Kebiasaan Makan Baik itu Tidak Baik

ilustrasi

Oleh : Alim

Banyak yang menawarkan program 'membuat kebiasaan makan yang baik'. Harus makan ini, harus makan itu, dilarang makan ini, dilarang makan itu. Lalu semua itu dibentuk menjadi sebuah kebiasaan yang disebut sebagai 'kebiasaan baik'.

Saya pikir itu bukanlah hal baik. Bukan, bukan soal makan yang berkualitas itu, tapi soal kebiasaannya. Mengapa?

Kita ini manusia, makhluk yang berkesadaran. Kita bukan hewan yang berjalan hanya berdasar insting, bukan pula robot yang 'hidup' secara otomatis. Kesadaran inilah yang oleh agama-agama dan ajaran spiritual sebagai nilai lebih manusia dibanding makhluk lain.

So, hidup sebagai manusia berarti hidup secara sadar, bukan sekadar ikut insting apalagi hidup secara otomatis.

Kemarin sempat saya tanyakan, seberapa banyak orang yang menaruh perhatian penuh pada setiap kunyahan gigi-geligi kita? Dugaan saya tidak banyak, kebanyakan mengunyah secara otomatis dan ikut insting.

Pola makan juga demikian, ikut insting saja yang berupa lapar dimana lapar itu alarm yang kita setting secara tidak sadar pula. (Pernah saya tulis di status sebelumnya.) Selanjutnya, semua berjalan otomatis.

Penting bagi kita untuk menjaga kemanusiaan kita, melakukan segalanya secara sadar: makan, minum, tidur (tidur kok sadar?), bernafas dll.

Kembali soal kebiasaan, maka sebaiknya kita bukan membangun kebiasaan makan 'baik' dalam artian melakukan otomatisasi makan, tapi mari makan yang baik secara sadar.

Bagaimana makan yang baik itu? Adalah makan yang membangun diri menjadi lebih baik, bukan hanya fisik tapi juga keseluruhan. Lalu teknisnya bagaimana? Itulah yang saya terus pelajari, pikirkan dan tuliskan sebagai serial self-talk.

Mari makan dengan bahagia

#SulukMakan
#SelfTalk

Sumber : Status Facebook Alim

Saturday, August 8, 2020 - 19:30
Kategori Rubrik: