Kebanggaan Kosong

ilustrasi
Oleh : Eddy Pranajaya
 
Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap manusia mengejar pengakuan dari orang lain untuk sebuah kebanggaan yang bisa dipamerkannya didepan umum.
Manusia punya berbagai macam cara untuk memamerkan hal-hal yang dapat dibanggakan, baik itu berupa benda/barang berharga, julukan/gelar, anak, orang tua, "iman", karier, dsb.
Orang-orang kaya cenderung akan memamerkan hartanya, kekuasaannya, dan barang-barang berharga miliknya ; sedangkan orang-orang yang tidak memiliki kekayaan yang cukup untuk dapat dipamerkan, akan cenderung lebih memilih untuk memamerkan "seragam dinas/pekerjaannya", juga "iman" yang dimilikinya, berikut gelar-gelar yang mengikuti keimanan mereka.
Demi mengejar sebuah kebanggaan, seorang manusia sampai kehilangan akal sehatnya, mengejar sesuatu yang sama sekali tidak ada manfaatnya, baik itu secara materiil maupun untuk perkembangan spiritualnya.
Bayangkan saja, demi sebuah pekerjaan yang dianggap akan dapat mengangkat derajat keluarganya, seorang manusia tanpa berhitung untung ruginya terlebih dahulu, berani mengeluarkan uang berjumlah ratusan juta rupiah kepada calo penerimaan pegawai di kantor pemerintahan, padahal gaji yang akan diterimanya setelah dia menduduki jabatannya hanya dibawah 2 juta per bulan.
Untuk mengembalikan uang sebesar 250 juta itu, dia harus bekerja minimal selama 10 tahun. Nah ... jika uang sebesar 250 juta itu diputarkan untuk berdagang, berapa besar keuntungan yang akan dihasilkannya selama 10 tahun itu ?
Demi mengejar sebuah gelar didepan namanya, untuk mendapatkan pengakuan orang tentang imannya, seorang manusia rela menjual tanah sawahnya, juga hewan-hewan ternaknya, agar dapat berangkat keluar negeri melaksanakan "perintah Tuhannya" untuk mendapatkan sebuah gelar didepan namanya agar disegani oleh orang-orang disekelilingnya.
Jika uang yang bernilai ratusan juta rupiah itu dibelikan hewan ternak, atau bibit tanaman produktif, maka dalam waktu 15 tahun kedepan akan berapa banyak hewan ternak yang dimilikinya atau berapa banyak pertambahan luas sawah ladangnya ?
Tidaklah mengherankan jika orang-orang kita tetap hidup didalam kekurangan dan kemiskinan, karena mereka lebih suka mengejar KEBANGGAAN KOSONG daripada mengoptimalkan akal pikirannya untuk memperbaiki taraf hidupnya, mereka lebih nyaman hidup didalam kebanggaan kosong berupa halusinasi daripada berupaya menciptakan peluang pekerjaan yang nyata didalam hidupnya.
Manusia sibuk mengejar kebanggaan kosong, tapi lupa untuk menumbuhkan KESADARAN dirinya sebagai seorang manusia spiritual dan manusia berakal ; mabok pujian, gila sanjungan, tapi malah kehilangan akal budhinya, hilang lenyap kesadarannya, terpuruk kedalam kubangan kemiskinan seumur hidupnya.
Bangga akan gelar didepan namanya, bangga anaknya pakai seragam dinas kepegawaian, yang walaupun berpakaian kedinasan, tapi sama sekali tidak punya kontribusi positif bagi keluarga, bangsa, dan negaranya. Makan gaji buta, minim visi dan misi untuk kepentingan rakyat.
Hanya KEBANGGAAN KOSONG seperti tempurung kepala yang kosong melompong tanpa otak yang dimilikinya.
Penduduk negara lain sibuk menggunakan tekhnologi smartphone untuk tujuan menggali ilmu dan menghasilkan profit serta memperoleh kemajuan daripadanya ; tapi penduduk Indonesia berlomba-lomba mendapatkan smartphone tercanggih hanya untuk selfie yang kemudian memostingnya di akun media sosialnya, mencari sebanyak banyaknya "like" dari followernya belaka, posting berita-berita gossip tanpa manfaat sedikit pun, untuk menyebarkan ujaran-ujaran kebencian dan pembodohan yang memecah belah kemanusiaan ; sebuah kebanggaan kosong ... !!!
Tapi ... yang paling celaka dari segala kebanggaan kosong itu adalah ketika orang berbangga akan "imannya terhadap agama yang dianutnya", namun perbuatan dan tingkah lakunya menyimpang jauh daripada busana dan gelar kebanggaan yang dikenakannya setiap hari.
Rahayu ..
 
Sumber : Status Facebook Eddy Pranajaya
Sunday, September 20, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: