Kebodohan Ditukar Museum di Tanah Reklamasi

 
Oleh: Dody Haryanto
Pada masa kampanye, Anies teriak-teriak dengan nada rasis menentang program Ahok terkait pemanfaatan tanah hasil reklamasi oleh gubernur sebelumnya.
Singkat cerita, dengan memakai issue dan sentimen agama, jual ayat dan mayat akhirnya Anies sukses membodohi warga Jakarta utk memilihnya.
 
Duduklah Anies jadi gubernur Jakarta, Ibu Kota Negara.
Lalu, apa prestasinya dibanding Ahok? Jawab: nyaris tak ada! Jakarta tetap semrawut, kumuh dan bau. Tak ada perubahan signifikan.
Sementara ini Anies bisa duduk tenang, bukan karena prestasinya melainkan karena kepiawainya memberi makan ormas-ormas berbau kadrun yg menjadi biang ribut selama ini. Mereka diam karena ngantuk kekenyangan.
Anies yg dulu amat galak menentang reklamasi berubah haluan, kini ngotot menyetujuinya.
Lagi-lagi, Anies memakai issue dan sentimen agama utk membuai dan membuat tidur ormas-ormas yg dulu mendukungnya. Katanya, di atas tanah reklamasi akan dibangun museum sejarah seorang nabi dan rumah ibadah raksasa nan cantik dan megah. Para kadrun mabok kegirangan. Akal dan pikirannya mati dan tentu siap pasang badan bila ada pihak yg menggagalkannya.
Saya gak tahu, apakah Aniesnya yg pintar atau para kadrun yg memang goblok. Betapa mudahnya Anies membuat mabok warganya. Para kadrun tidak sadar bhw mereka hanya menjadi bumper utk menggoalkan niat Anies utk membisniskan tanah reklamasi.
Jumlah total tanah hasil reklamasi adalah 155 hektar. Tahu kan bagaimana mahalnya tanah di Jakarta? Sebagai uang tutup mata, taruhlah utk kadrun diberikan gratis 10 hektar guna dibangun museum dll. Lalu, sisa 145 hektar lagi kemana? Sdh pasti utk para cukong, mafia, taipan dan para pejabat dan politisi korup.
Lalu 12 juta rakyat Jakarta dapat apa? Ya itu tadi, cuma dapat museum. Masih mending kalo masuk museumnya gratis, lha ini pasti bayar pulak! Hahaha...
(Sumber: Facebook Dody Haryanto)
Thursday, July 16, 2020 - 23:00
Kategori Rubrik: