Kecanduan Hoax Agama

 

Oleh: Hasanudin Abdurakhman

Ada orang yang memposting berita di wall saya, tentang ilmuwan Yahudi yang katanya masuk Islam setelah menemukan fakta bahwa penetapan masa iddah punya latar belakang ilmiah. Dengan sekali klik di Google segera saya temukan bahwa berita ini hoax. Kemudian posting itu saya jadikan bahan olok-olok. Tak lama kemudian saya kena blokir.

Pemasang berita ini sejak beberapa hari yang lalu lumayan aktif berkomentar di posting saya. Isinya memang kebanyakan berusaha 'mendakwahi' saya. Salah satunya, ketika saya menulis tentang anak-anak Presiden, ia menasehati saya agar tidak melakukan ghibah dan fitnah terhadap anak-anak Soeharto. Posting hoax ini sepertinya sebuah usaha untuk 'menyadarkan' saya.

Beberapa hal terkait sikap pemosting ini menarik perhatian saya. Pertama, ia tidak melakukan pelacakan soal kesahihan berita itu terlebih dahulu, padahal dengan pelacakan sederhana bisa segera ditemukan bahwa itu hoax. Atau, boleh jadi ia sudah pernah membaca bahwa berita ini hoax, tapi mengabaikannya. Kedua, ia segera memblokir saya setelah saya tunjukkan link yang menyatakan bahwa berita ini hoax.

Dua sikap di atas boleh jadi sikap dasar para penggemar hoax. Mereka tidak mencari tahu kesahihan berita, bahkan tidak peduli setelah tahu berita itu tidak sahih. Mereka hanya menikmati isi hoax, dan berharap orang lain juga ikut menikmatinya. Orang-orang ini sepertinya tidak mencari kebenaran, tapi sekedar mencari kenikmatan ketika konsep yang mereka anut cocok dengan 'fakta', meski 'fakta' tersebut palsu.

Karakter ini mirip dengan pecandu narkotika. Para pecandu itu menikmati hal-hal yang semu. Mekanisme kenikmatan yang sahih adalah seseorang mendapatkan sesuatu seperti makanan, seks, atau hal lain yang ia sukai di alam nyata, kemudian ada hormon tertentu yang bekerja di otak, menghasilkan rasa nyaman. Dalam hal pecandu narkotika, dilakukan jalan pintas: hormon kenikmatan dihasilkan melalui obat kimiawi, sehingga tidak diperlukan kejadian di ruang nyata. Para pecandu hoax menadapatkan kenikmatan itu dari ruang nyata, tapi pemicunya adalah hal-hal yang tidak nyata, atau palsu.

Apa yang terjadi pada orang-orang ini? Mereka mempercayai serangkaian kesimpulan yang diperoleh bukan dari proses bernalar, melainkan proses yang bersifat pseudologis. Saya sebut psueudologis karena sekilas kelihatannya prosesnya seperti logis, hanya saja biasanya didasari oleh asumsi atau basis fakta yang tidak sahih.

Beberapa kesimpulan yang dianut secara luas di kalangan umat Islam antara lain adalah:

  1. Quran sesuai dengan sains, syariat Islam memuat hal-hal yang secara ilmiah pun terbukti benar.
  2. Agama-agama samawi semuanya memuat ajaran yang sama dengan ajaran Islam, tapi diselewengkan oleh umatnya. Demikian pula, kitab-kitab suci terdahulu, isinya sama dengan Quran.

Orang-orang itu mencari fakta-fakta untuk mendukung kesimpulan yang mereka anut. Sayangnya, kebanyakan 'fakta' pendukung itu palsu. Tapi itu tadi, sahih atau palsu tidak terlalu penting. Mereka tetap mendapat kenikmatan dari hal-hal yang mereka temukan.

 

Sumber: Facebook Hasanudin Abdurakhman

 

Monday, January 11, 2016 - 22:30
Kategori Rubrik: