Kedunguan Buruh di Giring Politisi

Oleh : Kajitow Elkayeni

Sebagai buruh, saya malu melihat para buruh digiring seperti gerombolan kambing. Perjuangan mereka dari dulu hanya satu, menaikkan upah. Buruh-buruh itu tidak punya imajinasi lain. Mereka berpikir, jika upah naik selangit, mereka otomatis makmur.

Perjuangan buruh menjadi begitu dangkal ketika melihat fakta, dalam dunia buruh juga ada kasta. Buruh elit, mereka yang gajinya sesuai atau di atas UMR (Upah Minimum Regional, sekarang diganti UMP), mendapat kelengkapan fasilitas. Buruh jelata, boro-boro mendekati UMR, cukup untuk makan saja sukur.

Buruh kasta elit ini yang dikumpulkan oleh manusia macam Said Iqbal itu. Maklum, mereka yang sanggup bayar iuran perbulan. Sementara buruh jelata, melirik saja enggan. Buruh jelata ini sangat banyak di kota besar seperti Jakarta. Jauh lebih banyak dari buruh elit. Mereka terpaksa bekerja 12 jam sehari. Ada yang mendapat upah 25 ribu Rupiah sehari, bahkan ada yang kurang dari itu. Kadang mereka tak mendapat hari libur.

Buruh jelata itu datang dari dusun tanpa keterampilan. Tujuan awal mereka ada di Jakarta adalah untuk bertahan hidup. Pekerjaan apapun akan mereka lakukan. Di tahap ini, mereka beradaptasi dengan ibu kota yang keras. Harapan mereka tidak muluk-muluk, hanya ingin jadi buruh elit suatu saat. Atau jika beruntung menemukan jodoh, mereka akan pulang kampung untuk kawin dan beranak-pinak.

Buruh elit tidak peduli dengan saudara mereka, buruh jelata. Itu seleksi alam saja bagi mereka. Yang mengenyam pendidikan, punya koneksi, lama berdomisili di kota besar, mereka punya kesempatan masuk ke kasta itu. Sementara para buta huruf, tak punya jalur, baru datang dari dusun terpencil, mereka adalah kelas rendah yang tak masuk radar perserikatan buruh. Lagipula mereka juga tak mungkin kuat bayar iuran wajib perbulan.

Perjuangan buruh, mestinya mengentaskan kelas buruh jelata ini dari kubang kehinaan. Hidup seperti hewan yang luka dan tersia-sia. Gaji hanya cukup untuk makan, belanja barang murah di pasar malam, jajan bakso keliling dengan gebetan sesama buruh. Tidak ada jaminan kesehatan, tabungan, perlindungan perusahaan.

Namun buruh-buruh elit itu sibuk berpolitik. Said Iqbal, pemimpin mereka (KSPI) adalah simpatisan PKS. Selain sibuk nyocot tak jelas pada Pemerintah, mereka tampak mesra dengan oposisi. Kaos mereka saja ada tagarnya, #2019GantiPresiden dan mereka membuat pernyataan dukungan untuk Prabowo. Orasi mereka dimeriahkan dengan ilusionis gaek bernama Amien Rais dan pemilik logika loncat galah, Fadli Zon.

Buruh-buruh elit itu juga tidak memahami dinamika ekonomi. Dulu tahun 2012 mereka pernah minta kenaikan gaji (UMK Bekasi) 30%, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) keberatan dan menggugat ke Pengadilan Tata Usaha. Buruh itu marah dengan gugatan tersebut dan demo menutup jalan tol. Akibatnya rusuh tak karuan. Ketika dikabulkan, terjadilah inflasi. Tahun berikutnya mereka minta kenaikan lagi 30%.

Ini tentu tuntutan tanpa otak. Padahal akibatnya mereka sendiri yang rugi. Jika harga naik karena imbas produk-produk perusahaan naik, kemampuan beli dari gaji mereka sama seperti sebelumnya.

Untuk mencegah tuntutan tanpa otak yang membahayakan laju inflasi itu, dikeluarkanlah PP. Nomor 78 Tahun 2015. Batas maksimum ketika itu 16% dan sekarang menyesuaikan basis formula inflasi dalam PP.

Perusahaan tentu punya perhitungan, jika buruh merugikan perusahaan, mending mereka beli robot. Pengurangan buruh pelan-pelan terjadi di perusahaan-perusahaan besar. Dan buruh-buruh pekok ini mulai dieliminasi oleh teknologi. Musuh terbesar mereka.

Lagipula sudah jadi rahasia umum, buruh yang tak mau ikut demo, perusahaannya akan diamuk. Padahal perusahaan mereka sudah cukup baik memberikan beragam tunjangan. Dan mereka tahu diri untuk tidak ikut demo. Fakta ini tidak laku dijual oleh media besar. Mereka sibuk menyoroti kemeriahan pawai buruh elit di jalan. Padahal awak media itu juga buruh. Mereka tak sadar karena mungkin jadi bagian dari buruh elit.

Yang kasihan tentu buruh gembel. Jangankan kemakmuran, gaji mendekati UMR saja impian terlarang bagi mereka. Perserikatan buruh mestinya fokus pada persoalan ini. Perjuangkan hak mereka untuk lebih baik. Bukan malah sibuk berpolitik.

Buruh-buruh pekok ini memang memalukan. Tiap tahun bikin bising dengan tuntutan yang sama, kenaikan gaji. Mereka sudah mirip kambing yang digiring gembala simpatisan PKS-nya. Mestinya buruh seperti anggota KSPI itu melakukan reformasi internal, ganti Said Iqbal dengan sosok visioner. Orang yang sangat paham soal perburuhan, seorang marxis dan pejuang sejati.

Keprihatinan ini terlewat setiap kali menjelang Hari Buruh. Mereka sibuk dengan seremoni, dengan pamer kawanan, dengan orasi murahan tanpa substansi. Padahal inti dari gerakan buruh adalah perjuangan kelas. Memerdekakan saudara mereka, para buruh jelata itu dari perbudakan kehinaan, dari hidup yang tidak layak.

Namun kita memang tak boleh berharap lebih pada buruh-buruh pekok itu. Mereka yang digiring ke neraka, tapi tetap tenang mengembik.

 

Kajitow Elkayeni
Buruh tanpa perserikatan

 

Sumber : facebook Kajitow Elkayeni

Thursday, May 3, 2018 - 10:30
Kategori Rubrik: