Kebijakan Amoral Tentang Jilbab di Sumatra Barat

ilustrasi
Oleh : Kajitow Elkayeni
Apa yang terjadi di Sumatera Barat itu adalah pelecehan agama. Siswi non-muslim dipaksa berjilbab. Ini bukan perkara sepele, aparatur sekolah melanggar asas paling prinsip: kebebasan beragama.
Indonesia ini memang negara yang salah kaprah. Ada sekolah agama, rumah sakit pakai embel-embel agama. Memang kalian mau perang agama?
Hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan publik mestinya dilepaskan dari baju keagamaan manapun. Semua orang dari berbagai kelompok agama apapun berhak memasukinya.
Ini yang terjadi kan tidak begitu. Satu agama bikin sekolah, agama yang lain bikin tandingannya. Setelah "perang agama" memakai sekolah swasta, kemudian dilanjutkan dengan sekolah negeri.
Inilah yang terjadi di Sumatera Barat.
Mantan walikota Padang, Fauzi Bahar mengatakan, kebijakan itu dulu dibuat untuk mengangkat kearifan lokal. Ia juga mengatakan, siswi non-muslim tidak diwajibkan, tapi dianjurkan karena menurutnya banyak manfaatnya.
Orang ini memang sudah kelihatan bodoh hanya dengan menyimak pernyataannya saja. Dan di sana dia bisa jadi walikota. Tapi tidak mengherankan, Irwan Prayitno juga dikenal bodoh waktu kuliah, tapi bisa jadi gubernur Sumbar.
Mereka tidak sadar, bahwa menganjurkan non-muslim memakai jilbab itu amoral, bejat, dan melecehkan agama lain. Ini mestinya sudah dinajiskan sejak dalam pikiran.
Orang-orang picik itu meyakini jilbab wajib dan berhak memaksakannya pada orang lain. Padahal tidak semua orang Islam menganggap demikian. Saya tidak menganggap jilbab wajib. Bahkan dalam sebagian kondisi, menurut saya jilbab itu menyalahi konstruksi sejarah.
Sebab dulu jilbab itu diwajibkan untuk membedakan manusia merdeka dan budak. Saat ini perbudakan telah dilarang, kewajiban untuk membedakan budak tadi mestinya juga lenyap dengan sendirinya.
Islam lahir dalam kondisi masyarakat yang terbelakang, barbar, bodoh, kejam, pernghayal, rusak. Maka hukum yang diturunkan disesuaikan dengan kondisi saat itu. Berpikir seperti masyarakat Arab jahiliyah adalah suatu langkah kebodohan.
Banyak kejadian seperti di Sumatera Barat. Dan ini membuktikan tidak ada ketegasan dari pemerintah untuk membuat hukuman yang membikin jera. Paling-paling pihak sekolah hanya akan dapat teguran. Dan kasus seperti ini akan terus terulang.
Indonesia harus membebaskan diri dari sikap mabuk agama. Mengkotak-kotakkan sekolah berdasarkan agama adalah kemunduran berpikir. Apalagi memaksakan dogma pada sekolah negeri. Itu bentuk kebodohan bernegara. Memalukan.
Jika memang negara ini bukan dibentuk sebagai negara agama, mestinya pengeksklusifan agama mayoritas tidak dilakukan. Campur tangan agama dalam kepentingan publik harus dibatasi. Itu bisa jadi racun.
Jangan kembali ke zaman jahiliyah. Kita tidak segoblok itu. Agama mestinya menjadikan seseorang mulia, pemaaf, toleran, welas asih. Bukan berangasan dan sok berkuasa. Mentang-mentang mayoritas.
Tapi untuk berpikir semacam ini memang berat. Ketika agama telah menjadi racun, ia akan membuat seseorang berhayal bahwa dirinya benar. Agamanya paling benar. Seluruh tindakan atas agamanya juga dianggap benar.
Terdengar sangat familiar?
Hidup satu negara dengan orang-orang fanatik berlebihan memang memalukan. Mereka bertindak bodoh dan menganggap itu adalah perintah Tuhan. Padahal Tuhan pun akan malu memiliki umat yang dungu begitu.
"Fauzi siapa ya? Maaf gak kenal tuh. Bukan perintah Saya itu!"
Sumber : Status Facebook Kajitow Elkayeni
Tuesday, January 26, 2021 - 08:45
Kategori Rubrik: