Kecap Pilkada

Oleh: Deny Sidharta
 

Banyak para cerdik pandai mengumpamakan bahwa memilih dalam Pemilihan Kepala Daerah/Pilkada atau Presiden/Pilpres sekalipun, bagaikan memilih kecap sebagai tambahan makanan utama yang kita makan.

Semua Paslon eh Kecap selalu mengklaim sebagai Kecap nomor satu… kecap terbaik dengan segala embel-embel yang mendukung klaim tersebut, mulai dari kedelai kwalitet terbaik sebagai bahannya hingga rasa dan siapa saja yang telah menikmatinya. Pernah gak lihat Iklan Kecap nomor 2 atau kecap nomer 3 … blasss…

Tapi dalam Pilkada DKI kali ini, ternyata tidak sekedar memilih kecap, sebab salah-salah pilih konsekuensinya bisa dunia akherat…

 

Sekali lagi, ini “Cuma” soal memilih kecap… saya sih setuju dengan perumpamaan ini, karena memang Pilkada ini “Cuma” sebagian kecil dari bagian hidup dan kehidupan kita, dan bukan yang utama.

Kecap itu hanya “sekedar pelengkap” makanan utama, itupun tergantung makanan apa yang kita makan… makan soto dikasih kecap … tjotjok… makan sate ayam atau kambing dikasih kecap… nyamleng…. Tapi kalau makan sate padang dikasih kecap… wooo.. bisa diomelin atau minimal dipelototin senior saya yang dari Sulit Air… atau makan sepiring spaghetti .. dan dikasih kecap… wooo… bisa dipenalti sama Paolo Rossi.

Yang utama adalah makanannya bukan kecapnya, gak ada kecap kita masih bisa makan… gak ada makanan… gak akan pernah kita minum kecap. Yang bikin kenyang adalah sepiring nasi beserta lauknya… belum pernah ada orang ngaku kenyang karena kecap… yang bikin sehat adalah gizi dan vitamin yang terkandung di dalam makanan kita… coba lihat saja.. 4 sehat 5 sempurna itu terdiri dari Makanan Pokok, Lauk-pauk, sayur dan buah… (kecap gak disebut… dipikir aja kagak…) dan disempurnakan oleh Susu… (susu itu memang penting kok).

Sebagaimana Pilkada, kecap eh Paslon yang terpilih ini “hanya” akan menjadi sekedar pelengkap aspek hidup kita, inipun hanya dalam hubungannya dengan administrasi kepemerintahan. Walaupun calon yang kita dukung, sedemikian rupa terpilih, kita yang tetap kerja nyari nafkah, pulang telat tetap di protes anak, beli barang tetap mbayar. Intinya siapapun Paslon terpilih, permasalahan hidup para pendukungnya tidak serta merta terselesaikan. Tidak pula segalanya menjadi baik sesuai jargon atau janji kampanye… mimpi kali yee…

Ingatt.. Pilkada itu bukan hal yang utama dalam kehidupan kita… ingat firman Allah… ini 
“Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S adz-Dzaariyaat ayat 56)
Ingat …. untuk beribadah.. bukan untuk pilkada…

Lalu bagaimana dengan konsekuensi yang harus kita tanggung kalau gak memilih calon yang seiman?
Wahhh.. ini hal yang sulit… tapi begini… sampai seumur hidup kita sekarang ini, berapa kali sih kita nyoblos?? Dan berapa menit sih akumulasi total waktu yang kita pergunakan untuk nyoblos dalam berbagai pemilihan (pemilu, pilkada, pilpres, pemilihan ketua RT RW dll) seumur hidup kita?? Bandingkan dengan shalat 5 waktu yang kita lakukan sebagai muslim, seumur hidup kita. Hanya seper sekian persen… dan masih banyak hal baik lainya yang kita lakukan dalam sehari, sebulan, setahun bahkan 5 tahun, bahkan seumur hidup kita ini. Perlu hujan sehari untuk menghapus panas setahun… masa amal seumur hidup akan terhapus oleh pilkada sekian menit??

Gak usah terlalu spaneng dengan pilkada ini, biasa saja… Maksudnya jangan sampe kita terlalu serius milih kecap, tapi kita lupa pada makanan apa yang kita makan. Serius milih kecap, tapi lupa kalau kita cuma pesan Es Doger…

Trus bagaimana dengan pendukung paslon lain yang mengomentari pilihan kita..?? kembali ke soal kecap, waktu kita lagi makan di food court … ada customer di meja lain yang ngomentari kita yang milih kecap asin, karena tidak sama dengan kecap manis yang dia pilih. Ya ini namanya kurang piknik karena dia menganggap satu food court itu semua konsumen punya selera yang sama dengannya dan semua makanan di foodcourt itu dikira sama dengan makanan yang dimakannya … atau mungkin dia kurang bahagia dengan kecap pilihannya…

Trus kalau gak punya KTP di tempat pemilihan tapi ikutan komentar atau ngejelekin paslon lain dan pendukungnya… kalau Cuma komentar ya ndak papa… itu tandanya dia peduli… tapi kalau sudah ngejelekin paslon lain dan pendukungnya… kembali ke soal kecap..eh makan di foodcourt.. anggap aja kita sedang makan di foodcourt dan dia sebenarnya pengen ikutan makan, tapi udah terlanjur jajan di tempat lain… ya biarin aja … kalau perlu dipanggil dan kita traktir aja… biar bahagia… 
Pilkada itu bagian dari hidup.. bukan hidup bagian dari pilkada…

Selamat Memilih Saudara-Saudaraku Pemegang KTP JAKARTA...

 

(Sumber: Facebook Deny Sidharta)

Tuesday, April 18, 2017 - 23:45
Kategori Rubrik: