Kematian adalah Rahasia

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Kematian, mungkin saja hanya bisa dirasai yang tidak menjalaninya. Kata mungkin dipakai di sini, karena belum pernah kita berhasil menginterview yang mati. 

Padahal, kita boleh menduga, tidak bolehkah orang yang sudah meninggal berbincang-bincang dengan kita? Bagaimana cerita orang yang mengalami kebangkitan, sebagaimana Yesus? Bagaimana orang yang mengalami mati suri? Atau bahkan telah dikubur, tapi beberapa detik kemudian bangun dari kuburnya?

 

Maka, begitu mengharukannya, ketika mendengar doa-doa sahabat kita jika melihat sahabat yang lain dalam kondisi sakit, sakit parah atau karena uzur. Semoga disehatkan, diberi kekuatan, umur panjang. Tak ada yang mendoakan agar menghadapi biasa saja, bahkan sekiranya tiba-tiba mati. Itu tidak beradab.

Tapi siapa yang kuasa menolak lahir dan menolak mati? Wong Jawa dengan fatalistik bisa bilang; Mung sakderma nglakoni. Karena hidup sudah ada yang mengatur. Maka karena banyak yang diatur, Gusti Allah Ora Sare. Merga nek sare titik-titik.

Beberapa kali menghadiri pelayatan atau ziarah kubur teman dan saudara, kadang muncul rasa takut; Gimana kalau saya mati? Sudah melakukan apa saya? Belum melakukan apa saya? Bagaimana orang-orang yang saya tinggalkan? Selamatkah mereka? Kuatkah mereka? Atau lebih lega dan bahagia sepeninggal saya?

Dengan brengseknya Joseph Stalin pernah berujar, "Kematian adalah solusi untuk semua masalah. Tidak ada orang, tidak ada masalah." Persis yang diomongkan Ali, anaknya Pak Thalib, betapa melelahkan berurusan dengan manusia. Manusia yang hidup tentunya. Apalagi yang lagi jadi Presiden, jadi Menteri Agama, jadi anggota DPR, juga bagi yang lagi jadi penyair atau teaterawan.

Saya nggak ngerti, apa yang dimangsud Abu Hamid Al Ghazali, yang pernah bilang bahwa menuntut ilmu adalah taqwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad. Saya nggak ngerti. Cuma pernah membacanya. Terus apa hubungannya dengan utang-utang yang belum terbayar?

Di pucuk cungkup jati yang lamus, seolah ada benang tipis nyundul langit. Dan Khalil Gibran yang Kristen itu berbisik-bisik; Your daily life is your temple and your religion. Dan saya tidak takut mati. Meski Gus Mus lebih ingin mendirikan Pasukan Berani Hidup, daripada Pasukan Berani Mati.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Saturday, November 30, 2019 - 13:00
Kategori Rubrik: