Kekalahan Djoss di Sumut Bukanlah Kekalahan Jokowi

Oleh: Kajitow Elkayeni

Kegagalan Djoss di Sumut memang memilukan bagi pendukung Jokowi. Apalagi mereka yang terbelenggu romantisme Ahok-Djarot. Kekalahan itu begitu menyakitkan. Orang-orang berputus-asa. Seolah-olah kemenangan Edy adalah kemenangan lawan Jokowi. Dengan begitu, Sumut dikuasai oleh PKS dan Gerindra.

Kesedihan ini mengular dengan cepat. Mendung duka cita meluas ke banyak wilayah lain. Mereka menyebut Sumut sebagai saudara (tolol) Jakarta. Nasib sial yang harus ditanggung lima tahun lamanya. Jokowi telah dianggap kalah di sana.

Memang bukan kabar yang menyenangkan, dua kali Gubernur Sumut yang dimotori PKS dicokok KPK. Djarot yang dikenal jujur dan berintegritas tak kuasa membendung kebiasaan buruk itu.

Orang-orang Sumut sepertinya nyaman dengan kondisi mereka. Tak semua orang suka perubahan, apalagi jika itu merugikan bisnis mereka. Fakta itu ada di Sumut.

Dengan kemenangan Edy yang didukung oleh pihak oposisi, orang-orang mulai pesimis terhadap perolehan suara Jokowi di Pilpres 2019 kelak. Bayangan kekalahan di Sumut membuat sebagian orang ketakutan. Ini mirip perang proxy, yang bertarung siapa, yang ketakutan siapa.

Dugaan semacam ini sebenarnya menyesatkan. Pilkada serentak ini disebut memiliki rasa Pilpres, itu tak bisa disangkal. Namun jangan terbelenggu angka-angka dan dominasi partai. Jangan tertipu bayang-bayang semu dan euforia kemenangan PKS di beberapa titik. Ada banyak hal yang perlu dibongkar lebih dalam untuk menunjukkan fakta yang sebenarnya.

Sumatera Utara berbeda dengan kebanyakan provinsi di Indonesia. Kondisi sosial-politiknya cenderung lebih keras. Kapolda yang mau uji nyali biasanya akan ditugaskan di provinsi ini. Permainan pat gulipat dan premanisme bukan hal yang aneh. Ada banyak ormas preman bermain dengan aparat. Seperti kerajaan mafia.

Ini sudah jadi pemahaman umum. Dan keadaan ini secara alami akan saling melengkapi dengan figur kandidat yang ada. Edy mewakili dua golongan yang kontras, tapi bisa berdamai di kubunya. Yang satu golongan preman ormas dan preman berseragam. Yang kedua golongan agamis yang dimotori PKS dan konco-konconya.

Keduanya punya kepentingan bernaung di bawah kendali Edy. Jadi masih jauh untuk dihubungkan dengan gejala Pilpres 2019. Atau untuk membenarkan pernyataan, Sumut telah jatuh ke pihak oposisi.

Djarot figur yang baik. Dan di situ persoalannya, Sumut tidak siap untuk dikelola tangan dingin Djarot. Berapa banyak kerajaan mafia akan berjatuhan di tangan orang sejujur itu? Ia akan jadi batu sandungan yang besar bagi mereka. Maka secara alami naluri menuntun mereka untuk mempertahankan diri.

Yang perlu juga dicatat, pada tahun 2014 Sumut itu kantong suara Jokowi-JK. Perolehan mereka 55,24%. Bayangkan, itu dulu saat fitnah PKI-Cina masih sangat kuat terhadap Jokowi. Orang hanya menebak-nebak figur Jokowi dari pemberitaan media. Apalagi sekarang ketika orang-orang melihat kerja Jokowi yang luar biasa. Kepedulian Jokowi secara khusus terhadap Sumut jelas menaikkan suara pemilihnya.

Jadi tidak masuk akal jika suara pemilih Jokowi akan berbalik drastis tanpa sebab. Persoalan Pilkada Sumut adalah tentang figur yang mereka anggap cocok dengan karakter wilayah mereka.

Untuk ukuran kinerja, orang boleh mengkritik Edy dan partai pendukungnya. Sumut mungkin tidak mengalami banyak peningkatan. Dan barangkali itulah tujuan mereka. Semua ini demi kelanggengan kerajaan kartel. Namun untuk dukungan Pilpres, Sumut masih aman terkendali.

Kemudian yang paling penting untuk diingat, Edy Rahmayadi itu orangnya Jokowi. Secara hitungan nasional, yang berlaga di Sumut itu sama-sama pendukung Jokowi. Kita tak bicara kinerja yang bersangkutan, tapi dukungan terhadap Jokowi.

Edy memang menggunakan banyak hal untuk berkampanye. Sesuai gaya PKS, mereka menggunakan isu agama. Ustad Tengku, Abdul Somad, dijadikan ujung tombak. Cara seperti itu tentu menjijikkan bagi kelompok moralis. Namun politik ya begitu, selalu ada cara-cara kotor bermain di sana. Dan disitulah pentingnya kewaspadaan untuk menangkisnya.

Memahami politik memang tak bisa hitam-putih. Segala sesuatu harus dilihat lebih luas dan detil.

Jadi kemenangan Gerindra dan PKS di Sumut itu sifatnya lokal. Untuk sumbangan Pilpres 2019, mereka akan saling membelah perahu. Jangan lupa di sana juga ada partai-partai pendukung Jokowi. Suara pemilih Edy akan tercerai sesuai kepentingan nanti.

Orang-orang menilai Edy sebagai musuh Jokowi. Padahal belum lama hadir dalam ingatan publik, Edy Rahmayadi ini keluarga besannya Jokowi. Secara adat ia mewakili Bobby sebagai pihak orang tua. Kedekatan ini jelas bukan hubungan sembarangan. Bagi Edy, Jokowi itu spesial.

Dalam kampanyenya, Edy membawa slogan, Pilih kerabat Jokowi. Apa artinya itu? Secara psikologis, Jokowi adalah bagian dari keluarga Edy. Dan strategi itu pula yang membuat pemilih di daerah terpesona. Kinerja Edy yang diramalkan buruk, termaafkan dengan figur Jokowi.

Orang-orang daerah tak perlu teori muluk-muluk. Mereka butuh gambaran kongkrit. Bagi rakyat Sumut, Edy itu lebih realistis dan mewakili kondisi sosio-politik mereka.

Jadi bagi pendukung Jokowi yang pesimis, kekalahan Djoss di Sumut bukanlah kekalahan Jokowi. Dan untuk pihak oposisi yang sedang terlarut dalam euforia kemenangan semu, sebentar lagi mereka akan pecah kongsi. Dan mereka akan sangat kecewa ketika sadar, Edy itu ya orangnya Jokowi.

Untuk wilayah lokal mereka boleh berpesta, tapi secara nasional, gagal maning, gagal maning Son...

Sumber : Facebook Kajitow Elkayeni

Thursday, June 28, 2018 - 10:45
Kategori Rubrik: