Kebijakan Reformasi Ekonomi dan Anggaran Jokowi, Dorong Warga Ambil Bagian dalam Perubahan

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Tahukah anda bahwa andalan penerimaan negara yang selama ini membuat siapapun presiden merasa anteng diatas singgasana adalah harga minya yang tinggi. Tanpa upaya berarti dan beresiko politik, ekonomi tetap tumbuh walau ditengah ketidak pastian pasar. Autopilot.Tapi ketika harga minyak jatuh sampai dengan 50% dari harga ketika booming minyak, maka singgasana presiden itu bagaikan bara. Tidak nyaman dan membuat tidur tidak nyenyak.

Betapa tidak. Pada 2015 lalu, tinggal 10% penerimaan negara saja yang berasal dari migas.Kini tinggal dibawah itu. Padahal ketika migas booming porsi penerimaan migas diatas 20% dari penerimaan negara. Kini Migas sudah mendekati closed file. Mengapa ? Selain penemuan teknologi-teknologi baru membuat biaya produksi energi terbarukan semakin murah. Adanya penemuan shale gas dan shale oil , yang biaya produksinya terus menurun dalam 5 tahun terakhir. Tentu makin murah harganya dan ini yang menyebabkan tidak ada satu pun faktor industri migas yang akan dominan seperti di masa lalu.

Maka tak masuk akal bila negara masih mengejar pundi-pundi dari minyak. Pilhan hanya satu yaitu berubah! Pemeritah harus memanfaatkan potensi real untuk di kembangkan. Apa potensi real itu ? ya sumber daya manusia. Indonesia tidak butuh 200 juta orang hebat tapi cukup 3 % atau 6 juta orang kreatif dan tangguh berkompetisi secara global sudah mampu memakmurkan 97% rakyat Indonesia. Mereka inilah yang akan menjadi trigger pertumbuhan ekonomi dan memberikan sumbangan bagi penerimaan negara berupa pajak untuk melaksanakan fungsi sosial APBN.

Tidak ada teori khusus yang mampu menciptakan segelintir orang sebagai pemicu pertumbuhan kemakmuran. Mereka tumbuh dan eksis karena situasi dan kondisi yang ada. Itu terjadinya by nature. Pemerintah yang cerdas tahu bagaimana menciptakan situasi dan kondisi itu agar lahirnya segelintir orang hebat untuk menjadi creator angkatan kerja dan membuat ramainya aktifitas bisnis untuk menebarkan kemakmuran di setiap wilayah.

Apa yang di lakukan oleh Jokowi sekarang dengan kebijakan reformasi ekonomi dan anggaran , dari pertumbuhan berdasarkan konsumsi menjadi produksi telah membuat orang berani untuk ambil bagian dari perubahan yang ada. Yang takut berubah akan di gilas oleh putaran waktu. Karena bisnis rente telah di basmi dan KPK di perkuat di semua lini. Media massa dibuka lebar untuk siapapun boleh mengawasi jalannya pemerintahan. Ini benar benar revolusi mental bagi mereka yang tahu real situasi. Seleksi alam akan terjadi dengan sendirinya...hanya yang qualified bisa ungggul...

Anak ku, Berkat rahmat Allah kepada bangsa Indonesia di setiap zaman selalu muncul pemimpin yang sesuai dengan keadaan sehingga Indonesia akan selalu baik baik saja. Masalahnya apakah kamu ingin menjadi bagian dari 3% atau 6 juta penduduk indonesia sebagai matahari ataukah hanya ingin jadi lilin untuk menerangi kamu dan keluaga saja? Apapun pilihan tidak ada yang salah. Yang salah bila tidak memilih apapun tapi tetap nyinyir di tengah kegelapan. Jangankan jadi lentera , jadi lilin pun tak mampu. Lihat orang sukses iri, sementara keberadaan kamu hanya beban bagi negara dan orang lain..

Pahamkan sayang..**

Sumber : Erizeli Jely Bandaro

Thursday, September 1, 2016 - 08:30
Kategori Rubrik: