Kegagalan Prabowo Runtuhkan Petahana

Ilustrasi

Oleh : Sahir Nopi

Pemilihan Calon Presiden tinggal 4 bulan ke depan namun nampaknya “pertarungan” kursi RI 1 tidak berjalan seimbang. Secara kasat mata kita bisa lihat sang petahana masih kokoh dan tidak tergoyahkan sedikitpun. Terbukti tidak hanya dalam berbagai survey, pemberitaan media, media sosial namun juga ketika turun ke masyarakat, rakyat menyambutnya dengan antusias. Jika kita flash back ke belakang, biasanya petahana menyerang penantang. Namun Pilpres kali ini berbeda, petahana seakan-akan tidak peduli dengan serangan lawan. Lihat saja pola kerja Presiden Joko Widodo yang hampir jarang sekali libur di hari sabtu minggu. Sang lawan kalau kita tahu menyerang dengan berbagai bentuk tetapi seakan menyerang ruang kosong.

Akibatnya angina serangan itu justru malah berbalik ke diri mereka sendiri. Serangan yang paling fatal berbalik ke mereka saat Prabowo menerima Ratna Sarumpaet yang mengaku dianiaya oleh sopir taksi dan beberapa orang lainnya. Bahkan mantan Danjen Kopassus yang sudah diberhentikan itu menggelar jumpa pers terkait itu. Namun berkat jelinya netizen dan Polri, upaya fitnahan adanya kekerasan berhasil dibuka. Akibatnya Ratna, Prabowo, Amien Rais dan kawan-kawan meminta maaf. Sebuah kejadian yang sangat ceroboh dan menunjukkan bahwa mereka sendiri bisa bobol oleh penipuan sesama rekan seiring.

Kelemahan sang penantang petahana ini karena tidak mampu memotret problem-problem substansial atau kelemahan telak petahana. Padahal dalam setiap bidang ada beberapa yang semestinya bisa dijadikan senjata. Gagapnya penantang ini dikarenakan tim kampanye yang direkrut tidak memiliki kapasitas memadai. Mereka sejenis Fachri Hamzah dan Fadli Zon yang suka menembak dengan argumentasi ad hominem atau sesat logika sejenis. Kelompok-kelompok mereka sering menyampaikan sesuatu tak didukung bukti atau basis data yang memadai. Belum lagi, mereka hanya mengandalkan asumsi. Idealnya harus ada tahapan menentukan jenis serangan setidaknya jika tak memiliki basis data yang kuat, ya punya argumentasi atau logika berpikir yang clear.

Mereka kerap memainkan isu-isu receh yang susah difahami masyarakat, melandaskan fitnah, berorientasi membangun kebencian dan sejenisnya. Lihat saja orang-orang yang berada di tim BPN Prabowo bila diundang ke televise, argumentasi yang disampaikan selalu hanya asumtif. Akibatnya kubu pengamat yang sejatinya netral ikut mempertanyakan pernyataan tim BPN yang hadir. Belum lagi mereka didukung oleh pemuka agama yang tidak bijak. Makin hancurlah upaya-upaya yang mereka bangun. Bagaimana mau mengandalkan tokoh agama semacam Bakhtiar Nasir, Hussein Haikal, Yusuf Martak apalagi Tengku Zulkarnain. Status mereka bukannya memperkuat posisi Prabowo di Media Sosial namun justru melemahkan.

Jadi, upaya yang mereka bangun sebetulnya rontok karena ketidakmampuan mereka sendiri. Mereka masih mengandalkan cara-cara orba dengan menuduh, memfitnah, memvonis. Harusnya sebagai lawan, mereka membangun opini, membangun kesadaran public, mencerdaskan, mempertarungkan gagasan dan lain sebagainya. Contoh fatal lainnya dilakukan oleh Sandiaga Uno saat menyatakan program OK OC akan dijalankan ditingkat nasional. Padahal di Jakarta sendiri program ini hancur lebur dan semua orang bisa melihat apakah OK OC jalan atau bubar. Tidak ada design kampanye yang cerdas dan digunakan untuk bertarung di 2019.

Penulis coba tunjukkan salah satu contoh “serangan” ke pihak petahana misalnya soal sistem pendidikan kita yang memang banyak kelemahannya. Puji sang incumbent lalu dorong dia mengurangi beban pelajaran utamanya pada pendidikan dasar. Lontaran ini akan menyulitkan petahana. Jika didengarkan akan dilihat bahwa itulah kelemahan petahana dan jika tidak dijalankan masyarakat menilai beban siswa saat ini sudah memberatkan. Nah upaya-upaya membangun strategi yang ampuh dan melemahkan petahana tidak dilakukan penantang dengan baik. Mereka hanya menyerang dengan membangun opini. Upaya ini akan berhasil jika dilakukan 10-15 tahun lalu saat media sosial belum seperti sekarang. Jika seperti sekarang tetap tidak dirubah ya tinggal tunggu saja 17 April 2019 adalah lonceng kekalahan kedua kalinya.

Monday, December 17, 2018 - 17:30
Kategori Rubrik: