Keluarga

ilustrasi

Oleh : Iwan H Suriadikusumah

Dalam keluarga besar kami istilah broken-home sama sekali bukan hal yang asing. Bahkan sangat akrab tidak saja di telinga, melainkan juga dalam kehidupan nyata.

Kakek dari pihak ayah bercerai dengan nenekku, isterinya yang pertama. Lalu menikah dengan isterinya yang ke dua sampai saat meninggal beliau.

Dari pihak ibu, nenekku meninggal saat ibuku baru berusia 2 tahun. Lalu Opa menikah lagi sampai saat Jepang menduduki Indonesia, jadi tawanan perang dan dikirim ke Burma untuk kerja-paksa sampai saat meninggal dan dimakamkan di negara yang sekarang bernama Myanmar itu.

Orang-tua kami bercerai saat ibu berusia 37 tahun. 
Beranak enam, Ibu pergi dari rumah peninggalan kakek memboyong kami anak-anaknya untuk tinggal di kontrakan berupa tiga ruang gudang/ spen di bagian belakang sebuah rumah besar di sebuah sudut perempatan kota kami.

Kontrakan yang berada di daerah cukup elite dikota kami itu menyamarkan keadaan kami yang sesungguhnya hanya tinggal di bagian gudangnya.

Uang pembayar kontrak buat satu tahun itu hasil menjual barang-barang dan furniture kami ke sebuah rumah-lelang.

Ha ha haaaaa......, sebuah ironi dalam hidup yang harus kami jalani, saat aku baru naik ke kelas 3 SMA. Sedangkan adik bungsu masih duduk di kelas empat SD. Entah di mana kami akan tinggal setelah satu tahun itu.

Ibuku yang hanya sempat duduk di kelas dua SR sebelum masuk kamp interniran Jepang sampai Jepang kalah perang, kemudian menikah dalam usia sangat muda dengan ayah adalah jangkar, guru dan panutan dalam hidup ini.

Dengan serba keterbatasannya, perempuan sederhana yang cantik tapi luar-biasa berani, percaya-diri dan perkasanya ini bagaikan mercu-suar yang menerangi hidup kami semasa diombang-ambing badai kehidupan.

Perempuan cantik, cerdas dan berani inilah yang menjadi standar kriteriaku dalam menentukan pasangan hidup kemudian.

Aku diingatkan kembali proses ini ketika sosok perempuan bernama Iriana, Ibu Negara kita sekarang ini muncul ke permukaan.

Pribadinya, spontanitasnya, kekuatan batin yang tersembunyi di balik kesederhanaannya sungguh mengingatkanku akan sosok perempuan di masa laluku itu .

Berbahagialah lelaki yang telah mempersuntingnya.
Berbanggalah kita, yang memiliki beliau sebagai Ibu Negara kita.

Iriana adalah Ibu Negara yang diidamkan setiap warganegara,di bagian manapun di dunia ini.

Semoga Allah selalu melindungi keluarga teladan ini.
Amin.

Pamulang, 3 Februari 2019
Sumber : Status Facebook Iwan H. Suriadikusumah

Tuesday, February 5, 2019 - 12:15
Kategori Rubrik: