Kekuatan Mafia dan Perlawanannya terhadap Pemerintahan Presiden Jokowi

Oleh: Liza Novijanti
 

Mengapa mafia sulit diberantas? Karena mereka mempunyai sumber dana yang kuat. Darimana dana itu berasal? Dari rakyat. Kok bisa? Ya, karena para mafia itu mendirikan bank untuk menggalang dana segar dalam membiayai beberapa perusahaan di bawah naungannya. Itulah mengapa para mafia yang biasanya konglomerat itu bisa kuat tak tergoyahkan dan menguasai perekonomian Indonesia.

Dimulai dari jaman Orba, cendana dan kroninya memberikan kemudahan bagi para konglomerat yang seringkali bermetamorfosis menjadi mafia itu, mendirikan bank-bank di Indonesia. Dana itu kemudian di salurkan ke anak2 perusahaan bank itu sendiri, Bayangkan untuk keperluan bisnisnya, mereka hanya membayar bunga 2,5%-6% kepada nasabah. Sedangkan jika pinjam ke bank lain mereka harus membayar 12% atau lebih. Semakin besarlah Perusahaan2 yang mempunyai Bank itu. Walaupun tentu saja sebagian kredit disalurkan ke perusahaan lain,

Ketika krisis moneter 1998, bank2 itu menjadi oleng dan kesulitan likuiditas, oleh karena itu dengan saran IMF, disalurkanlah BLBI untuk menjaga kepercayaan rakyat pada bank. Sayangnya oleh bank2 itu diselewengkan malah disalurkan ke anak2 perusahaannya sendiri2 dan sebagian besar macet atau dibawa kabur, Bayangkan dari dana 147,7 T yang dikucurkan, yang diselewengkan 138 T. Kita dapat melihat bank mana saja yang menyelewengkan dana BLBI, dan kita juga melihat pemilik2nya kebanyakan konglomerat, yang beberapa masih berkeliaran bebas dan tetap menjadi pengusaha top di Indonesia. Kemudian diulang lagi pada kasus bail out bank Century, bank kecil yang didengungkan bank gagal dengan dampak sistemik, Bank kecil itu akhirnya diguyur dengan dana yang semula dianggarkan cuma 638 M kemudian membengkak menjadi 6,7 T. Belakangan terkuak dana tersebut sebagian disalurkan ke perusahaan pemilik Tersangka utama yaitu pemilik bank Century (yang berubah nama menjadi bank mutiara) Robert Tantular

Kalau kita melihat pola seperti itu selalu saja ada tekanan pada Presiden baik Mega ataupun SBY di awal kepemimpinannya untuk bekerjasama dengan mafia perbankan supaya mau mengguyur likuiditasnya agar kembali gendut setelah kering akibat berbagai tekanan eksternal maupun internal ataupun keperluan membiayai proses politik. Sedangkan pada pemerintahan Jokowi, beliau tidak mau melakukan hal konyol itu lagi, walaupun Rupiah tertekan sampai Rp 14.000. Beliau lebih cenderung mengguyurkan dana untuk membangun infrastruktur di seantero negeri daripada membuang2 uang dengan mengguyur pasar ataupun perbankan untuk menyelamatkan Rupiah. Jokowi berhutang ke Luar negeri juga dengan tujuan utama, untuk pembangunan infrastruktur, karena negara besar dengan 17.000 pulau tentu membutuhkan dana sangat besar. Tidak itu saja beliau berkeliling ke seluruh dunia agar investasi asing mau masuk dan menggarap proyek infrastruktur. Jika infrastruktur sudah canggih dan merata maka roda ekonomi di seluruh Indonesia akan berkembang pesat. Memudahkan berusaha dan membuka lapangan kerja.

Apa yang terjadi kemudian? Para mafia itu yang mendukung secara finansial pada proses pemilihan Presiden menjadi kekeringan, apalagi ternyata segala kemudahan tidak mereka dapat lagi. Bahkan mereka mendapat pukulan di mana mana, baik di bidang perikanan, pertanian, perdagangan (terutama impor) dan lain2. Sebaliknya Pak Jokowi tidak terbendung karena dukungan rakyat semakin menguat, Partai politik berbondong2 mendukungnya, karena kalau tidak partai itu akan kehilangan dukungan dari rakyat, Mereka takut kotak suara mereka kosong melompong, di pemilu yang akan datang jika tidak mendukung pemerintah yang terlihat benar2 bekerja. Walaupun sebenarnya dalam hati mereka mengumpat dan di belakang layar mereka menggerakkan segala daya untuk menggulingkan pemerintah.

Salah satunya dengan membuat harga2 naik tidak terkendali. Ketika Presiden mengeluarkan pernyataan yang akan menjungkir balikkan harga dan menurunkan harga daging sampai 80 ribu di bulan ramadhan. Presiden begitu yakin karena sudah berusaha maksimal untuk memenuhi pasokan, tapi para mafia menunjukkan taring dan berusaha menggagalkan program itu dengan menguasai rantai distribusi. .

Kita menyoroti salah satu harga saja yaitu daging sapi. Para mafia itu seakan berperang, karena marah impor dilaksanakan oleh Bulog, dengan cara mengendalikan distribusi yang selama ini mereka kuasai dan langsung melakukan koordinasi di lapangan, karena mereka sudah.bekerja sama lama dan menanam jasa pada para distributor, blantik, jagal dan RPH. Dari peternak mereka membeli murah dengan alasan karena pemerintah impor sapi. Padahal mereka tetap menjual dengan harga mahal pada konsumen. Sedangkan daging dan sapi impor jika masuk pasar, mereka juga yang akan mengendalikan harganya.

Bagaimana dengan operasi pasar? Operasi pasar selama ini tidak terbukti efektif menurunkan harga, saya tidak tahu penyebab pastinya, apa karena didistribusikan bukan di pasar? Saya saja tidak pernah ketemu itu operasi pasar, malah di Depok operasi pasar dilakukan di depan rumah warga. Coba di pasar2, dibuka kios-kios bulog yang menjual daging atau sembako murah, mungkin akan efektif menurunkan harga. Tapi itu memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Grand design dari usaha menggulingkan Presiden oleh mafia salah satunya adalah dengan mencekik harga serendah-rendahnya di tingkat petani dan peternak dan menjual mahal di tingkat konsumen melalui penguasaan rantai distribusi. Tujuan utamanya adalah menimbulkan kemarahan rakyat, baik petani, peternak sebagai produsen maupun rakyat konsumen, dan membuat dukungan rakyat yang besar pada Presiden menjadi turun. Rakyatlah yang mafia cekik agar marah pada Presiden dan tidak mendukung lagi..Berat kerja Presiden dalam memberantas mafia ini yang punya dukungan finansial kuat.

Para mafia dan partai politik itu sebagian besar adalah warisan Orba atau jikalau bukan orba tapi mereka belajar berpolitik dari orba. Segala cara yang mereka lakukan untuk menggulingkan Presiden sebagian besar adalah cara2 Orba termasuk permainan harga ini, ditambah Isu PKI, isu Presiden antek asing, utang LN yang besar ataupun isu dibukanya investasi asing adalah sama dengan menjual negara. Ingat negara2 besar seperti Jepang, China, Korsel, dan Amerika pun berhutang sangat besar dan membuka seluas2nya untuk investasi asing.
Semua isu itu adalah upaya untuk membodohi rakyat... 
Semoga rakyat apalagi mahasiswa, sudah pinter dan tidak mudah terprovokasi

https://id.wikipedia.org/…/Bantuan_Likuiditas_Bank_Indonesia

http://news.liputan6.com/…/bpk-kerugian-negara-di-kasus-cen…

http://www.bbc.com/…/berita_…/2014/07/140716_bankcentury_101

http://www.rakyatmerdeka.co.id/…/Ternyata,-8-Perusahaan-Pen…

http://finansial.bisnis.com/…/perusahaan-milik-robert-tantu…

 
(Sumber: Facebook Liza N)
Monday, June 13, 2016 - 17:00
Kategori Rubrik: