Kebangkitan Nasional dan Kebangkitan Bangsa

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Pada 111 tahun lampau, para bapak dan ibu embrio bangsa kita, membangkitkan semangat kebersamaan dalam kebangkitan nasional. Demi mimpi negara berdaulat, yang kita namakan Indonesia Raya. 

Cita-citanya sungguh mulia, semulia cita-cita Ibu Kartini, Wahidin Sudirohusodo, dokter Soetomo, Tan Malaka, Bung Karno, dan para pahlawan lainnya. Mereka bicara atas nama keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan. Pada saat itu, segelintir manusia, menjadi juru penerang. Memberi isi jiwa-jiwa kosong dan mati, menjadi kesadaran baru. 

 

Kini, atas nama demokrasi dan hak azasi manusia, bahkan agama, justeru tumbuh spirit menjadikan negeri ini dalam kekerdilan semangat kebangsaan. Segelintir manusia-manusia kerdil, membabi-buta. Menyingkirkan mimpi kebersamaan kita. Mengejek-ejek aturan kebersamaan yang telah disepakati.

Tapi dibalik atas nama itu, atas nama kekuasaan, mereka melakukan berbagai manuver yang lebih menuntut hak daripada kewajiban. Kehilangan kebijakan dan kebajikan sebagai anak-anak bangsa, menjadi anak-anak bangsat.

Kita telah mengalami pembelajaran awal melalui Sukarno, juga kepahitan bernegara karena Soeharto. Tertatih-tatih dalam trial and eror Reformasi 1998. Proses internalisasi bangsa dan negara itu perlahan mengkristal dalam generasi transisi Jokowi. Ada yang sabar dan teguh, ada yang tak sabar, disamping ada pula yang sinis, sembari mencoba menulis puisi bombas. 

Perlahan kita dapatkan kembali, gambaran tentang pemerintahan dan ketatanegaraan yang mulai menyadari konstruksi bangsa dan negara adalah kedaulatan rakyat. Kedaulatan rakyat yang sejati, bukan barang dagangan politikus. Kedaulatan rakyat yang menjiwai kerja dan pengabdian yang mendapat amanah di pemerintahan, legislatif dan judikatif. Tinggal bagaimana pengejawantahan dan pengawasan dari rakyat. Disitulah segala komitmen politik berlabuh pada kepatutan dan kepatuhan hukum. 

Landasan agama penting, namun bukan untuk meniadakan sistem yang dibangun atas kebersamaan dan berbagai sudut pandang yang aneka. Bukan justru untuk meniadakan kontrol. Karena senyatanya, klaim-klaim keagamaan kita, acap manipulatif menutupi kebobrokan mentalitas dan moralitas. Ngakunya suci dan imam besar, kagak tahunya kabur gegares chatting sex.

Kebangkitan Nasional 20 Mei, bukan spirit mendirikan negara khilafah, berdasar syariah agama yang justeru semangatnya menyempitkan. Kebangkitan Nasional ialah yang justeru lahir dari proses internalisasi keber-agama-an dan ke-ragam-an kita. Kita tak ingin terjadi kebangkitan bangsat, bangsat-bangsat, atau para bangsat. 

Kita ingin kebangkitan nasional, yang sudah diinisiasi 111 tahun lampau, dari titik 20 Mei 1908. Menjadi pijakan baru pada titik 22 Mei 2019, untuk momentum dikuburnya nafsu kekuasaan sesat. Memenangkan yang haq dan memerangi yang bathil. Semoga Tuhan Seru Sekalian Alam memberkati. | @sunardianwirodono

Monday, May 20, 2019 - 04:45
Kategori Rubrik: