Kelamin Sang Jenderal

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Yang hancur ekonominya karena Corona, bukan hanya Indonesia. Banyak negara, yang kaya maupun miskin.

Jika Indonesia melakukan lockdown, kata Sri Mulyani, cadangan ekonomi cukup, tapi cadangan pangan tidak. Pilihan tak mudah. Rupiah turun, para pengusaha harap-harap cemas. Beda dengan rakyat jelata, tahan banting karena tak punya pilihan.

 

Indonesia negara perairan, bukan pertanahan. Tapi banyak buaya darat. Senyatanya, setelah ambruknya Soeharto, ketimpangan ekonomi makin bersegi banyak. Bukan soal kesenjangan ekonomi, melainkan merebet lebih mengerikan. Jadi obyek eksploitasi politikus yang kebelet ngi-nyanyi (hasil google translate dari kata ‘ngi-sing’).

Yang paling tragis, ketika Menteri Keuangan kita menghadapi masalah. Para koleganya, ahli ekonomi dan elite politik, justeru mengejeknya. Dalam situasi panik Corona ini. Atas dasar apa? Kepentingan masing-masing. 

Media? Jangan ditanya lagi. Jika ada artikel mengenai himbauan hidup sehat, kebanyakan advertorial perusahaan-perusahaan yang tak mau kehilangan momentum. Di Indonesia, pers begitu bebasnya, bahkan untuk menjadi common enemy sekali pun. Media tak punya agenda muluk-muluk, selain menyelamatkan tiras, baik dengan melawan click-bait atau justeru ikut serta memakainya. 

Sudah begitu, ada lagi bekas jendral bermain kompor. Tapi, entah kenapa, penyanggah pertama justeru dari pihak yang tak kita duga. Politikus yang biasanya kita kenal nyinyir, justeru membantah sang bekas jenderal. Ini Namanya kejutan? Kejutan yang direncanakan? Atau kejutan yang bocor? 

Di beberapa negara beradab, dengan sistem sosial mapan, rakyat mempercayakan pemerintah bekerja. Karena memang demikianlah mandat itu diberikan. Tapi jika di sini betapa sulitnya bersatu, karena yang dianggap genting hanya kepentingannya sendiri. Masing-masing punya agenda, berbeda-beda dan tidak satu jua. Jauh lebih besar dari itikad baik menghadapi persoalan bangsa secara bersama. Jika situasi ini dipakai kesempatan untuk eksis, syukur bage ambil peran di 2024, itu sungguh amoral. Walaupun di Indonesia kagak penting apa itu moralitas. Karena itu suburlah banalitas. 

Apakah cara-cara Anies dalam Pilkada DKI Jakarta 2017, akan manjur selalu? Tidak akan. Karena rakyat sudah cerdas? Tidak juga. Sebejad-bejadnya bangsa, masih akan tetap lebih banyak yang tak bejad. Kalau penjahat selalu menang, sifatnya sementara. Kecanggihan untuk menang, selalu dikalahkan oleh kualitas dirinya sendiri.

Kalau pun ada bekas jenderal menghasut kelompok majoritas, jumlah yang mudah terhasut selalu terbatas, dan bego-bego, meski acap menjengkelkan. Lagian, melawan Jokowi saat ini, adalah kebodohan. Persis tarian Buta Cakil, muncul untuk menunjukkan Arjuna yang sakti. Bukan kapitalisasi politik yang cerdas. Soal politik 2024, terlalu dini. Lebih mudah menegakkan benang basah, daripada menegakkan kelamin. Apalagi kelamin jenderal bekas. 

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Friday, March 20, 2020 - 21:30
Kategori Rubrik: