Kedatangan Raja Arab, Dulu dan Kini

Oleh : Suhendra

Soeharto dan Ibu Tien menyambut kedatangan Raja Faisal dari Arab Saudi di Istana Merdeka—Rabu, 10 Juni 1970. Kedua pemimpin saling jabat tangan, Presiden Soeharto membimbing tamunya ke ruangan kepresidenan untuk duduk di kursi panjang, sementara itu Ibu Tien duduk di kursi lainnya dekat sang suami.

Percakapan kedua kepala negara itu berlangsung selama sekitar 30 menit. Menteri Luar Negeri Adam Malik, Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi H. Aminudin Aziz, Menteri Negara Idham chalid, dan rombongan Raja Faisal lainnya beramai-ramai mendampingi.

Keesokan harinya, Presiden Soeharto dan Raja Faisal mengadakan perundingan yang berlangsung selama satu setengah jam di tempat yang sama. Keduanya membahas masalah krisis Timur Tengah. Perundingan juga membahas masalah hubungan ekonomi kedua negara khususnya di bidang perdagangan.

Sebagai tuan rumah Presiden Soeharto dan Ibu Tien juga menyelenggarakan jamuan makan malam kenegaraan. Tak lupa acara tukar-menukar cindera mata, Soeharto memberikan sebilah keris dan seekor macan yang diawetkan, Raja Faisal memberikan sebilah pedang berlapis emas.

Deskripsi ini dikutip langsung dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 28 Maret 1968-23 Maret 1973” seperti tertuang dalam laman soeharto.co.

Tak ada yang istimewa dari seremoni sambutan dan kegiatan Raja Faisal  ke Indonesia pada 10-13 Juni 1970 silam. Namun, kunjungan pada waktu itu punya makna penting terutama setelah pergantian rezim dari Orde Lama ke Orde Baru. Pada masa Orde Lama, pemerintah Indonesia menganut politik mercusuar, banyak di antara negara-negara sahabat Indonesia khususnya di Timur Tengah berjarak dengan Indonesia. Kunjungan Raja Arab pada awal Orde Baru menjadi tonggak kedekatan kembali Indonesia dengan Timur Tengah.

Pascakunjungan itu, Indonesia secara khusus membuat Undang-undang tentang perjanjian persahabatan antara Indonesia dan Arab Saudi yang tertuang dalam UU No 9 tahun 1971. Sejak 1947 Indonesia sempat mengadakan perjanjian persahabatan dengan Mesir dan Syria. Keinginan melakukan hal yang sama dengan Arab Saudi juga sudah digagas sejak lama--Indonesia memang punya kepentingan soal urusan haji dengan Arab Saudi.

Semenjak kunjungan itu pula, Indonesia dan Arab Saudi telah menandatangani protokol penandatanganan dan naskah perjanjian persahabatan antara Republik Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi  pada 24 Nopember 1970 di Jeddah. Perjanjian Persahabatan antara Indonesia dengan Arab Saudi akhirnya disahkan oleh Raja Faisal pada 21 Februari 1971.

Berselang 7 tahun pascakunjungan Raja Faisal, pesawat DC-8 "Siliwangi" membawa Soeharto beserta rombongan pada 9 Oktober 1977 ke Riyadh. Presiden Soeharto disambut oleh Raja Khalid yang waktu itu sebagai raja baru dengan upacara kebesaran militer. Soeharto melakukan kunjungan kehormatan kepada Raja Khalid di Istana Al Ma’zar, kedua kepala negara saling memberikan tanda kehormatan.

Semenjak kunjungan 1970, langgam hubungan antar kepala negara lebih banyak melalui utusan. Pascakunjungan Raja Faisal hingga Soeharto lengser, Arab Saudi telah mengalami beberapa pergantian raja. Raja Faisal tewas dalam tragedi pembunuhan oleh kerabat istana. Namun, hubungan kedua negara masih terjalin baik—misalnya pada 1978, Raja Khalid  sebagai penerus dari Raja Faisal mengucapkan selamat, saat Soeharto terpilihnya kembali sebagai presiden.

Berbagai kunjungan utusan raja Arab tercatat dalam hubungan kedua negara, misalnya pada 17 Juli 1990 Menteri Perindustrian dan Listrik Arab Saudi, Abdul Aziz Al Zamil, sebagai utusan khusus Raja Fahd menyampaikan duka cita kerajaan Arab terkait insiden Terowongan Mina yang di antaranya memakan korban jamaah haji Indonesia.  Dua hari setelah hari kemerdekaan pada 1990, Presiden Soeharto menerima Abdul Aziz Al Thenayun, utusan khusus pemerintah Arab Saudi.  Utusan tersebut datang untuk menyampaikan pesan pribadi Raja Fahd, terkait menghangatnya situasi di Timur Tengah setelah Irak menyerbu Kuwait dan juga mengancam akan menyerang Arab Saudi.

Setelah kunjungan Soeharto pertama ke Arab pada 1977, pada 26 Juni 1991 usai kegiatan ibadah haji--Presiden Soeharto dan Raja Fahd bin Abdul Aziz bertemu dan mengadakan jamuan makan malam khusus di Istana Al Salam, Jeddah.

Dari Soeharto ke Jokowi

Semenjak lengsernya Soeharto, belum ada lagi kunjungan raja Arab ke Indonesia. Namun, beberapa presiden Indonesia sempat melakukan kunjungan ke Arab Saudi dan bertemu raja Arab termasuk Presiden Gus Dur. Baru pada pemerintahan Jokowi akhirnya raja Arab berkunjung lagi. Tim Majelis Syura Kerajaan Arab Saudi dipimpin ketuanya Dokter Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim Al Sheikh menemui Presiden Jokowi, di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (16/2) sebagai persiapan kunjungan resmi Raja Salman ke Indonesia, awal Maret 2017.

“Kami meyakini kunjungan Sri Baginda Raja Salman akan memperkuat hubungan antara Indonesia dan Arab Saudi, hubungan yang saling menguntungkan,” kata Jokowi dikutip dari laman setkab.

Rencana kunjungan Raja Salman bukan ujug-ujug, pada pertengahan September 2015 Jokowi sempat melakukan kunjungan kenegaraan ke Arab Saudi dan bertemu Raja Salman. Gayung pun bersambut, berselang sebulan utusan Raja Salam yaitu Menlu Adel bin Ahmed Al Jubier menemui Jokowi, di Istana Merdeka guna membahas rencana pembangunan kilang, pasokan minyak mentah, petrokimia, dan pembangunan storage.

Raja Salman akan ke Indonesia dan membawa rombongan sekitar 1.500 orang, bersama 10 menteri, 25 pangeran untuk kunjungan kenegaraan lebih dari sepekan dari 1-9 Maret 2017. Rombongan juga akan berlibur di Bali di akhir masa kunjungan.

Raja Salman dan Presiden Jokowi akan membahas kerja sama soal promosi bidang seni dan warisan budaya, pertukaran ahli termasuk kesehatan haji dan umrah, promosi Islam modern melalui dakwah dan pertukaran ulama, peningkatan frekuensi penerbangan dari Indonesia ke Arab Saudi dan pemberantasan kejahatan lintas batas.

Kunjungan sang raja bisa dibilang spesial bagi Jokowi, karena untuk kali pertama Jokowi akan menjemput langsung tamunya di bandara. Alasannya, saat Jokowi berkunjung ke Arab Saudi, Raja Salman menjemput di pintu pesawat kepresidenan.

"Karena ketika Presiden berkunjung ke Arab Saudi juga mendapatkan kehormatan tertinggi dari Raja Saudi," kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Namun di luar persoalan kesiapan kunjungan yang dianggap bersejarah ini, Presiden Jokowi tak mau terlena dan meminta pihak Arab Saudi merealisasikan komitmen dan rencana investasi mereka di Indonesia.

Catatan Arab dalam hal investasi di Indonesia memang tak menggembirakan dalam beberapa tahun terakhir--investasi tertinggi pada 2015 hanya 30 juta dolar AS, memang ada kenaikan dari sebelum 2014 yang tak pernah menembus 1 juta dolar AS. Bisa jadi kunjungan sang raja kali ini  bisa memberi warna baru bagi Indonesia.**

Sumber : geotimes

Friday, February 24, 2017 - 11:15
Kategori Rubrik: