Kembali ke Palestina dan Yaman

Oleh: Dina Sulaeman

 

Dalam sebuah diskusi publik di Bandung tentang Palestina (14/12), ada yang bertanya, “Apa kemungkinan akan terjadi selanjutnya? Apakah akan ada perang?”

Waktu itu, Trump baru saja mengumumkan pengakuan AS atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel dan kecaman dari masyarakat dunia sangat kuat, termasuk dari Presiden Indonesia, Joko Widodo.

 

 

Jawaban saya, kurang lebih, “Para pejuang Palestina di Gaza sudah menyatakan siap berperang; Iran dan Hizbullah sudah menyatakan siap sepenuhnya mendukung. Tapi apakah akan terjadi perang? Prediksi saya, TIDAK. Israel SANGAT TAKUT berperang all out seperti itu. Anda pernah lihat kan, di medsos sering tersebar foto-foto tentara Israel yang sedang menangis? Saya perkirakan akan ada upaya diplomatik tertentu, untuk menganulir masalah ini, entah apa, tapi yang jelas, perang tidak akan terjadi dalam waktu dekat.”

[Intermezzo sebentar. Dalam Sidang Umum PBB, hanya 8 negara (termasuk Israel) yang setuju dengan langkah Trump. Ada 8 negara + 1 AS, jadi total 9 negara yang berada di kubu AS. Lucunya, banyak ZSM menyebar tulisan: ada 10 negara yang mendukung, dan itu konon sesuai dengan ayat Alkitab yang menyebutkan bahwa pendukung Israel hanya 10 orang. Ternyata ZSM yang terlihat (sok) intelek itu hobi cocoklogi ayat juga yah, apesnya, salah data pulak.]

Ternyata perkiraan saya benar. Ada SESUATU yang terjadi, yang dalam sekejap mengalihkan perhatian dunia dari Palestina. Apa itu? Kerusuhan di Iran. Jleb. Langsung pemberitaan media dunia memblow up kejadian ini secara masif.

Para ZSM pun yang biasanya setia pada Israel, mendadak jadi ‘Persian Spring expert’ semua. Ajib kan, kok bisa orang-orang rasis kelas dewa (menganggap Israel berhak membunuh dan mengusir orang Palestina, demi ‘tanah yang dijanjikan Tuhan’ untuk kaum Yahudi) tiba-tiba cinta rakyat Iran (yang mayoritas muslim Syiah) dan giat menyuarakan ‘aspirasi’ mereka. Eh, ada yang bawa-bawa Alkitab juga lho, untuk menjustifikasi keanehan ini.

[Selingan : daripada 'ngaji' sama ZSM, lebih baik follow Fanpage-nya Pak Felix Irianto Winardi, beliau ini alumni Seminari, aktif memberikan klarifikasi atas ayat-ayat Alkitab yang sering dimanipulasi oleh ZSM].

Terus-terang, demo rusuh di Iran itu benar-benar bad timing. Pemilihan waktunya buruk sekali. Kok nekad bikin demo hanya 2 hari sebelum demo besar-besaran pro-pemerintahan Islam [Islamic Establishment, istilah media Iran], yaitu Demo 9 Dey?

Aksi Demo 9 Dey (30 Desember) adalah demo mengenang keberhasilan pemerintah Iran menggagalkan agenda penggulingan “rezim” tahun 2009 (yang di-back up CIA). Justru kerusuhan tanggal 28-29 Des malah membangkitkan nasionalisme dan sentimen anti-asing rakyat Iran, sehingga yang datang dalam Demo 9 Dey ini pun jauh lebih membludak dari tahun-tahun sebelumnya. Hanya sepekan, aksi para perusuh pun dinyatakan gagal total oleh Komandan Garda Revolusi Iran.

Bad-timing inilah indikasi kuat bahwa memang eksekusi aksi ini terburu-buru, karena kondisi Israel semakin kritis (perang all out di ambang mata, sementara dukungan negara-negara dunia kepada AS-Israel turun ke titik terendah).

Perlu diketahui, sebagian besar rakyat Iran itu ya, termasuk emak-emaknya, sangat sadar geopolitik. Jadi ketika ada demo yang anarkhis, bahkan ada provokator merobek dan membakar bendera, menembaki warga sipil, melempar bom molotov, mereka langsung paham, ada pihak luar lagi yang sedang mengacau. Jadilah mereka turun ke jalan besar-besaran, menunjukkan dukungan kepada pemerintahan Islam, tgl 30 Des 2017 dan, 3,4,5 Jan 2018. Lihat penjelasan dan video yang saya posting kemarin. [1]

Di judul saya juga cantumkan “Yaman”. Kenapa? Ya karena Yaman adalah ‘medan perang yang terlupakan’, selalu ada saja yang mengalihkan perhatian dunia dari penderitaan mereka. Umat Muslim (terutama yang pro-Saudi) pun enggan bersuara, karena penjahat di konflik Yaman adalah Arab Saudi.

Sudah 3 tahun, Yaman dibombardir hampir setiap hari oleh Saudi. Saudi bahkan memblokade Yaman sehingga bantuan makanan dan obat-obatan tidak bisa masuk. Menurut UNICEF, saat ini ada 400.000 anak-anak Yaman yang mengalami malnutrisi sangat akut (severe acut malnutrition). Belum lagi kalau bicara angka lainnya: kematian, kolera, putus sekolah, dll.

AS yang biasanya suka prihatin kalau ada ‘pemimpin yang melakukan kejahatan kemanusiaan’ dan selalu merasa berkewajiban menggulingkannya, kali ini malah berdampingan dengan Saudi untuk menghancurkan Yaman (dan catat: Israel juga membantu Saudi dalam menyerang Yaman).

Jadi, bila benar Anda peduli kemanusiaan, biarkan sajalah orang Iran dengan dinamika politik internalnya.

Sungguh aneh kalian demikian peduli pada nasib orang Iran (yang sebenarnya baik-baik saja), tapi abai pada nasib bangsa Palestina dan Yaman.

--
Foto: anak-anak TK di Persepolis, Shiraz, Iran, Nov 2017 (foto kolpri)

 

(Sumber: Facebook Dina Sulaeman)

Wednesday, January 24, 2018 - 06:00
Kategori Rubrik: