Kecerdasan Politik Luar Negeri Jokowi di balik Kunjungan Presiden Italia

RedaksiIndonesia - Sosok Presiden Republik Indonesia ketujuh, Joko Widodo sungguh membuat dunia berdecak kagum setelah melihat setahun pertama pemerintahan Jokowi. Sejak dipimpin oleh Presiden Jokowi, Indonesia mulai menunjukkan perubahan yang tak pernah terbayangkan selama ini. Hampir semua pemimpin dunia terkagum-kagum melihat sosok Jokowi, yang dengan cepat dan cerdiknya berhasil menggandeng pemimpin-pemimpin dunia untuk memperkuat hubungan bilateral antar kedua negara, tentunya hubungan bilateral tersebut harus memberikan keuntungan besar bagi Indonesia. Hitungan matematis jadi pertimbangan utama ketika sebuah negara memutuskan untuk melakukan hubungan bilateral. Kesederhanaan dan keunikan Presiden

Jokowi telah membuat Indonesia memiliki harapan besar untuk semakin cepat berubah dari negara berkembang menjadi negara maju, hal ini tercermin dari sikap kepemimpinan seorang pemimpin di suatu negara, yang penuh kharisma. Mampu meyakinkan dunia internasional, bahwa, negara anda, tidak salah melakukan hubungan bilateral dengan negara kami, maknanya bisa beragam, sebuah penghormatan terhadap negara tersebut. sebuah negara yang memang membutuhkan pergaulan luas dikancah internasional, agar yang menjadi urusan internasional dari negara itu kian mudah. Apalagi Indonesia yang mempunyai mimpi besar untuk menjadi negara maju, maka tak ayal tanda-tanda Indonesia kian dekat menjadi negara maju sudah terbaca dengan jelas.

Ditambah lagi, Indonesia sebagai salah satu negara didunia yang kaya akan panorama alam. Sektor pariwisata Indonesia bisa terus semakin terangkat dikancah internasional, sekaligus memberikan keuntungan yang luar biasa bagi bangsa Indonesia, yakni pendapatan negara pun kian meningkat dari sektor pariwisata, dan kalau sudah begitu, maka harapan Indonesia untuk menjadi sebuah negara besar dan maju, akan segera terwujud, karena sektor pariwisata juga dapat menjadi salah satu penopang utama sekaligus yang dapat mengubah wajah Indonesia beberapa tahun mendatang.

Tak heran jika Presiden Jokowi yang sudah memberikan visa bebas terhadap puluhan negara didunia ini, karena tujuan Jokowi tersebut sangat mulia yakni untuk terus menggenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia, sehingga pada akhirnya, Indonesia akan dipandang sebagai bangsa yang besar, sekaligus dihormati oleh kancah internasional. Tak bisa disangkal, sosok Presiden Jokowi yang unik, sederhana dan penuh kharisma tersebut telah mendatangkan banyak keuntungan bagi bangsa Indonesia , dalam setahun pemerintahannya.

Terbukti, setelah sebelumnya Jokowi dikunjungi oleh Ratu Denmark dan Presiden Finlandia. Hari ini, Senin (09/11/2015), Presiden Jokowi kembali dikunjungi oleh salah satu pemimpin negara maju dan besar, yaitu Presiden Italia. Dan kunjungan Presiden Italia tersebut bukanlah kunjungan biasa, tetapi sebuah kunjungan paling istimewa sekaligus sebagai bentuk penghormatannya terhadap sosok Presiden RI, Jokowi yang sudah berhasil membuat dunia internasional berdecak kagum atas setahun kepemimpinannya. Kunjungan bersejarah Presiden Italia ini menjadi bukti nyata bahwa politik luar negeri Presiden sangatlah luar biasa dan cerdas, karena dalam waktu 9 hari pertama di bulan November , Jokowi berhasil membuat dua pemimpin dua datang mengunjunginya. Kunjungan Presiden Italia, Sergio Mattarella ini adalah bagian dari sejarah hubungan bilateral kedua negara. Menjadi kunjungan bersejarah, karena kunjungan Presiden Italia hari ini adalah kunjungan pertama dari pemimpin negara pizza sejak 66 tahun, Indonesia-Italia menjalin hubungan bilateral.

Tak hanya istimewa, tetapi kunjungan tersebut akan mencetak sejarah terkait hubungan bilateral yang sudah terjalin sejak 66 tahun terakhir, yakni sejak tahun 1949 atau 4 tahun pasca kemerdekaan Indonesia saa itu. Tujuan dari kunjungan bersejarah Presiden Italia adalah untuk meningkatkan kerjasama dibidang ekonomi, tak hanya persoalan ekonomi saja yang menjadi tujuan dari pemimpin negara pizza tersebut menyambangi Presiden Jokowi hari ini, kunjungan bersejarah Presiden Italia juga akan menghasilkan dua nota kesepahaman.

Kedua Mou tersebut menyangkut pembebasan visa diplomatik dan dinas, serta soal pariwisata. Kedua MoU tersebut menunjukkan bahwa Indonesia adalah mitra yang sangat strategis bagi negara Pizza tersebut. bahkan dalam kunjungan bersejarahnya, Presiden Italia, Sergio Mattarella membawa sedikitnya 27 pengusaha top dari negeri pizza tersebut, sama seperti yang dilakukan oleh Presiden Finlandia saat mengunjungi Presiden Jokowi beberapa waktu yang lalu. Menjadi alasan tersendiri bagi pemerintah Italia mengapa baru mengunjungi Indonesia, setelah Indonesia-Italia menjalin hubungan bilteral 66 tahun lamanya.

Bisa jadi faktor Presiden Jokowi yang membuat Italia tertarik untuk semakin lebih dekat lagi dengan Indonesia. Hal ini sulit dibantah, karena dari enam rezim pemerintahan sebelumnya, Presiden Italia sama sekali tidak pernah mengunjungi Indonesia, padahal hubungan bilateral antar kedua negara sudah berlangsung puluhan tahun lamanya. Bahkan dalam kunjungan bersejarah ini, Presiden Italia,membawa nilai investasi senilai 17 triliun yang akan ditanamkan di Indonesia dari sektor logistik, otomotif, energi hingga perdagangan. Menjadi aneh ketika Presiden Italia lebih memilih mengunjungi Indonesia disaat Indonesia dipimpin oleh pemimpin yang menjanjikan sekaligus pemimpin bertaraf internasional seperti Presiden Jokowi.

Diyakini Italia mengunjungi Indonesia dimasa Jokowi, karena Italia yakin betul bahwa Jokowi adalah pemimpin yang mampu mengubah total wajah Indonesia dikancah dunia internasional,ketimbang enam rezim pemerintahan sebelumnya, yang hanya bisa meninggalkan warisan buruk bagi pemerintahan Jokowi. Salah satu warisan paling buruk yang pernah diwariskan rezim kedua Indonesia adalah persoalan PT. Freeport, yang mana saat itu, Presiden RI kedua, Soeharto meneken persetujuan kontrak dengan perusahaan tambang asal Amerika Serikat tersebut, tanpa memikirkan dampak buruk yang akan dirasakan oleh Indonesia dikemudian hari, dan hal itu terbukti sekarang, penekenan kontrak tersebut sama sekali tidak memberikan keuntungan bagi Indonesia, tetapi membuat Indonesia mengalami kerugian yang tak tergantikan dalam bentuk apapun.

Ricky Vinando (Kompasiana)

 

 

Tuesday, November 10, 2015 - 08:00
Kategori Rubrik: