Kebiasaan Baru yang Lama

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Karena bukan ahli bahasa, saya sih manut saja, kelak kita mau masuk fase kehidupan kayak apa. New normal, new abnormal. Keadaban baru atau baru berkeadaban. Biarkan para ahli bahasa memberi sumbangsaran negara.

Dari sekian banyak membaca medsos dan berbagai informasi aktual, saya sependapat dengan yang meyakini aksi coronavirus masih akan lama. Namun senyampang itu, saya juga meyakini, manusia makhluk berakal-budi. Yang tidak, nggak usah diitung.

 

Mungkin banyak juga yang ngerti, kita hidup di dunia ini bersama bakteri, jamur, virus, dan entah apalagi jasad renik yang terlihat dan tidak. Ada yang bermanfaat, ada yang bagai kadrun. Dulu ada penyakit ini-itu, karena belum tahu cara mengatasi, ada yang dipasung, dikarantina, atau dikucilkan. Kita bisa baca bagaimana wabah pes, sampar, lepra. Akhirnya bisa diatasi juga. 

Covid-19 ini terasa gila, karena dokter dan para medis pun bisa terkena. Dan dalam waktu singkat, menemu ajal. Kurang apa jal? Bagaimana dengan yang awam, yang agamis di kerumunan peribadatan gereja atau masjid? Dari Menteri hingga Perdana Menteri. Anak Raja, Walikota, orang kaya, artis? Mereka kena juga. 

Tiga bulan lebih saya berdiam di rumah, hanya 13 kali keluar rumah. Sangat menyenangkan sebetulnya. Bisa menikmati jalanan lengang, lancar jaya. Udara terasa ringan, nyaman. Polusi berkurang. Tentu yang belum terbiasa, pakai masker, tak berjabat tangan ketika bertemu teman (tapi kalau ke desa, saya selalu menyambut hangat uluran tangan mereka). Masuk ke minimarket membuka pintu dengan punggung. Kalau ke ATM, takut. Bukan takut tertular, tapi takut dikatain perempuan dalam mesin itu, yang akan ngomong, “Maaf, rekening Anda defisit. Mau nangis?”

Habis bepergian, sampai rumah cuci tangan pakai sabun, kalau gagah-berani ya mandi lagi. Jika dulu biasa mandi dijamak untuk 2-3 hari ke depan, sekarang minimal dua kali sehari. Makan-minum tak aneh-aneh. Protokoler orang miskin, tidak berlebihan. Pernah seminggu ngesop daun kelor, uhuk! Kalau marah, jadi kayak Hulk, muka hijau-padam!

Itu standar hidup normal sebenarnya. Apalagi virus corona bukan hal baru. Dunia akademi dan kedokteran sudah memberi sinyal lama. Jika datang lebih cepat, mungkin manusia juga penyebabnya. Dari gaya konsumsi dan gaya hidup. Eksploitasi hedonisme membuat ekosistem planet bumi berubah dengan segala dampak ikutannya.

Bagi yang mencintai motor atau mobilnya, sebagai status sosial, banyak yang punya kesadaran cek mesin per-3 bulan. Tapi yang empunya merasa tak perlu cek mesin di tubuhnya. Kalau sudah digotong ke RS, baru lain soal.

Apanya yang baru? Tak ada. Sekarang jika pun berharap pada pemerintah, laksanakan aturan sosial secara adil dan lurus. Yang membuka ruang publik, untuk fasilitas dan kepentingan publik, harus memenuhi standar protokoler yang disebut ‘keadaban baru’ itu. Kalau ada habib salah, salahin dong. Jangan karena ngarep umroh gratis. 

(Sumber: Facebook @sunardianwirodono)

Wednesday, May 27, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: