Kegaduhan Di Paris, Damascus, Caracas, Hongkong Dan Indonesia

ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

(Ah, Teori Konspirasi!)

Tahukah kita, kenapa seruan Ganti Presiden begitu kencang diteriakkan pada tahun 2011 di Suriah? Bahkan akhirnya pecah menjadi perang saudara? Itu karena Bashar al Assad memilih sikap seperti Iran yang tidak mau tunduk kepada Amerika dan Saudi yang mengendalikan OPEC dalam hal produksi dan harga minyak di dunia. Assad juga memilih Iran dan Rusia sebagai mitra strategis.

Begitu juga kenapa pada November 2015 di Paris terjadi serangkaian serangan teroris? Penembakan massal, bom bunuh diri, penyanderaan sampai aksi tembak menembak dengan aparat? Karena di Paris akan digelar hajat kesepakatan global yang dikenal dengan Perjanjian Iklim Paris 2015. Dimana dalam perjanjian ini disepakati akan mengurangi penggunaan minyak bumi untuk mencegah naiknya temperatur bumi. Selain itu ada pesan perdamaian untuk mengurangi konflik di dunia yang dipicu oleh perebutan sumber daya (minyak). Padahal komoditas minyak menjadi andalan Amerika sebagai negara kontraktor dan Saudi sebagai produsen terbesar. Tidak cukup serangan teror. Bahkan pada November tahun lalu, negara di bawah kepemimpinan Presiden Macron dilanda demo berjilid-jilid yang dipicu kenaikan harga BBM agar masyarakatnya beralih ke transportasi publik. Dan demo tersebut juga berujung pada seruan ganti presiden. Meskipun pada akhirnya aksi tersbut dapat teratasi.

Selanjutnya tentang Presiden Maduro di Caracas Venezuela. Pun sampai hari ini Maduro terus dituntut mundur oleh sebagian rakyatnya yang disponsori oleh pihak oposisi. Bahkan sanksi ekonomi yang dijatuhkan Amerika terhadap Maduro cukup membuat negara itu babak belur. Lalu apa yang menjadi pemicunya? Tidak lain karena Presiden Maduro adalah satu-satunya presiden di Benua Amerika yang berani secara lantang mendukung Kemerdekaan Palestina. Bahkan Maduro ikut hadir dalam pertemuan OKI pada Desember 2017 yang mengecam pengakuan Trump atas Jerussalem sebagai ibukota Israel. Padahal seperti kita ketahui, negara Israel dibentuk oleh Inggris atas permintaan Nathan Rothschild melalui Deklarasi Balfour 1927. Dan Amerika hingga saat ini seakan memposisikan diri sebagai "bodyguard" Israel. Tiga negara ini seakan menjadi segitiga abadi. Mirip seperti lambang Illuminati.

Kemudian tentang Hongkong yang sepekan ini juga dilanda demonstrasi besar-besaran. Demo ini dipicu oleh RUU ekstradisi. Dimana dalam RUU ini disebutkan bahwa pelaku kejahatan di Hongkong bisa diekstradisi dan diadili oleh Tiongkok. Mereka yang protes mengkhawatirkan sistem pengadilan di Tiongkok. Padahal seharusnya Hongkong harus tunduk karena sudah kembali menjadi bagian Republik Rakyat Tiongkok sebagai Kota Administratif sejak dikembalikan oleh Inggris pada tahun 1997. Dan sama, aksi ini juga berujung pada seruan ganti pemimpin eksekutif Hongkong (Carrie Lam).

Lantas apakah aksi menentang RUU Ekstradisi itu cukup beralasan? Padahal Hongkong termasuk negara teraman di dunia dengan angka kriminal yang rendah. Ya! Kecuali satu hal, yaitu Kejahatan Pencucian Uang. Hongkong termasuk salah satu negara surga penyembunyi aset. Bahkan menjadi ladang basah para bankir elit dunia. Sebagaimana sejarahnya, saat pendudukan Britania atas Hongkong pada tahun 1841, disusul berdirinya Bank HSBC pada tahun 1865 dimana pemiliknya Thomas Sutherland adalah seorang bangsawan dari Britania. Dan saat ini mulai terkuak, bahwa HSBC adalah salah satu Bank yang turut berkontribusi "membantu" para penyembunyi aset baik di Swiss ataupun di Hongkong.

Seperti diketahui, sejak berlakukanya Perjanjian Transparansi Keuangan Internasional 2017, ruang gerak para pelaku pencucian uang dan penyembunyi aset di seluruh dunia menjadi tidak leluasa. Bahkan aset yang tersimpan selama puluhan bahkan ratusan tahun akan jelas juntrungnya. Jadi cukuplah beralasan jika Tiongkok memiliki kepentingan besar atas hal ini. Dan lagi-lagi bisa ditebak, Amerika dan Inggris menjadi salah satu negara yang ikut campur tangan menentang adanya RUU Ekstradisi ini.

Akhirnya tidak ketinggalan juga di Jakarta. Sejak Jokowi mencanangkan Tax Amnesty dan berujung pada terlacaknya ribuan trilliun aset di luar negeri, ditambah kembalinya Gunung Emas Papua ke pangkuan Ibu Pertiwi, juga penataan ulang aset dan kolateral kita yang tercecer melalui Hajat IMF dan World Bank, pada oktober 2018 lalu di Bali. Bukan hanya seruan ganti presiden, rangkaian teror bom dan juga rentenan tsunami (Seal project?) menghantam negeri ini. Apalagi Politik Luar Negeri kita yang mulai menjalin kemitraan strategis dengan Tiongkok untuk melepaskan diri dari cengkeraman dan hegemoni Amerika, maka isu anti cina semakin menyeruak.

Nah, jika rangkaian kegaduhan global diatas ada benang merahnya, dan seakan ada design besar dibelakangnya, lantas siapa yang merancangnya? Illuminati? Dajjal? Thanos? Atau..,ini hanyalah perbedaan nama saja tapi subyek pelakunya sama? Ah, Teori Konspirasi!

*FAZ*

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Monday, June 17, 2019 - 21:15
Kategori Rubrik: