Kelemahan UU ITE, Kasus Rizieq dan Terpelesetnya Jonru

Oleh: Arloren Antoni

 

Saya ragu Bareskrim bisa tangkap Rizieq Shihab (semoga saya keliru). Masalahnya adalah gegara wewenang penyidik yang minim banget dalam UU ITE ini. Sesungguhnya kelemahan UU ITE dalam penerapan di kasus Rizieq sudah pernah saya tulis. Sampai saat ini Artikel itu masih terpajang di fanpage saya (bukan di akun pribadi ini). Tapi saya tulis secara tersamar. Karena saya masih berharap bahwa penyidik bisa menjawab tuntutan UU yang membatasi mereka dalam membongkar kasus Rizieq. Tentu bahaya hantaman balik pada institusi Bareskrim dari terduga pelaku (Rizieq) tetap besar yakni dalam bentuk Praperadilan yang bisa mengandaskan penyidikan.

Banyak yang bertanya ke saya apakah bener SP3 kasus Rizieq. Saya jawab singkat saja:

Meneketehe... !! Manakutau... !!

Gue kan bukan bagian dari Bareskrim. Kenalpun kagak... !!

 

 

Menurut saya, menuntaskan kasus Rizieq merupakan badai Tsunami bagi penyidik gegara ada point krusial dalam UU ITE yang menghalangi mereka dalam bekerja.

Kuatkan dulu wewenang penyidik di UU ITE. Barulah penyidik bisa leluasa menggasak para perusuh di medsos. Liat saja Fanpage provokator bernama AM (pernah saya tulis secara lengkap nama FP ini di salah satu TS saya). AM tetep melenggang bebas di medsos. Penyidik dibuat mandul karena admin Fanpage ini mampu berkelit, bermain di kelemahan pasal, dan selamatlah dia hingga saat ini.

Apakah kita harus menunggu lagi agar Fanpage AM keseleo kayak Jonru - baru bisa ditangkep...?? Ini konyol namanya. Revisi saja UU ITE, beres. Dan perusuh kayak AM akan keok...!!

Persis kayak UU Terorisme yang membuat Densus 88 kita mandul. Setelah UU Terorisme di revisi akhir Mei / awal Juni 2018 ini barulah Densus 88 kita punya payung hukum dan mereka bisa menangkapi musuh yang memang sudah di depan mata. Sebelumnya gimana...? Densus cuma bisa nonton karena kewenangan gak punya.

Khusus untuk Firza, saya yakin dia akan tetap bisa menggelinding ke Hotel Prodeo. Tapi memastikan mah saya gak bisa lha saya bukan pulisi yang punya kewenangan menyidik kasus itu. Mungkin teman teman ada yang merasa heran bukan...? Kenapa Firza bisa tapi tidak dengan Rizieq.

Saya mohon maaf, Sebagai seorang Praktisi Hukum tentu saya tak akan mau menjawab pertanyaan soal ini baik di inbox maupun di wall terbuka. Bukan saya tak mau jawab, tapi kalo saya jawab itu sama saja artinya dengan membuka jalan pada siapa saja untuk berbuat sesukanya di medsos kayak yang udah pernah dilakukan Jonru.

Palagi kini masih ada yang kayak Jonru yakni Fanpage AM diatas. Dan penyidik Bareskrim dipukul telak oleh AM. Lebih sedihnya personil Bareskrim cuma bisa ngurut dada, tapi yang pasti bukan dada binik tetangga. Ini karena AM tau celah. Makanya AM berani. Saya juga gak akan kasi link akun AM karena itu sama saja saya mempromosikan Fanpage dia makin terkenal. Dan saya ingatkan siapa saja yang koment dengan memberi link ke FP si AM maka mohon maaf, koment anda saya hapus dan dengan berat hati dan menyesal akun anda pasti saya blokir. Gak tanya soal AM...?? itu lebih baik. Perusuh kayak Jonru aja banyak teman saya yang follow... aneh banget. Perusuh kok malah di follow...

Dalam ngadapi Jonru, penyidik mendapat tantangan yang luar biasa gegara UU ITE tidak mengakomodir kebutuhan mereka dalam menyidik, untung ada bantuan Faisal Akbar dan Game Is Over, besok pagi siap acara ILC Jonru langsung tamat. Kalo tidak ada FA maka sampe sekarang Jonru akan tetap nyebarin fitnah.

Adakah dari kita yang menyalahkan Jokowi / menyalahkan Pemerintah gegara lemahnya UU ITE ini...?? Berpikirlah waras. karena penyidik / pemerintah juga gak punya kewenangan merubah UU ITE.

 

(Sumber: Facebook Arloren Antoni)

Tuesday, June 19, 2018 - 11:00
Kategori Rubrik: