Keberuntungan Tak Datang Begitu Saja

Oleh: Saefudin Achmad

 

Ada yang bilang orang pintar kalah sama orang rajin dan tekun. Tapi orang yang rajin dan tekun masih kalah dengan orang yang beruntung. Saya tidak tahu siapa yang pertama kali membuat pernyataan ini. Terlepas bagaimana landasan berpikir serta bagiamana uji kebenarannya, pernyataan ini sudah dianggap sebagai sesuatu yang benar di mata masyarakat.

Jika boleh berasumsi, munculnya pernyataan orang rajin dan tekun masih kalah sama orang beruntung mungkin karena melihat beberapa fenomena dimana banyak sosok-sosok yang seolah-olah begitu mudah untuk mendapatkan kesuksesan. Padahal, secara sekilas sosok tersebut tidak terlalu keras, rajin, dan tekun dalam bekerja. 

 

Bagi yang hobi nonton bola, mungkin pernah menganggap beberapa tim yang dinaungi keberuntungan, serta beberapa tim yang seolah-olah selalu sial. Beberapa tim yang mungkin dianggap dinaungi keberuntungan adalah Porto saat menjuarai liga champions 2004, Inter Milan saat meraih treble winner tahun 2009, Chelsea yang menjuarai Liga Champions 2012, Leicester saat menjuarai Liga Inggris tahun 2016, Portugal saat menjuarai Euro 2018, serta yang lain. Tim-tim ini dianggap bukan tim impian dengan performa menjanjikan. Mereka datang dengan kekuatan apa adanya dan tidak diperhitungkan sebelumnya, namun berhasil menjadi juara. Akhirnya istilah 'beruntung' disematkan ke mereka. Mereka dianggap tim yang mendapat keberuntungan sehingga bisa menjadi juara.

Sebaliknya, tim-tim yang dianggap tidak beruntung atau mendapat kesialan misalnya Belanda yang tak pernah meraih gelar Piala Dunia padahal dianggap pernah memiliki kekuatan sepak bola nomor wahid lewat 'total football'-nya. Ada juga Liverpool yang dalam beberapa musim terakhir gagal menjuarai liga Inggris padahal sudah sempat di puncak dan unggul cukup jauh dari peringkat kedua. Tapi toh endingnya gagal menjadi juara. Mereka yang dianggap tidak beruntung atau mendapat sial karena terlihat punya kekuatan yang superior yang menurut nalar logis bisa membuat mereka juara, namun ternyata mereka gagal sehingga kemudian dianggap tidak beruntung.

Di antara kita mungkin pernah mendapat perlakuan kurang menyenangkan ketika kita berhasil meraih sesuatu yang cukup prestis dan diperebutkan banyak orang. Kita dianggap hanya beruntung bisa mendapatkan sesuatu yang prestis itu.Seolah-olah secara kompetensi sebenarnya masih banyak yang lebih layak mendapatkannya dibanding kita. Kita hanya modal beruntung saja. Jujur sebenarnya pernyataan ini adalah penghinaan karena sejatinya kita adalah yang terbaik baik di antara yang lain sehingga kita bisa memenangkan persaingan.

Saya percaya ada orang-orang tertentu yang kerap mendapat keberuntungan. Namun saya tidak percaya jika keberuntungan itu tidak datang begitu saja. Saya yakin keberuntungan itu hanya akan diberikan oleh Tuhan kepada hamba-Nya yang telah bekerja keras atau melakukan sesuatu yang baik, entah terkait langsung dengan apa yang dia raih, atau yang tidak terkait langsung. Hanya saja terkadang orang tidak mau mencari tahu rahasia dibalik orang-orang yang dianggap beruntung.

Aku percaya jika teman-teman yang dianggap hanya beruntung bisa lolos cpns tahun 2018 sebenarnya adalah memang yang terbaik dan memang dia layak mendapatkannya. Saya yakin ada usaha yang lebih keras, do'a yang lebih khusyu', serta kebaikan yang lebih banyak dan tulus dibanding orang-orang yang telah disingkirkannya, sehingga Tuhan kemudian memberikan keberuntungan. Saya yakin akan hal ini karena Tuhan Maha Adil.

Hanya saja terkadang hal-hal seperti ini yang tidak nampak di mata umum. Orang-orang yang beruntung ini juga tidak akan memamerkan betapa keras usahanya, betapa khusyu' do'anya, serta betapa tulus kebaikan yang dilakukan. Mereka sudah puas karena mendapatkan sesuatu bukan karena hadiah atau pemberian, tapi karena usaha, doa, dan kebaikan yang dilakukan.

Pesanku bagi siapapun yang ingin lolos cpns 2019, berhentilah hanya mengharap keberuntungan. Belajar dan berusaha yang keras melebihi orang lain, berdoa yang khusyu', serta lakukan kebaikan-kebaikan yang tulus adalah kunci. Jika sudah melakukan itu semua, mungkin Tuhan akan 'malu' jika tidak memberikan keberuntungan kepada kalian.

 

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)

Monday, November 18, 2019 - 10:30
Kategori Rubrik: