Keberhasilan Anak Tidak Bergantung pada PPDB

Ilustrasi

Oleh : Liza Novianti

Ketika menerima hasil UN SMP, anak ke dua saya menangis, karena nilainya di bawah kakaknya, rata2 cuma 8,7. Sedangkan kakaknya 9,1.

Rata2 di bawah 9, sangat tipis, kemungkinannya, untuk diterima di sekolah kakaknya yang favorit 1. Tidak adil, katanya, aku lebih rajin kok nilaiku lebih rendah dari Mas.

Saya menatapnya sedih, mengingat perjuangannya, menghabiskan berjam2 waktunya, ribuan lembar kertas, tumpukan buku bimbel, demi mendapat NEM tinggi.

Dulu pernah saya cerita, bahwa anak ke dua saya itu otaknya upgrade an, memorinya bertambah karena rajin belajar. Tidak seperti kakak dan adiknya, yang mendapat gift memori yang lebih besar. Dia mendapat nilai sempurna, 9-10 jika materi uji, 3-4 bab. Tapi ketika ujian akhir, yang materi uji dari kelas 1-3, yang terdiri banyak bab, dia keteteran kapasitas memorinya tidak nampung.. Di saat itulah anak terlihat kapasitas memori sesungguhnya. Walaupun tidak terlalu jatuh, tapi NEMnya kalah dengan yang dianugrahi memori besar sejak lahir.

Waktu itu saya membesarkan hatinya, sudahlah Allah pasti menyiapkan yang terbaik untukmu.

Karena nilainya itu bagi saya cukup mengkhawatirkan, saya mulai mencari sekolah sampai ke Jakarta, yang berbatasan dengan tempat tinggal saya di Depok. Jakarta waktu itu ppdb lebih dulu, sehingga anak saya bisa diterima di SMAN Jakarta, kemudian diterima juga di SMAN Depok.

Di saat itulah saya tahu bahwa di Jakarta ppdbnya rapi, dan bersih dari jual beli kursi. Karena ketika anak saya memutuskan untuk meninggalkan kursi SMAN Jakarta, dan memilih Depok, bangku itu tak bisa dibeli, oleh teman saya. Katanya, Kepala sekolah akan langsung dipecat jika terbukti menjual bangku (4 tahun lalu ketika DKI dipimpin Jokowi/Ahok). Dan akhirnya teman saya itu beli bangku di Depok dengan biaya 15 juta. Bervariasi memang harga bangku ini antara 3-20 juta, tergantung koneksi, penghasilan, NEM, dan waktu.

Anak saya nangis lagi, ketika temannya, yang diterima di sekolah sama, tiba2 pindah dan terdaftar di sekolah favorit idamannya.

Saat itu saya bilang, kamu mau pindah, dan ratusan mata temanmu mengetahui kecuranganmu dan memandangmu rendah? Kamu tidak bersyukur? Lihatlah ada yang beli bangku di sekolahmu sekarang, seharga 15 juta? Dia menggeleng lemah..

Untungnya di sekolah SMA ini, anak saya tidak meninggalkan kebiasaannya belajar giat, dan rajin mengerjakan tugas baik kelompok maupun perorangan. Beruntung anak saya memiliki teman2 sekelas yang asyik.

Dia selalu laris diminta masuk kelompok jika ada tugas, padahal dia galak, karena yang tidak bekerja namanya tidak akan dicantumkan. Tapi anak saya pandai dan adil membagi tugas. Akhirnya, berkumpullah anak2 rajin jadi sahabat2 anak perempuan saya itu.

Gengnya anak saya itu dijuluki kecoak sibuk, saya ndak tahu mengapa mereka dijuluki seperti itu. Geng ini selalu duduk di depan, dan selalu yang perdana mengerjakan tugas. Jika mulai belajar atau mengerjakan sesuatu... Pasti teman2 yang di belakang bilang, heh ada apa itu, kecoak mulai sibuk.. Malah ada nyanyiannya kecoak sibuk, kecoak sibuk tung, tung, tung 3x...

Belajar dan berdoa memang no.1.. Tapi anak cewe saya ini tetap tidak meninggalkan kegembiraan masa muda. Bermain dengan teman, ngemall, nonton bioskop, drakor, travelling, atau main game, teuteup. Tapi semua terjadwal dan mendapat porsi serta waktu yang seimbang. Pokoknya selesai mengerjakan PR, tugas, belajar, buat rangkuman dsb... Baru bersenang2 

Karena rajinnya, anak saya ini nilai raportnya bertaburan angka 9. Dan selalu menduduki peringkat 1 atau 2 di kelasnya. Itulah modal utama untuk jalur undangan. Allah memberi kelebihan, juga reward untuk anak yang bekerja keras. Akhirnya anak ke dua saya ini diterima di UI jalur undangan. Katanya yesss ndak perlu belajar lagi untuk Tes Universitas.

Kakaknya yang diterima di SMAN favorit 1, mendapat medan yang lebih berat. Persaingan ketat, dan dia hanya menjadi serpihan karang di sekolahnya yang bak lautan ganas. Nilainya pas2an karena terinveksi virus game. Main game lebih memenuhi hari2nya daripada belajar. Jalur undangan hanya tinggal kenangan. Tapi karena hobynya utak atik komputer, dia jadi punya keahlian di bidang komputer yang biasanya harus didapat melalui les, dia bisa secara autodidak.

Tapi walaupun ranking di atas seratus, tapi karena dari tempaan laut ganas, serpihan karang itu masih diterima di UGM lewat tes, jalur reguler (yang murah, bukan jalur mandiri yang mahal). SMAN favorit ini hanya 5 anak, yang tidak diterima di Universitas negeri dari 225 anak. Itupun dapat beasiswa full dari univ swasta...

Sekarang anak saya yang ke tiga masuk sekolah favorit 1 ini, walaupun sudah saya kasih gambaran seperti itu. Saya hanya bisa berharap dia tidak mengulangi kesalahan yang sama, seperti kakaknya yang pertama..

Oleh karena itu bagi ananda yang tidak diterima di sekolah favorit, jangan terlalu bersedih. Cepat bangun dan mulai berjuang lagi, ada rencana Allah yang indah di ujung sana..

Mungkin, ananda akan menjadi Kepala Ular, bukan hanya sebatas menjadi ekor naga.. 

Sumber : Status Facebook Liza Novianti

Sunday, July 16, 2017 - 15:00
Kategori Rubrik: