Kecerdasan Bangsa

Oleh : Abdul Munib

Hingar bingar Pilpres yang tinggal 7 bulan lagi kembali menghembuskan Isyu SARA. Simbol-simbol agama diklaim. Siapa menunggangi siapa, antara Gerindera dan HTI masih perlu disimak arahnya kemana ? UU Ormas akan direvsisi, HTI boleh hidup lagi itukah bargainingnya jika Prabowo-Sandi menang, kita lihat saja.

Santri Kalong : Kelihatannya Isyu SARA dimainkan lagi oleh HTI yang organisasinya sudah dilarang di negara kita tapi pengikutnya makin merajalela dengan #GantiPresiden

Kang Mat : Rakyat bangsa ini. Semua kuncinya ada pada kecerdasan bangsa ini. Semua akan baik-baik saja kalau rasionalitas bangsa ini masih terjaga baik. Hafalkan modus-modus musuh bangsa ini yang memakai simbol agama untuk menipu rakyat. HTI tidak boleh ganti Pancasila. Kalau sampai ini terus dipaksakan rakyat yang akan sengsara. Artinya keindonesiaan selesai.

Santri Kalong : Medsos sepertinya dikuasai oleh mereka. Dengan segala modus edit gambar, rubah narasi, jungkir balik fakta dan logika, memenuhi ruang utopia. Benak nitizen seperti diacak-acak.

Kang Mat : Makanya tujuh bulan ke depan irit-irit kuota. Lawan semua narasi mereka dengan TJ, tetap Jokowi. Sebanyak 132 juta akses Medsos kalau sama alias drow berarti Prabowo-Sandi 66 juta saja. Karena yang tidak pegang Medsos di desa-desa hanya tahu Jokowi saja. Disini berarti kita menang.

Santri Kalong : Siapa sebenarnya Hijbut Tahrir itu.

Kang Mat : Sebuah gerakan yang didirikan oleh seorang hakim di Palestina. Namanya Taqiudin An Nabhan. Nama lainnya Pan Islamisme. Tujuannya seluruh negara muslim harus jadi satu, sebagai daulah khilafah Islam mulai Maroko-Fhilipina. Masalahnya umat muslim sudah ada dalam bangsa-bangsa atau nasionalis masing-masing. Makanya HT di Timur Tengah sendiri seperti di Saudi dilarang hidup. Di Indonesia ini paling besar HTI, tumbuh di Akhir masa Suharto dan pesat di masa SBY. Pada ranah prakteknya kekuatan ini menjadi alat kontrol zionis bagi negara berpenduduk muslim. Indonesia ini kaya sda, makanya terus harus dikendalikan.

Santri Kalong : Banyak pertanyaan di Medsos, salah HTI apa kok dibubarin?

Kang Mat : Dalam gagasan khilafah itu mereka menghalalkan segala cara untuk tujuan politiknya. Ini yang merupakan titik persamaan dengan PKI dulu. Yaitu rakus kudeta. Baik kudeta kasar maupun halus. Ini yang setelah terbongkar kedok tabiatnya Malayasia juga membubarkan Hijbuttahrir.

Santri Kalong : Makna Khilafah sendiri sebenarnya bagaimana Kang ?

Kang Mat : Simak saja di Albaqarah 30. Jaa"il atau yang menjadikan khalifah itu Allah sendiri. Bukan pake Pilkada atau Pilpres yang mereka mau jadikan Prabowo sebagai khalifahnya. Bukan begitu. Itu nggak bener itu. Tuhan langsung memilih wali, nabi, rasul, imam, khalifah. Bukan manusia Pilkada pilih nabi. Nggak ada itu.

Santri Kalong : Jadi membangun kecerdasan Bangsa jauh lebih utama dari sekedar lima tahunan Pilih Presiden.

Kang Mat : Keduanya penting. Membangun kecerdasan juga diuji pada saat Pilpres. Alat ukurnya harus Pancasila. Kita tidak pilih Pak Prabowo bukan karena pribadinya, tapi karena Hijbuttahrir musuh Pancasila ada bersama dia.

Santri Kalong : Jadi tetap Jokowi Kang?

Kang Mat : Tidak bisa tetap Jokowi. Harus GantiJokowi.

Santri Kalong : Lho kenapa? Bukannya Kang bilang Prabowo gabung HTI ?

Kang Mat : Maksudnya 2024 nanti harus Ganti, tidak bisa tetap Jokowi, aturannya kan begitu. Pak Beye juga masih laku tapi aturan tidak bisa. Kalau Prabowo, pisah dengan HTI musuh Pancasila dulu, baru kita pilih dia. Sekarang ya biar Jokowi selesaikan pekerjaannya. Indonesia banyak kemajuan di tangan dia.

Angkringan Filsafat Pancasila

Sumber : facebook Abdul Munib

Monday, September 10, 2018 - 11:00
Kategori Rubrik: