Kemas Ulang

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Beberapa teman ustadz sering mengeluh kepada saya tentang habisnya ide untuk menulis buku. Ide apa lagi ya yang sekiranya belum ditulis orang.

Kadang keluhan itu dijadikan alasan untuk tidak menulis. Alasannya, percuma saja menulis apa-apa yang sudah ditulis orang lain. Dalihnya nanti kita dituduh melakukan plagiarisme alias menjiplak karya orang.

Ah, ente banyak akal buat ngeles saja.

Biasanya saya menjawab bahwa menulis ulang apa yang sudah pernah orang tulis itu sama sekali tidak keliru, juga tidak salah. Sebab yang kita tulis adalah apa yang merupakan hasil tulisan kita sendiri, dimana pastinya tidak akan sama dengan yang sudah orang lain tulis.

Lain halnya ente copy paste 100%, termasuk covernya juga dicopas begitu saja, cuma diganti penulis dan penerbitnya. Nah itu memang kriminal. Itu plagiarisme sejati.

Coba lihat saja kitab tafsir, tiap waktu selalu terbit karya-karya terbaru dan tidak pernah kering. Padahal yang dibicarakan itu-itu saja, cuma Al-Quran yang 30 juz itu. Kitab yang sudah ada sejak 14 abad yang lalu. Tapi coba telusuri sepanjang sejarah kita bergelimang dengan karya para ulama.

Atau . . .

Tidak usah jauh-jauh lah. Pernah nonton film Spiderman kan? Bersequel-sequl itu jumlahnya. Versi yang lama masih bisa kita tonton, ternyata muncul lagi versi yang lebih baru. Kisahnya sama persis, pemuda digigit laba-laba lalu berubah jadi superhero melawan berbagai makhluk aneh-aneh.

Versi lama dan versi baru sama-sama kita tonton, dan asyik-asyik saja. Malah bintangnya di versi terbaru katanya sudah mengundurkan diri, mau diganti lagi dengan bintang baru lagi. Saya melihat ini adalah upaya memainkan film lama dengan metode kemas ulang.

Film klasik Mission Imposilbe itu saya tonton di TVRI ketika masih hitam putih dan belum ada sub titelnya. Sepanjang film cuma dengerin orang bulte ngobrol dan tidak paham juga. Yang ditunggu cuma aksi gedebak-gedebuknya doang.

Eh, tiba-tiba Tom Cruse muncul di layar lebar jadi Ethan Hunt, yang melawan bosnya sendiri, Jim. Tokohnya itu-itu juga, tapi ceritanya dibikin lebih bervariasi. Inikan sebenarnya upaya untuk mengemas ulang.

James Bond karya asli Ian Fleming sepanjang film layar lebarnya selalu punya beberapa pemeran, baik Roger Moore ataupun Sean Conery, malah pernah juga diperankan oleh Timothy Dalton, lalu masuk era Pierce Brosnan.

Ternyata giliran yang main Daniel Craig, penampilannya jadi berubah total. Mr. Bond tidak ganteng lagi, tidak flamboyan, tidak lagi tomboy, malah sadis, garang, dan musuhnya justru atasannya sendiri, MI-6.

Jadi tidak mengapa kalau menulis buku dengan tema-tema yang lama yang sudah akrab di telinga orang, yang penting dikemas ulang.

Justru kalau tema lama itu lebih menguntungkan, karena orang sudah akrab sekali dengan tema itu. Yang ditunggu tinggal variasi dan kemasan ulangnya saja.

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Friday, May 8, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: