu semakin memberatkan posisinya. Tak sampai situ, berita miring tentang gaya hidup glamor sang istri jg menimbulkan sentimen negatif di mata masyarakat. Hal ini jelas bukan faktor yg menguntungkan. Padahal Najib jg bukan tanpa karya. Di periodenyalah perpanjangan rute LRT dilakukan plus dimulainya pembangunan MRT beberapa tahun silam.

2. Mahathir punya pengalaman sukses sebagai PM, dan bahkan penyandang jabatan PM terlama yg pernah dimiliki Malaysia. Ia menjabat selama 5 periode berturut-turut sejak 1981-2003, lebih dari 22 tahun beliau memimpin Malaysia. Secara pengalaman, tentu tidak diragukan lagi.

3. Mahathir adalah inisiator di balik proyek Proton sebagai mobnas. Sirkuit Sepang yg sempat ditentang karena dibangun pd periode krisis moneter pun merupakan inisiatifnya. Di eranya jugalah LRT dan Monorail dibangun sebagai sarana transportasi publik. Jalan tol Utara-Selatan sepanjang 700 km lebih, dibangun sejak 1981-1994 dan diselesaikan di bawah rezimnya. Tak lupa, Petronas Twin Tower, yg kemudian menjadi ikon kebanggaan negeri semenanjung melayu sekaligus sebagai tujuan wisata dunia, juga terlahir di bawah kepemimpinannya.

Singkatnya, pria yg dikenal dengan julukan Dr. M ini punya modal yg lebih dr cukup untuk kembali maju. Pengalaman dan bukti kinerja. Gencarnya pembangunan infrstruktur di Malaysia pada periodenya membuat ia digelari sebagai Bapak Modernisasi Malaysia. Tentu saja banyak kontroversi dan kritik seputar dirinya, tp ini persoalan lain. Satu hal yg pasti, Mahathir maju kembali tidak hanya bermodal kharisma atau janji. Ini penting dicatat.

Sekarang jika ditarik ke pilpres 2019. Adakah figur oposisi yg mirip dengan latar belakang Mahathir? Prabowo? Gatot? Aher? TGB? Saya pribadi malah melihat banyak kemiripan dengan calon kubu petahana, Jokowi. Sederet bukti pembangunan infrastruktur dan pengalaman dalam memimpin adalah kesamaan penting yg tak terbantahkan.

Sebetulnya, dr sederet rumor kandidat lawan, nama TGB dan Aher mungkin yg paling dekat. Namun sejauh ini, hanya kemiripan rekam jejak yg relatif bersih yg bisa dibandingkan dengan Jokowi. Masalah kinerja, bukti pembangunan, adakah bisa disandingkan dengan pencapaian Mahathir atau Jokowi? Bagaimana kemajuan infrastruktur dll secara umum di NTB dan Jabar? Silahkan dinilai masing-masing.

Berharap tertular kemenangan Mahathir sebagai oposisi atas petahana tentu sangat boleh dan wajar. Apalagi untuk sekedar menyuntik moral setelah hasil survey yg mayoritas tidak menyenangkan bagi kubu oposan. Tapi, apakah kemenangan itu sebaiknya disikapi kubu oposisi sebagai penyemangat atau malah sebaliknya, peringatan? Tentu tidak bisa diukur dr sekedar kesamaan status oposisi saja. Karena matematika politik tidak pernah segampang itu.

Apalagi berita seputar Jokowi, entah itu tentang masifnya pembangunan atau cerita tentang kesederhanaan dan kedekatannya dengan rakyat, juga sampai ke telinga warga Malaysia. Sehingga pujian dan apresiasi bukan cuma sekali dua kali dilontarkan. Jangan-jangan semangat pembaruan yg mereka inginkan terinspirasi jg dr kisah seputar Jokowi dan keluarganya?

Jadi, alih-alih sebagai penyemangat, justru kubu oposisi sebaiknya melihat ini sebagai peringatan. Ya, ini bisa jadi kode keras. Karena di negara tetangga, ternyata masyarakat lebih menyukai figur yg telah memiliki bukti pengalaman dan kinerja yg jelas.

Dan figur itu memang sudah ada di salah satu kandidat, sayangnya bukan sebagai oposisi, melainkan petahana, si tukang kayu, Joko Widodo.

 

(Sumber: Facebook Aldie Al Kaezzar)

 

Friday, May 11, 2018 - 15:00
Kategori Rubrik: