Kegagalan Para Pengkritik Afi Nihaya

Ilustrasi

Oleh Muhammad Jawy

Saya pertama bertemu Dek Afi Nihaya Faradisa bulan Januari lalu di Jogja. Waktu itu ia ada kegiatan kelas vibrasi.

Memang anaknya punya wawasan yang luas, punya kedewasaan yang jauh diatas usianya. Dia sering membaca buku, dan memiliki bakat penulisan yang sangat luar biasa.

Nasehat saya waktu itu, tetaplah menulis dalam kanvas kebangsaan dan ke-Islaman, jangan tergoda untuk keluar dari kanvas itu (maksudnya mengikuti paham liberal). Dan sejauh ini, Afi bisa mengartikulasikan problem mindset yang ada di masyarakat, dengan bahasa yang membumi dan mudah dicerna, tanpa keluar dari kanvas itu. Tak heran kalau followernya meroket hingga hampir setengah juta orang.

Maka ketika dia menulis tentang "Warisan" yang membuat heboh itu, saya lihat dia masihlah berada dalam kanvas itu. Tidak ada ajakan untuk menjadi liberal atau bahkan anti Islam, sebagaimana tuduhan beberapa orang. Mas Harry menjelaskan dengan sangat baik di tulisan yang saya share ini.

Sangat keren kalau anak seusianya sudah mulai melakukan dialog pencarian dengan tulisan yang bernas. Meski memang mungkin ada yang lebay dengan membandingkannya dengan ulama, tentu saja ini keblablasan. Afi adalah Afi, dengan segala keterbatasaannya ia masih berusaha terus untuk membuka cakrawala untuk dirinya, yang kemudian juga tidak jarang membawa manfaat kepada orang lain.

Genre yang pas untuk tulisan Afi barangkali adalah kritik sosial, upaya perbaikan perilaku bermasyarakat. Dan di tengah polarisasi yang semakin tajam, tulisan Afi sering menjadi sangat relevan. Tulisan yang mengajak kita untuk lebih menjadi manusia yang berakal dan paham bermasyarakat.

Kalau ada kekeliruan pada tulisannya, maka sampaikan dengan dialog yang baik, tidak dengan nada intimidasi atau merendahkan. Dan beberapa tulisan yang menanggapi tulisan Afi, justru melakukan tafsir hermeneutika ala kalangan liberal. Misalnya ketika Afi disebut menganggap semua agama benar, padahal ia tidak pernah menyebut demikian.

Ketika akunnya diserang ramai-ramai dan sempat dilock, saya dan beberapa rekan yang punya kontak ke Facebook segera mencoba mengusahakan supaya akun bisa kembali, dan Alhamdulillah hari itu akun ia kembali. Tapi rupanya tidak hanya ancaman tutup akun, bahkan ia diancam bunuh oleh beberapa orang. Mengerikan.

Saya sampaikan, Afi bisa melaporkan ke polisi, karena kalau ada ancaman via telpon, sms, dsb, kemungkinan besar polisi bisa mengusutnya, karena pasti ada footprint yang tertinggal. Tapi ia tidak mau, dia bilang, nanti malah mereka playing victim, atau dapat panggung. Biarkan saja. Dia anggap itu semuanya sensasi baru dalam kehidupan.

Dia ingin menunjukkan bahwa ia tegar terhadap ancaman itu, ancaman yang dzalim karena si peneror itu tidak tahu kaidah dalam memberikan hujjah, itupun kalau memang ada kekeliruan serius dalam tulisannya. Sesuatu yang justru tidak dimiliki oleh banyak kaum dewasa.

Tapi tetap saja manusia, ada satu hal yang membuat dia galau berat. Yaitu ketika ada seseorang yang mengirimnya pesan privat, yang isinya, " Afi, kamu terlihat makin gemuk ya. Jaga kebugaran dan kesehatan ya."

Yang kirim pesan nggak tahu kalau buat perempuan itu pesan yang sangat offside. 

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Wednesday, May 24, 2017 - 14:45
Kategori Rubrik: