Kebenaran dan Surga Hoax

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Politikus Demokrat, juga Gerindra, dan para pendukung Prabowo, ngamuk ketika PSI (Partai Solidaritas Indonesia) memberikan award kebohongan kepada pihak mereka. Menurut mereka, yang dilakukan PSI melampaui batas kepatutan. Tidak beradab. Tidak etis.

Artinya? Mereka mempunyai pemahaman mengenai yang dinamakan aturan, norma, kepatutan, nilai etik, dan sejenis-jenisnya. Senyampang itu, pertanyaan balik bisa ditujukan ke mereka. Bagaimana dengan perilaku mereka sendiri? Ucapan, tuitan, komentar mereka (Demokrat, Gerindra, kubu Prabowo), yang oleh lawan dinilai melanggar batas norma, tak etis, dan sejenisnya?

 

 
 

Apakah ada dua ukuran, dua nilai, dua patokan berbeda yang dipakai? Karena itulah, dalam permainan, pertandingan, pertarungan, kompetisi, yang melibatkan lebih dari satu pihak, diperlukan aturan yang sama. Diperlukan wasit, juri, atau pengamat yang imparsial. Agar masing-masing yang terlibat mendapat penilaian adil. Bukan para pihak yang terlibat kompetisi menilai kompetitor atau lawan mereka.

Jika masing-masing menilai lawan tanding, atau kompetitor? Yang terjadi adalah klaim-klaim. Jadinya, kedua belah pihak sama tidak mutunya. Sebagai partai politik, peserta demokrasi, mereka bukan contoh patut untuk terlibat proses demokratisasi, yang melibatkan rakyat sebagai ‘konsumen’.

Pada kenyataannya, partai-partai politik, wa bil khusus politikusnya, adalah individu yang secara kepantasan banyak yang tak memenuhi syarat. Ini bukan hanya mereka yang sekelas Ferdinand Hutahaean, Andie Arief, Fadli Zon atau Fahri Hamzah cum suis. Setingkat SBY dan Prabowo pun, acap juga bertindak tak patut, dalam konteks politik.

Sama persis ketika Habib Novel mengatakan dirinya bersedia membimbing Ahok (yang 24 Januari 2019 akan bebas) ke jalan yang benar. Jalan dia sendiri sudah benarkah? Membandingkan Ahok dan Novel, sama dengan membandingkan emas dan loyang. Ahok emasnya, loyangnya kita tahu siapa. Novellah yang mesti dibimbing Ahok.

Tapi, soal perilaku dan sikap Novel benar atau salah, urusan dia sendiri. Biarin saja, meski sudah berumur tapi masih nak-kanak. Kapasitas otak manusia memang beragam. Maka apa sesungguhnya pengertian tentang nilai etik, adab, salah, dan benar itu?

Dari wacana yang muncul, pola-pola politikus busuk ialah merasa paling benar, jumawa, dan ingin mengajari moral atau etik liyan. Pola itu khas mencerminkan generasi anak-cucu soehartoisme. Pandangan dogmatis, suka klaim kebenaran mutlak sebagai hanya milik mereka, pihak lain dianggap numpang idup. Siapa yang nge-klaim orang bisa otomatis ke sorga, dengan membayar Rp 5 juta untuk mendukung Prabowo? Siapa coba?

Padahal, di mana-mana syarat ke sorga (juga ke neraka sih), adalah mati. Kecuali mau menikmati sorga dunia, VA menawarkan tarif Rp 80 juta. Lha ini, kok ada yang nawarin murah banget? Cumak Rp 5 juta? Kayak apa bentuknya? Ada AC-nya nggak? Beneran atau hoax nih? Aman nggak? Nanti ada gropyokan? Malu lho, kena operasi susila-justisia!

 
(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)
Wednesday, January 9, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: