Kelompok Haters Adalah Penyakit Sosial Yang Menular

Oleh : Hanny Setiawan

Demokrasi digital sudah hadir dengan segala kebaikan dan keburukannya. KawalPemilu.org, Jasmev, WikiDPR.org, sampai TemanAhok.com hanyalah sebagian contoh bagaimana demokrasi digital atau politik digital dalam lingkup lebih kecil harus mulai dipelajari dan diperhitungkan.

Salah satu keburukan dari demokrasi digital percepatan penularan kebencian terhadap masyarakat oleh kelompok haters. Saya menyebutkan hanya kelompok haters karena kelompok lovers, pendukung, simpatisan bukanlah penyakit karena mereka menyebar kebaikan.

Kelompoak haters ada tidak hanya di dunia maya, didunia asli kita mengenal banyak kelompok-kelompok pembenci yang biasanya bersangkutan dengan SARA. Ada kelompok Nazi yang sangat membenci orang Yahudi, mirip dengan kelompok anti-zionis. Ada juga kelompok benci orang hitam seperti Ku-Klux-Klan dengan simbol-simbol salib. Ada juga kelompok pembenci LGBT yang justru membuat kelompok minoritas ini bangkit dan menjadi kekuatan laten.

Intinya, kebencian itu hadir bukan karena digital, tapi karena memang itu bagian dari penyakit sosial yang sama tuanya dengan perzinahan, pencurian, penipuan, dan lain sebagainya. Kehadiran teknologi digital hanya berperan mempercepat penularan.

Benar, Anda tidak salah baca. Kebencian itu menular! Kebencian bisa berganti obyek yang dibenci tapi sifat menularnya itu tetap. Jokowi haters, Ahok haters, Prabowo haters, LGBT haters, sampai kepada Islamphobia, Kristenphobia, Hinduphobia, dan yang lain-lain. Semua itu disadari atau tidak adalah PENYAKIT MENULAR. ***

Jack Scafer P.hd mengembangkan apa yang disebut the saven-stage hate model sebuah model untuk menerangkan psikopat kebencian. Sangat menarik untuk disimak dan dipelajari sehingga sebagai pelaku demokrasi digital yang aktif, netizen tidak terjangkit wabah kebencian.

Indikasi awal pembenci baik itu karena di-setting (dibayar) atau karena benci secara natural adalah seluruh energi didedikasikan untuk satu obyek semata. Bagi blogger bisa dicek 10 artikel terakhir apakah menulis hal yang sama dan ditujukkan untuk menjelekkan, mengkritik, mencari kesalahan obyek tersebut.

 Ketidaknormalan terjadi diawal penyakit ini ketika kita selalu membicarakan, menuliskan, meneliti, bahkan dalam kasus tertentu sampai mengabadikan dengan foto atau video obyek yang kita tidak sukai. Manusia normal akan membicarakan dan tertarik dengan apa yang kita sukai, bukan dengan apa yang kita benci. Camkan itu, itulah awalnya.

Dari ketidaknormalan itu, menurut Jack Scafer di Psychology Today, para pembenci obyek yang sama akan berkelompok dan kemudian dengan cepat akan memiliki identitas kelompok. Kelompok ini kemudian meremehkan (disparage) dan menghina (taunt) obyek atau target kebencian. Bahasa jawanya suka ngenyek (menghina) dan sangat nylekit (menyakitkan).

Setelah sampai stadium akut haters bisa menyerang baik dengan atau tidak dengan senjata bahkan sampai merusak target atau obyek. Sebagai contoh adalah yang terjadi hari ini dengan perusakan gedung KPK (Demo di Depan KPK Ricuh, Pendemo Lempari Polisi dan Gedung KPK) Gambar berikut memperlihatkan 7 tahap model kebencian tersebut. Sangat berbahaya.

Karena mengerti dan percaya konsep ini, maka saya memang mengambil jarak dengan orang-orang yang terjangkiti dengan penyakit kebencian ini. Saya melihatnya penyakit ini hanya bisa dikalahkan dengan unconditionalforgiveness atau pengampunan tanpa syarat. Jadi kalau kita ikut sakit hati, maka kita sudah ketularan. Kita pun akan jadi haters, biarpun obyek/targetnya lain.

 Sebab itu, meskipun tidak mendukung Prabowo saya tidak akan menjadi Prabowo haters. Meskipun saya tidak mendukung LGBT saya pun tidak akan menjadi LGBT haters. Dari hati terpancar kehidupan, demikan kata buku Amsal. Lebih baik menjaga hati dan terus tetap waras sehingga tidak terjebak kebencian. Meskipun sudah dibuat hukum yang melarang hate-speech, kebencian kadang lebih gampang dirasakan daripada dibuktikan. Kita akan merasakan seseorang menghina kita atau menghormati kita.

 Sebagai contoh, sebagai keturunan Tionghoa, saya tidak keberatan dan happy-happy saja dipanggil Koh Hanny, dan sampai detik ini banyak yang memanggil saya koh, ko, bahkan yang aneh maskoh Hanny. Tapi ketika seseorang memanggil ‘koh Hanny’ dengan nada yang berbeda, kita tahu bahwa itu maksudnya mengejek SARA. Sesuatu yang saya kadang saya alami di kampung-kampung di masa kecil saya.

 Intinya, kebencian tidak bisa dilawan hanya dengan dihukum dan dipenjarakan. Kita harus menghentikan penyebaran kebencian dengan berhenti memberikan feedback kepada para pembenci. Seperti kata Jack Scafer yang adalah Analis Perilaku FBI:

 Haters cannot stop hating without exposing their personal insecurities. Haters can only stop hating when they face their insecurities.

 Bahasa gampangnya, haters butuh psikolog karena mereka sakit jiwa. Believe it or not.** (ak)

Sumber : kompasiana.com

Saturday, May 21, 2016 - 07:30
Kategori Rubrik: