Kekuasaan Itu Candu dan Melenakan

ilustrasi
Oleh : Tomi Lebang
Kekuasaan itu candu. Melenakan. Bahkan sekadar dihembus anginnya saja, orang-orang akan terpelanting ke awan dan jadi kaya-raya . Anginnya membuai kerabat, keluarga, anak dan istri, saudara dan ipar-ipar.
Itulah alasan mengapa nama Baharuddin Lopa tetap harum sampai hari ini. Bukan kekuasaannya di masa menjadi jaksa atau menteri yang melenakan, tapi keharuman namanya yang membuai sampai bertahun-tahun ia berpulang. Lopa membatasi istri dan anak-anaknya turut campur, apalagi sampai menikmati, kekuasaan dan jabatan yang ia emban.
Dan itu pula yang membuat saya tetap teguh mendukung Presiden Jokowi.
Sampai hari ini, tak pernah ada kabar bahwa sang istri, Ibu Negara Iriana atau anak-anaknya mengurusi jabatan-jabatan atau proyek-proyek negara. Tak ada.
Saya masih mencatat pernyaan Pak Jusuf Kalla dalam sebuah pertemuan di Hotel J Luwansa, Kuningan, Jakarta, di penghujung masa jabatan periode pertama Jokowi-JK.
Di hadapan masyarakat Sulsel di ibu kota, JK menyampaikan kesaksiannya. Kata JK, "negara ini bisa mundur karena dua hal: gaya otoriter pemimpin, dan jika keluarga, anak-anak pemimpin, menguasai bisnis negara."
Dua hal itu, kata JK, tidak ada dalam diri Jokowi.
Jokowi memimpin negara dengan egaliter, penuh kebersamaan, dan selalu mau mendengar banyak pihak sebelum mengambil keputusan. “Karena itulah, Pak Jokowi terlalu sering rapat. Kami bisa rapat 200 kali dalam setahun,” kata JK.
Kedua, JK tahu persis, Jokowi bersih. “Anak-anaknya -- semua orang tahu -- tidak berbisnis dengan negara.”
Sebagai orang yang paling sering bersama Jokowi, JK menjadi saksi bahwa Jokowi tidak pernah punya kepentingan pribadi dengan bisnis negara. “Selama empat tahun bersama dengan Presiden Jokowi, belum pernah sekali pun saya bicara proyek dengan Jokowi, baik untuk kepentingan Jokowi, maupun untuk kepentingan saya,” katanya.
Dan saya percaya.
Sumber : Status Facebook Tomi Lebang
Monday, March 1, 2021 - 08:15
Kategori Rubrik: