Kebijakan Hutan Jaman Orba

Ilustrasi

Oleh : Dahayu

Saat dibangku SD kami diajari, pelaku penggundulan hutan adalah masyarakat yg menerapkan sistem ladang berpindah. Padahal para pelaku ladang berpindah ini punya kearifan agro forestry. Mereka membuka lahan kecil ditepi hutan. Bercocok tanam. Setelah berkurang kesuburannya lahan itu mereka tanami pohon yg mereka sukai. Biasanya buah2an, lalu berpindah lagi, bercocok tanam lagi dan kembali lagi ke tempat awal yg tanamannya sdh berbuah. Jadi kerusakannya hampir tak ada.

32 tahun cerita kambing hitam ini di doktrinkan ke anak2 SD. Padahal yg terjadi adalah, ijin penebangan tak terbatas yg dikuasai para konglo. Keluarga dan kroni, dan dijaga oleh centeng2 kejam. Lalu hutan2 yg kaya dengan keragaman hayati tak ternilai, (anggrek2 langka, pohon2 tua, rotan, damar, madu, obat2an , dan rumah bagi jutaan spesies) , paru2 dunia, serta katedral agung bagi pengembara spiritual kuno, menjadi gundul. Pada penggunddul lalu tampil sebagai pahlawan reboisasi, mengimpor bibit lamtoro gung yg waktu itu aku berfikir, kenapa bijinya besar2, sepa dan nggak semanis metir. Seperti metir (mlandingan) tapi bukan metir. Setelah smp aku baru tahu apa itu rekayasa genetika, akasia (yg uletnya segedhe jaran, atau menjadi hutan industri milik keluarga dan kroni.

Tanaman bakau yg bagai benteng kokoh pemecah ombak, pencegah abrasi, tempat udang dan kepiting berkembang biak, burung migran beristirahat, penetralisir polutan dan logam berat, serta penyedia air bersih, dituduh sebagai biang malaria. Lalu dihabisi dan berganti hotel2 mewah yg lagi2 dimiliki keluarga dan kroni. Lalu menjadi ironi ketika memandang laut dan bermain dipantai menjadi hal yg mewah bagi anak2 nelayan.

Orang2 yang dididik selama 32 th ini terus berkembang biak. Semakin bayak jumlahnya, sedang hutan semakin sedikit, tapi kerakusan tak mengenal batas. Mereka terus membakar yg tinggal sedikit itu hingga rasanya tidak ada yg boleh tersisa, tidak peduli asapnya mengundang protes negara tetangga dan membuat bayi pneumonia. Mereka baru berhenti setelah bu Siti Nurbaya beserta segenap kru menghentikannya. Menyelamatkan sedikit yg tersisa.

Suara2 protes dijaman itu dibungkam mulai dari stigma (PKI) sampai dihilangkan. Jadi kalo ada SJW kesiangan dijaman Jokowi ini, niscaya mereka nggak ada hebat2nya. Paling efeknya cm berantem sm cebong. Karena protes yg ga releven tapi gaya selangit.

# sebenernya tulisan ini mau kutambahin video Iwan fals yg judulnya "Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi" Tapi aku lg faqir kuota. Ntar deh kl dpt tebengan wifi

-----

Itu baru soal hutan, ya...belum soal lainnya. 
Jadi, 
#saya_tidak_rindu_orba

Sumber : Status Facebook Dahayu

Monday, November 19, 2018 - 00:30
Kategori Rubrik: