Kecenderungan Anies Baswedan

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Betapa tidak mudahnya menjadi anak buah Gubernur DKI Jakarta Raya. Ada begitu banyak masalah, berkait kebijakan publik dan anggaran. Dari sejak pengusulan, perencanaan, hingga eksekusi. Banyak kontroversi, namun selalu dijawab dengan kamuflase, termasuk kilah salah ketik dan sejenis itu.

Dari soal bongkar-pasang proyek, lebih berkesan menghamburkan anggaran. Renovasi trotoar, penanaman dan pembabatan pohon, penataan PKL, bongkar-bangun shelter bus, jalur sepeda dan difabel, hingga soal tip-ex. Meski soal terakhir kita paham, karena ternyata ada banyak salah ketik. Perlu anggaran tip-ex milyaran rupiah, karena salah ketiknya bisa satu paragraph, beberapa kalimat. Bukan salah ketik 1-2 huruf karena typho.

 

Kontroversi paling mutakhir, dibongkarnya Graha Bhakti Budaya TIM (Taman Ismail Mazuki), yang konon akan direvitalisasi dan dikelola PT Jakpro. Saya tak tahu, masih adakah Dewan Kesenian Jakarta, atau bahkan Akademi Jakarta. Tiba-tiba saja, Gubernur memerintahkan Jakpro mengelola TIM, dengan itung-itungan tahun ke 11 sudah BEP.

Itung-itungan itu, konsekuensi dari modal dasar Rp 1,8 trilyun yang diberikan, untuk meratakan TIM dengan tanah. Konsekuensi logis dari itung-itungan itu, adalah upaya Jakpro yang tiap tahun harus setor sekian atau tiap bulan setor sekian pada Pemda DKI Jakarta. 

Artinya apa? Jangankan Teater Koma, atau Teater Gandrik, yang bisa mendatangkan banyak penonton. Bagaimana dengan grup-grup kesenian yang tak masuk dalam ranah tontonan mendatangkan laba? Pastilah Jakpro yang menanggung beban BEP akan memilah-milah, mana kesenian beban mana laba. 

Akibat dari akibat lebih jauh lagi, secara tak disadari, ini adalah penyingkiran kebudayaan sebagai bagian penting proses pembangunan bangsa dan negara. Kaum penjajah seperti Belanda, ketika membangun Batavia, justeru berangkat dari gagasan ilmu-pengetahuan dan kebudayaan sebagai peradaban manusia. Mereka bukan hanya merekayasa genetika hingga lahir ‘ras’ Betawi, tapi juga mendirikan orkes simphoni, club-club societet. Hingga Ali Sadikin mengingatkannya kembali, membangun TIM sebagai investasi peradaban, bagi kota maupun manusia.

Di jaman Anies, dengan APBD terbesar se Indonesia, kebudayaan justeru dimasukkan ke bagian yang dieksploitasi, bukannya dieksplorasi. Dengan 70% perputaran duit nasional di Jakarta, pandangan Anies sungguh tak beradab, alias biadab menurut KBBI. 

Meski dari sisi tanggung jawab publik, 11 tahun ke depan Anies pun tak tahu nasibnya. Dari sisi politik anggaran, dengan kebiasaan bongkar-muat dan salah ketik, apalagi suka nge-klaim sudah ini dan itu (padal belum), rasanya hanya Sri Mulyani yang bisa menegur secara terang-terangan. Sebagaimana kritik Menkeu, dalam soal penyusunan anggaran, Anies Baswedan masuk dalam kategori tidak cakap. Walhal tidak cakap juga bisa saja bukannya tak disengaja. Untuk apa? Bila-bila masa dia nyapres, meski sudah ketahuan jeblok di sisi moralitas politik.

 

(Sumber Facebook Sunardian W)

Thursday, February 20, 2020 - 07:15
Kategori Rubrik: