Kemaren Bully Jokowi Antek China, Sekarang Bela China

Oleh: Muhammad Jawy
 

Berawal dari pemberitaan di MetroTV (25/6) tentang kapal perang China yang melewati Selat Malaka, yaitu Frigate FFG-571, kapal selam SSN-409, dan tender kapal selam ASR-863, maka kalangan kaum 2D yang gemar cocokologi langsung bersorak gembira. Seolah mereka sekarang punya jawaban,

"Ini lho jawaban China atas aksi Presiden kemarin di Natuna! Mereka tidak takut!" (Sudah ada beberapa media 2D yang memuat hal ini, seperti rofiqmedia, posmetro, dll )

Sikap kaum 2D ini memang menggelikan. :D

PERTAMA, ini menunjukkan bahwa mereka betulan lebih membanggakan China ketimbang sikap tegas Indonesia. Satu langkah sebelum resmi menjadi pengkhianat bangsa dan menjadi antek bangsa lain. Sepertinya apapun akan mereka lakukan untuk mendelegitimasi kebijakan dari Presiden.

KEDUA, tujuan aksi simbolis Presiden di Natuna kemarin, BUKAN untuk membuat TAKUT negeri CHINA (atau juga negeri lain), tetapi memberi TAHU:

"Siapapun kapal nelayan yang mencuri ikan atau kapal lain mencuri kekayaan alam, siap-siap akan mendapat pelajaran dan penghajaran seperti yang diterima oleh kapal-kapal pencuri sebelumnya. Kalau ada kapal pemerintah negeri lain yang menghalangi, siap-siap berhadapan dengan TNI-AL"

Harapannya adalah mereka mengedukasi nelayannya, dan melengkapi navigasi kapal yang dipakai nelayan, jangan sampai mengambil ikan di laut Indonesia, termasuk ZEE.

KETIGA, mereka memang belum tahu kalau dari dulu Selat Malaka (& Selat Singapura) itu memang sering dilintasi baik kapal dagang atau kapal perang dari berbagai negara, karena statusnya menurut hukum laut internasional sebagai TRANSIT PASSAGE/ Lintas Transit.

Lintas Transit ini adalah jalur internasional yang harus dipelihara oleh negara yang punya selat, sehingga selalu lancar untuk dilintasi kepentingan internasional. Dalam hal ini lintas transit Selat Malaka & Singapura dikelola oleh Indonesia, Malaysia dan Singapura. Dan kita TIDAK BISA menghalangi kapal negara manapun untuk lewat, kecuali syarat dan kewajibannya tidak dipenuhi sesuai dengan hukum laut.

Bahwa TNI-AL harus selalu waspada, tentu, tapi tentu jangan menyikapinya berlebihan seperti kaum 2D.

Meskipun dalam satu pendapat kapal selam tidak harus ke permukaan, kita bisa lihat kapal selam milik China itu melayari Selat Malaka di permukaan, termasuk memasang bendera China, sehingga mudah ditracking oleh TNI-AL kita (dan juga Malaysia serta Singapura).

Next issue please.....

AM_Al-Jawy

Referensi:

http://news.metrotvnews.com/…/nbwdP85k-kapal-perang-kapal-s…

https://hukummaritim.wordpress.com/…/…/2-hak-lintas-transit/

 

(Sumber: Facebook Muhammad Jawy)

Monday, June 27, 2016 - 05:30
Kategori Rubrik: