Kemanusiaan Ala Tifatul Sembiring

Oleh: Made Supriatma

Menjadi Manusia: Saya selalu mengukur kemanusiaan seseorang ketika dia mengalami benturan yang paling keras dalam hidupnya. Mungkin itu benturan secara fisik. Misalnya, orang normal yang kemudian kehilangan anggota badannya. Saya memberi nilai tinggi kepada mereka yang bisa menerima keadaannya dan kemudian melanjutkan hidupnya dengan riang gembira dan bahkan berguna untuk manusia lain. 

Saya pernah menemui orang yang kehilangan tangan dan kakinya namun tidak pernah merasa kurang sesuatu apapun tanpa tangan dan kaki itu. Dia selalu menebar kegembiraan pada siapapun yang dijumpainya. Dia bekerja sekeras yang dia bisa. Saya jatuh hormat kepada manusia seperti itu. Dia membuat saya melihat keutuhan fisik saya sendiri secara lebih jernih. 

Yang kedua adalah benturan secara kejiwaan. Saya menghormati kemanusiaan seseorang ketika dia harus bersikap terhadap sesuatu yang dengan keras membenturkan keyakinannya. 

Saya sangat paham ketika keyakinan religius seseorang harus berhadapan dengan penemuan mutakhir manusia tentang alam semesta. Tentulah dia dibikin sangat rendah hati karena semua temuan itu bertabrakan dengan keyakinannya. 

Saya menghargai manusia yang sangat yakin akan adanya Tuhan namun terus bergulat mencari makna dihadapan semua bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Tuhan itu tidak ada (non-existent). Kemanusiaannya muncul ketika dia dengan rendah hati mengakui ketiadaan itu namun disisi yang lain dengan teguh terus menerus mencari Tuhannya. 

Saya melihat kemanusiaan yang tinggi ketika orang yang sangat percaya pada kitab sucinya namun harus berhadapan dengan kenyataan yang amat berlainan. 

Orang yang seperti Ahmad Wahib, yang bertanya, akankah Allah memasukkan teman-temannya yang pastur, yang beragama berbeda dengan dirinya, ke neraka? 

Seorang yang sangat taat beragama namun sekaligus mau menerima sahabat yang menikah dengan sesama jenisnya. Jelas, orang yang demikian ini dengan rendah hati mengakui bahwa keyakinannya tidak mampu memahami cinta yang diberikan satu sama lain oleh pasangan sesama jenis itu. 

Dilihat dengan cara demikian, Sodara-sodara tentu bisa menebak, kemanusiaan macam apa yang dimiliki oleh orang yang mempublikasikan kutipan dalam gambar di atas.

 
(Sumber: Facebook Made Supriatma)
Saturday, February 27, 2016 - 22:00
Kategori Rubrik: