Kedudukan Bintang 5, Kelakuan Kaki 5

Oleh: Iyyas Subiakto

Sejak kekalahan PS pada pilpres 2014, gerombolan koloni sakit hati ini lupa mana negeri mana kandang sapi. Memposisikan diri sbg oposisi sejati bukan mengkritisi yg dipandang hrs dibenahi, yg baik dan sdg dikerjakan diterjang seolah kalau Jokowi belum tumbang mereka masih berhutang kpd para pialang yg menerima janji menang dan bisa malang melintang mengeruk segala yg bisa disikat, meneruskan tabiat para pelumat yg 32+10 thn melahap tanpa batas, membuat rakyat megap-megap krn negara dijadikan produk yg bs dihisap memenuhi hasrat.
 
Sebagai masyarakat mulut kita tercekat, perasaan meratap, kenapa mrk begitu kalap membenci pemerintahan harapan rakyat yg mulai peduli pemerataan bkn penistaan. Puluhan tahun diberi harapan tanpa kenyataan. Papua surga devisa dibagi2 kpd Amerika, jangankan utk kaya, mereka cuma dikasi pil kina itupun bila kena serangan malaria, skrg Jokowi dtg membenahi, dari harga BBM sampai jalan yg dulu cuma hutan, itupun kayunya sdh dimakan Bob Hasan. Jangankan sekolahan, gurunya saja mengajar dlm hitungan jari tangan. Indonesia Timur seolah cuma dikumur2, transportasi diatas lumpur, APBN cuma melalui subsidi krn ukurannya dari ekonomi, kl tak untung ngapain dikasi. Jadilah keluarga kita yg katanya anak Indonesia tapi kesehariannya seperti anak tiri.

 

 

Politisi kelebihan nyali sampai mereka lupa bhw mereka jg penduduk Indonesia dan masih makan gaji dari keringat rakyat, dari pajak yg dibayarkan, bukan yg di terbangkan menjadi Panama Paper atau Paradise Paper. Sekarang para perusak kehusukan sosial ini makin seperti jangkrik yg dimasukkan ke kuping sapi, menari kesana sini agar sapi menjadi liar tanpa tujuan, untung Jokowi pendiam dan penuh kesadaran serta kesabaran shg dia mengerti mana yg hrs ditanggapi mana yg dibiarkan mati berdiri. Karena bekerja lbh utama drpd dengerin org gila bicara.

Kadang sbg rakyat kt ikut kalap, sebenarnya mrk ini alap2 atau manusia yg numpang lewat kok bencinya kpd pemerintah melebihi musuh yg hrs dilahap.

Kita tunjuk hidung saja, apa kita sbg warga mendapat apa atas adanya dua manusia pengadu domba, zonk dan hamzah pencetus muntah. 2 orang sbg pimpinan DPR ini lbh hina dari orang rendah moral. Tiap hari berdasi tp otaknya tak berisi, mulutnya mencaci maki, hatinya dengki. Kalau dibelakang Jokowi mulutnya seperti amunisi, kalau ktm ngajak selfie.

PS seperti pasang badan membiarkan org pilihannya membabi buta, apakah dia tak merasa, atau memang disengaja, atau strategi merampok rumah yg sdg terbakar sdh dimulai. Gedung megah di Senayan jd seolah tak berpenghuni, mati, 560 manusia berpenampilan mulia dikendalikan 3 org dimeja depan dgn tanpa perasaan, mereka sll lupa atau amnesia bhw mereka wakil rakyat bukan bangsat penjilat sang tuan dgn penuh harapan yg belum pernah kesampaian.

Hai anak muda indonesia jadilah manusia bintang 5, bkn kelas kaki 5 yg cuma bisa mencela tanpa kerja. Jadikan saja mereka mimpi buruk Indonesia jgn jadikan panutan krn selain tak pantas jg tak punya kapasitas serta jauh dari integritas. Dan kita berdoa agar mereka cepat lepas.

# Indonesia Meletakkan kompas utk 2019.

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

 
 
 
Tuesday, November 14, 2017 - 23:15
Kategori Rubrik: