Kelompok Intoleran Hanya Baca Teks Tanpa Kroscek

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Kita membaca berita dari beragam media. Sehingga punya kesempatan untuk mengecek akurasi dan membandingkan fakta-fakta.

Sedangkan saudara kita, -jika boleh kita sebut simpatisan Prabowo, simpatisan wahabi, simpatisan HTI, alumni 212, simpatisan PKS, Muhammadiyah Garis Keras atau sebutan lainnya-, membaca berita hanya melalui kanal-kanal yang disediakan oleh - diantaranya orang-orang bayaran-, kelompok mereka sendiri, sebut misalnya saracen.

Karena mereka tidak mempercayai sumber lain diluar kelompok mereka, misalnya Kompas, bahkan ada media yang mereka pelesetkan jadi metro tivu. Program acara juga bisa mereka musuhi jika berhasil membongkar kebobrokan idola mereka.

Rekaman di Youtube atau di facebook yang terbukti memberikan fakta yang tidak bisa mereka bantah, untuk menjaga pengikutnya agar tetap bahlul dan buta informasi, mereka adukan ke pihak youtube atau fb agar konten di hapus bila perlu akunnya di suspend.

Jadi meskipun ketua BEM atau Profesor sekalipun susah bisa disembuhkan dari pengaruh negatif Hoax, terutama tentang 'ketidak becusan" Jokowi dalam memimpin, dan heroisme Prabowo, yang entah dalam hal apa.

Jadi tidak perlu ada bukti Alexis di tutup, yang penting ada kata-kata. Karena mereka tidak pernah mengecek bukti nyata.

Dari kata-kata, bukan "kerja, kerja, kerja", lahirlah "Gubernur rasa Presiden. Tanpa peduli beneran kerja atau tidak.

Ini sebenarnya menciptakan kubu dan yang membuat kita tidak bisa bertemu. Kecuali jika Prabowo menjadi Calon wakil Presiden Jokowi.

Pertenyeennye, mana mungkin Jokowi mau?

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Tuesday, February 6, 2018 - 16:15
Kategori Rubrik: