Kekacauan Logika Formal Fuad Bawazier

Oleh : Katijow Elkayeni

Fuad Bawazier menulis di kolom opini Detik, yang intinya menyimpulkan, Jokowi sulit untuk menang karena elektabilitasnya hanya kurang dari 50%. Itu artinya, lebih dari 50% calon pemilih yang tidak memilih Jokowi. Pernyataan ini benar dari segi hasil survey. Namun logika formalnya cacat.

Perlu diketahui, Fuad ini termasuk tokoh lama dalam dunia politik. Terakhir ia keluar dari Hanura, bergabung dengan PAN, kemudian diadopsi Gerindra. Ini memang tidak ada hubungannya secara langsung dengan opini Fuad, tapi ini menjelaskan dari bumi mana opini itu terlontar. Dan hal itu mempengaruhi sudut pandang.

Kekacauan logika formal dalam opini Fuad itu bisa dilihat dengan gamblang.

Begini, dalam survey itu ada berapa pilihan? 36% dari tiga kandidat saja sudah bagus, apalagi jika lebih dari 45 nama. Ini modal awal yang hampir pasti. Tinggal dimainkan sedikit, jadi. Dengan catatan tidak ada kejadian luar biasa.

Atau jika pilihan dalam survey itu hanya ada opsi Jokowi dan ganti Jokowi seperti yang dirilis Median, 45% yang memilih tetap Jokowi jelas kekuatan yang solid. Tinggal mencari swing voter sedikit bisa menang tanpa bersusah payah.

Kemudian, perlu dilihat juga siapa lawannya? Kalau Prabowo lagi, itu justru poin bagi Jokowi. Tempo hari saja, Jokowi yang bukan siapa-siapa dan dihajar fitnah sadis itu tetap menang. Itu karena kelompok golput abadi yang anti Prabowo turun gunung. Mereka mencoblos bukan karena figur Jokowi, tapi karena ngeri diculik jika Prabowo jadi.

Menjatuhkan pilihan tandingan pada Prabowo adalah blunder terbesar. Prabowo ini kartu mati. Pemilih muda, generasi millenial perlu wajah baru, kemungkinan baru, tantangan baru. Dan tindakan yang dipuji Fuad ini justru memberikan keuntungan pada Jokowi.

Jika elektabilitas Jokowi cenderung naik (36%), elektabilitas Prabowo justru turun (20%). Ini dalam kondisi Jokowi belum membuat program populer mendekati pencapresan. Bayangkan jika keluhan yang selama ini muncul (karena pemerintah fokus di infrastruktur) telah diatasi. Akan lebih sulit untuk mengejarnya.

Saya setuju ketika Fuad menyebut, dukungan partai tak selalu berbanding lurus dengan perolehan suara. Namun bukan berarti mereka tak punya peranan. Partai itu mesin politik yang sangat kuat. Mereka ada dari pusat sampai ke pelosok daerah. Dengan dukungan logistik dan materi serangan yang bagus, itu akan menggerus suara lawan.

Yang lebih ngawur lagi, Fuad ini tidak menyertakan variabel lain dalam opininya. Boleh sih, tapi terlihat timpang dan tidak logis. Semata bergantung pada survey elektabilitas yang terjadi saat ini. Padahal pertandingan belum benar-benar dimulai. Mesin politik baru pemanasan. Logistik belum disebar merata. Materi serangan juga baru yang ringan-ringan saja.

Selanjutnya yang juga lucu, Fuad membandingkan peristiwa Ahok sebagai incumbent dengan Jokowi. Padahal Ahok dan Jokowi berbeda dalam banyak hal. Putaran kedua, suara Ahok itu digembosi pemilihnya sendiri karena takut rusuh. Lagipula bangsa ini belum siap untuk keluar dari frame Islam-Jawa. Ini bukan bermaksud rasis lho. Dari sejarah kita bisa melihat itu dengan jelas.

Fuad juga membuat tolok ukur dari Pilpres sebelumnya. Padahal banyak potensi suara Jokowi yang dulu hilang, misalnya suara pesantren saat itu belum bulat. Isu PKI sangat dipercaya. Sumbar yang banyak jadi korbannya sampai sekarang. Pilpres kali ini tentu berbeda.

Ada satu pesantren di Jawa Timur bernama Al-qodiri misalnya. Putranya Yai dulu konon prabower tulen. Begitu Jokowi datang ke sana, Yai memuji di belakangnya, "Saya senang dengan Jokowi ini. Tindak-tanduknya seperti santri..." bisa dibayangkan efek dari pujian itu. Yang dulu nderek (ikut) Gus, jelas terpengaruh jadi nderek Yai.

Dan Jokowi itu ikon pembangkit dunia pesantren. Hari Santri adalah kado dan penghargaan tinggi untuk pesantren. Mereka merasa diakui setelah sebelummya disingkirkan oleh Soeharto. Maka dalam sejarah itu, sedikit sekali peranan dunia pesantren muncul. Padahal banyak kyai yang dulu tentara PETA. Karena itu memang politik pembungkaman Orde Baru.

Yang saya heran, orang setokoh Fuad membuat framing yang begitu kasar dan dangkal. Padahal bisa diperhalus dengan mengedepankan intelektualitas. Maksud saya, bukan bergaya dengan istilah keren tapi kosong seperti, ceteris paribus itu. Soal framing begini, sama anak-anak Seword saja dia kalah jauh.

Tulisan Fuad itu tentu untuk membesarkan hati kelompok sebelah yang sudah mulai panik dan tak percaya diri. Tujuannya memang baik, sayangnya itu dilakukan dengan sembarangan. Melihat taktik serangan kelompok sebelah yang serampangan itu, jujur saja saya malah kasihan pada Prabowo. Ia dikelilingi oleh orang-orang bodoh.

Kisah hidupnya mengalami berkali-kali kekalahan dan terus saja dimanfaatkan...

Sumber : facebook Kajitow Elkayeni

Wednesday, April 18, 2018 - 12:30
Kategori Rubrik: