Kegagalan Revolusi Mental ASN

Oleh : Rudi S Kamri

TANGGAL 24 Mei 2019 nanti para Aparatur Sipil Negara (ASN) akan menerima THR yang besarnya bukan berdasarkan gaji pokok, tapi gaji pokok plus tunjangan-tunjangan alias sebesar 'take home pay' yang mereka terima setiap bulan. Bukan hanya ASN aktif, para pensiunan pun juga menerima THR dengan perhitungan serupa. Alhamdulillah, Puji Tuhan, Astungkare.... mereka nanti bisa menghadapi lebaran dengan penuh ceria. Turunnya THR ini setidaknya bisa mengobati kekecewaan hati sebagian ASN.

Mengapa sebagian ASN kecewa ? Karena harapan mereka Jokowi akan kalah dalam Pilpres 2019 telah pupus remuk redam tanpa harapan. Dan saya dengan suka cita menari- nari bahagia di atas kekecewaan mereka. 

 

Kaum "komunitas kecewa bersama" yang ada di tubuh ASN ini dapat diklasifikasikan ke dalam 2 kelompok, yaitu :

Kelompok 1
Mereka merasa di jaman Pemerintahan Jokowi terlalu banyak kerjaan tapi cari uang tambahan susah (baca : korupsi susah). Alasan ini juga sering saya dengar secara langsung, karena kebetulan pekerjaan saya sebagai 'soft-skill trainer' yang banyak berinteraksi dengan mereka. Alasan mereka sungguh tidak masuk akal dan mengkhianati sumpah mereka saat menjadi ASN di awal mereka bekerja.

Kelompok 2
Mereka yang otak primitifnya sudah disusupi ideologi pro khilafah. Karena pemahaman mereka terhadap loyalitas kepada ideologi negara telah terkontaminasi dengan ajaran yang telah menyesatkan akal sehat mereka. Kelompok ini bukan semata dari ASN golongan rendah tapi juga ASN yang memegang jabatan struktural tinggi di birokrasi Pemerintahan. 

Namun lucunya 2 kelompok ini mempunyai 2 kesamaan, sama-sama tidak menginginkan Jokowi menjadi Kepala Negara lagi dan sama-sama tidak tahu malu, mereka tetap menerima gaji dari Negara tapi rajin menghina Kepala Negara dan khusyuk ingin mengganti ideologi negara. Angka 2 memang aneh ya.

Munculnya 2 kelompok besar di jajaran ASN ini menurut saya merupakan indikator kegagalan mutlak dari program Revolusi Mental bagi ASN yang dikomandani Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan di Kabinet Kerja Jokowi. Meskipun telah menghabiskan anggaran negara ratusan miliar rupiah untuk melakukan kegiatan pelatihan Revolusi Mental bagi ASN tapi ternyata tidak menghasilkan output seperti yang diharapkan. Buktinya mental koruptif dan pemahaman ideologi sesat masih menari-nari di benak sebagian ASN.

Saran saya kepada Pemerintahan Pak Jokowi di periode kedua nanti yang kebetulan akan concern dalam bidang sumber daya manusia :
PERTAMA
Lakukan evaluasi mendasar modul dan materi pelatihan Revolusi Mental. Materi pelatihan Revolusi Mental yang ada saat ini terlalu normatif dan kurang menyentuh otak sehat untuk berubah menjadi lebih baik.
KEDUA
Presiden harus turun tangan langsung dan secara 'hands-on' memimpin program Revolusi Mental Nasional. Dengan membentuk Tim Khusus Revolusi Mental yang langsung dipimpin Presiden.

Meskipun kebobrokan moral para ASN tersebut tidak menyeluruh namun keberadaan sebagian dari mereka di dalam tubuh ASN nyata-nyata telah menjadi virus yang mengganggu kinerja pelayanan ASN kepada masyarakat. 

Terakhir saran saya untuk ASN yang tergabung dalam 2 kelompok di atas, silakan kalian mengundurkan diri secara massal sebagai ASN. Daripada kalian menderita lahir batin setidaknya sampai Oktober 2024 nanti. Biarkan posisi kalian diisi oleh warga negara yang lebih waras. Dan saya yakin seluruh rakyat Indonesia akan bersuka cita menyambut pengunduran diri kalian. 

Saat sudah tidak menjadi ASN, kalian bebas memaki dan menghujat Kepala Negara atau siapa saja, termasuk menghujat diri sendiri. Paham ???

 
Wednesday, May 8, 2019 - 00:30
Kategori Rubrik: