Kebejatan Menyusup di Ruang Kebaikan

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Bak abrasi air laut yg mengisi ruang bawah tanah menggantikan air tawar yg terpakai oleh kebutuhan manusia, banyak di pakai tapi lupa merawatnya. Begitu juga kebaikan yg telah di tinggalkan orang-orang tua kita, keturunannya lupa meneruskannya. Kita terlalu asyik menerima kebiasaan menyimpang, salah, dibiarkan lalu menjadi kebiasaan, akhirnya kita terima sebagai kelumrahan. Tak terasa hal itu telah merasuk ke sumsum tabiat, membentuk budaya bejat yg dianggap bermanfaat, padahal menjadikan prilaku sesat.

Sakit jiwa tak terasa tapi sudah lama di idap sebagian masyarakat kita. Yang lebih dominan adalah politisi dan pejabat dgn kekebalan kerusakan moral yg dominan.

 

Semalam ada tontonan menarik dari kongres partai yg melabeli dirinya partai yg paling dekat dengan langit, mereka memberi kita hiburan, lemparan kursi jadi pertunjukan. Ketumnya terpilih lagi didalam kekisruhan. Belum lagi sang ketum msh dlm urusan proses di KPK yg sedang berjalan , jangan pula nanti setelah di lantik kena uji petik. 

Fakta partai yg berlabel dekat dgn Tuhan berlangganan dgn tahanan adalah hal yg merisaukan sekaligus memalukan. Ketum PKS kena, Ketum PPP langganan, apa skrg bakal menyusul ketum PAN.

Walau yg lainnya belum kena tapi bukan berarti tak sama bejatnya. Kalau anggota partai nyaris sudah sama merasakan masuk penjara, skrg PDIP saja sdg main mata, raibnya Harun Masiku adalah hal yg lucu, ada di CCTV bahwa dia sudah pulang, malah dirjen imigrasinya di tebang, main kasar tapi tak sadar, sayangnya mereka partai pemenang pemilu dan menguasai parlemen bersama geng besarnya. Pertunjukan ini sekalgus mencoreng muka sang penguasa seolah tak berdaya di kerjai para bajingan berkedok kepura-puraan.

Ada beredar tulisan menarik tentang Kuda Troya masuk istana, saya masih begitu percaya bahwa Pak Jokowi bukan pemain kelas dua, langkah kuda yg selama ini dimainkan harusnya tidak merusak pertahanan. Sudah banyak kecurigaan dari luar bahwa ring satu istana beraroma tak biasa. Kalau Pak Jokowi mengatakan tanpa beban dlm menjalankan tugas priode keduanya, begitu juga orang di sekitarnya yg punya tabiat bajingan juga tanpa beban melanjutkan kelakuan bejatnya. Karena suka atau tidak, di sekelilingnya masih bgt banyak kehadiran orang-orang bergelimang materi dan tidak sama dgn Pak Jokowi yg sdh mentas dgn dirinya sendiri, sementara para kurcaci masih suka menari utk terus memperkaya diri.

Melihat kondisi ini kita berharap Pak Jokowi masih mau lagi meneruskan tugas lanjutan, tiga kali, empat kali, gpp, sampai terbentuk pondasi yg kokoh untuk Indonesia agar para durjana melemah dan tua kemudian anak mudanya bs melanjutkan dgn akhlak mulia, bukan melanjutkan budaya bejat orang tuanya. 

Ah, Indonesia sampai kapan kita bisa merasakan ada dompet jatuh di jalan di kembalikan, bukan malah yg di kantong orang di ramahi tangan. Atau APBN dan APBD jadi lahan jarahan sambil cengengesan.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Thursday, February 13, 2020 - 19:15
Kategori Rubrik: