Keluhuran Akhlaq Kiai NU

Oleh: Saefudin Achmad

 

Salah satu akhlak yang mulia adalah meminta maaf jika melakukan kesalahan dan memberi maaf jika ada yang meminta maaf. Sekilas meminta maaf dan memberi maaf itu mudah, tapi kenyataannya tak semua orang bisa meminta maaf dan memberi maaf. Pasalnya, ada orang yang tipenya merasa selalu benar dan tidak mau mengaku salah. Orang seperti ini sangat berat untuk meminta maaf. Mau bukti?

Sudah ada beberapa kesalahan yang dibuat oleh UAS, seperti menghina salib dan menghina fisik Rina Nose. Tapi apakah kita pernah mendengar UAS meminta maaf? Sama sekali tidak! Dengan kesombongannya, dia justru merasa apa yang dikatakannya sudah benar.

 

Sebaliknya, memberi maaf juga ternyata tak mudah. Orang-orang yang hatinya diliputi kebencian biasanya sangat sulit memberi maaf. Mereka lebih memilih orang yang dibenci itu celaka, dibanding memberi maaf. Meskipun Ahok sudah meminta maaf atas ucapannya yang dianggap menista Al-Qur'an, tapi apakah FPI dan PA 212 mau memberi maaf? Sama sekali tidak. Mereka justru menjebloskan Ahok ke penjara.

Ada yang mengatakan meminta maaf lebih utama dibanding memberi maaf. Orang yang meminta maaf adalah orang yang mau menurunkan ego dan gengsi, serta mau mengakui kesalahan. Tapi menurut saya pribadi, memberi maaf tidak kalah mulia dibanding meminta maaf, terlebih jika mau memaafkan orang yang telah menyakiti, padahal orang tersebut tidak meminta maaf, tentu ini juga sikap yang mulia.

Terkait dengan meminta maaf dan memberi maaf, dalam waktu yang tidak terlalu lama, saya melihat ketinggian dan keluhuran akhlak kyai NU. Pertama, Gus Muwafiq yang tanpa diminta, namun kemudian meminta maaf atas ceramah yang dianggap menghina Nabi. Pun begitu dengan KH. Ma'ruf Amin. Meskipun dikatain "babi" oleh seorang habib palsu di sebuah pengajian, beliau tidak marah, apalagi melaporkan habib palsu tersebut ke polisi. Beliau bahkan memaafkannya.

Meskipun tidak ada pernyataan Gus Muwafiq yang keliru karena semua ada referensinya di kitab-kitab tarikh yang ditulis oleh para ulama, beliau tetap meminta maaf. Beliau menyesal karena ceramahnya membuat situasi memanas, dan ada sebagian ummat Islam yang tidak terima dengan isi ceramahnya. Beliau bahkan berjanji agar lebih berhati-hati lagi saat berceramah.

Gus Muwafiq baru satu kali isi ceramahnya menjadi polemik, namun beliau dengan kerendahan hati langsung meminta maaf tanpa diminta. Bandingkan dengan UAS yang meskipun berkali-kali ceramahnya menjadi polemik, tak pernah sekalipun saya mendengar dia mau meminta maaf. Dari sini terlihat jelas mana yang benar-benar ulama, mana yang memiliki akhlak yang luhur, serta mana yang bisa dijadikan panutan.

Tak lama setelah ceramah Gus Muwafiq viral, tiba-tiba viral juga video lama seorang habib palsu bernama habib Jafar Shodiq bin Sholeh Alattas yang mencaci maki KH. Ma'ruf Amin, bahkan menyebut dengan istilah babi. Menyebut seorang manusia dengan sebutan babi sangatlah merendahkan, apalagi seorang ulama, wakil presiden, serta mantan Ro'is Am PBNU. Hinaan Jafar Shodiq sebenarnya sudah bisa untuk dipidanakan. Namun reaksi KH. Ma'ruf Amin benar-benar luar biasa.

Beliau tidak marah dan emosi. Beliau tidak membalas hinaan Habib palsu Jafar apalagi melaporkannya ke polisi. Beliau bahkan memaafkan Ja'far meskipun dia tidak meminta maaf. Beliau tak mempersoalkan ceramah yang berlangsung saat kontestasi Pilpres 2019 itu. 

Beliau hanya meminta agar Ja'far tak mengulangi lagi ceramah yang menebar permusuhan tersebut. Sudah itu saja permintaannya. Bahkan beliau mendoakan agar Ja'far menyadari bahwa ceramahnya tidak baik dan bisa mengubah cara bernarasi, agar lebih baik. Beliau meminta agar Ja'far bisa belaja dari kesalahannya sehingga bila menyampaikan ceramah tidak menyampaikan narasi permusuhan dan kebencian antarsesama warga negara.

Saya pikir apa yang dilakukan oleh Gus Muwafiq dan KH. Ma'ruf Amin benar-benar bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi ummat Islam di Indonesia. Keduanya bisa menjadi suri tauladan yang baik. Dari Gus Muwafiq, kita belajar agar mau mengakui kssalahan, dan tidak segan-segan untuk meminta maaf. Meminta maaf sama sekali tidak akan menurunkan harga diri. Mau meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat justru meningkatkan derajat kita.

Dari KH. Ma'ruf Amin kita belajar untuk mau memaafkan siapapun yang berbuat salah kepada kita, baik dia meminta maaf atau tidak. Mau memberi maaf adalah implementasi dari salah satu asmaul husna, yaitu Al-Ghoffar (Dzat Yang Maha Mengampuni) dan Al-'Afwu( Dzat Yang Maha Memberi Maaf). Jika Allah saja Maha Mengampuni dosa hamba-Nya dan Maha Pemaaf, lalu kenapa terkadang makhluknya malah berat sekali untuk mengampuni dan memaafkan?

 

(Sumber: facebook Saefudin Achmad)

Sunday, December 8, 2019 - 22:15
Kategori Rubrik: