Kemana Jakarta Harapan Kita?

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Saya tidak ingin latah ikut-ikutan bilang "waGabener". Tapi kalau lihat kebijakan-kebijakannya yang belum genap 100 hari ini, wajar jika kita sebut WAGABENER.

Setidaknya tiga hal membuat kita warga luar Jakarta ikut berbicara.

Pertama, Jakarta adalah etalase Indonesia, karena ia Ibu Kota Negara. Kita sebagai warga negara berharap banyak pada Ibu kota. Namanya Ibu Kota ya milik kita semua warga negara.

Kedua, sebagian APBD Jakarta dari negara, hasil dari pajak-pajak kita semua. Jadi salah kalau ngomong Jakarta adalah semata urusan warga Ibu Kota.

Ketiga, tidak banyak kota yang pernah dan sedang mempunyai Walikota, Bupati, Gubernur atau Wakil Gubernur yang berkarakater, visioner, cerdas, teruji, jujur.

Biasanya dicirikan dengan percepatan pembangunan, mempunya projek prioritas sekaligus penanganan kemiskinan, kepuasan warga yang di pimpinnya.

Tidak banyak pemimpin yang luar biasa seperti Gubernur yang pernah memimpin Jakarta sebelumnya, sebut saja Nurdin Abdullah Bupati Bantaeng, Risma Walikota Surabaya, Ridwal Kamil Walikota Bandung, Yoyo mantan Bupati Batang, Abdullah Azwar Anas dari Banyuwangi Jawa Timur.

Kebanyakan, pejabat yang berusaha terlihat baik di publik dengan mengorbankan rakyat (pns)nya (Seperti Buapti Kabupaten yang punya 2 Bendungan PLTA di Jabar), atau seperti Gubernur Jambi yang sok-sokan inpeksi memarahi dokter malam-malam tapi sekarang terindikasi terlibat permainan anggaran.

Pemimpin berkarakter tempaan waktu, keluarga dan pendidikan yang berhasil. Sosoknya langka, jika kita menemukannya selayaknya kita dukung kita jaga.

Sekarang kita telah kehilangan harapan di Jakarta, untuk satu atau beberapa periode berikutnga dari good governance kita kembali ke sistem jahiliah era-era sebelumnya.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Sunday, December 10, 2017 - 19:45
Kategori Rubrik: