Kebaikan Itu Tidak Bergantung Tingkat Pendidikan dan Aliran Agama

ilustrasi
Oleh : Mimi Hilzah
Tulisan Ca Ida pada tulisan sebelum ini menguatkanku bahwa ia mengenang kebaikan Kang Jalal melalui ilmu yang diwariskannya. Tentu dengan pengalamannya sendiri. Pengalaman adalah hal yang otentik, tiada yang bisa mendebatnya sebab masing-masing orang menjadi pelaku dan saksi apa yang dialaminya. Rasa dan pikir bertaut, kesan kemudian melengkapi. Sesuatu yang prosesnya alami, bukan rekayasa, bukan berdasar teori. Bagaimana kita mencerca rasa terima kasih seseorang yang lahir tersebab dari pengalamannya sendiri?
Karena itupun aku memilih seringkali menceritakan pengalamanku sendiri meski isinya hanyalah remah-remah dalam persepsi orang lain. Aku tidak mau nantinya ada yang menjadikan perkataanku sebagai rujukan kebenaran, aku lebih suka jika tiap orang membacanya sebagai perbandingan pengalaman mereka sendiri.
Aku menjalani proses yang sangat panjang dan berliku mengenal Islam. Kuakui, aku jatuh cinta pada Islam bukan setelah mempelajarinya. Aku bocah perempuan yang menyimpan sebuah rahasia diam-diam selama berbelas tahun tanpa pernah berani kuceritakan kepada siapapun. Rumah kecilku, tempat aku bertumbuh, memiliki balkon panjang di mana aku biasa bermain sendiri di situ menjelang sore hari. Pemandangan langit yang sendu dan romantis, itu yang mencuri banyak perhatianku. Lalu, setiap hari suara lantunan muazin menyeruak melengkapi gambar di depan mataku. Entah siapa saja muazin yang pernah melantunkan azan selembut dan sesyahdu itu hingga bocah perempuan semacam aku bisa duduk tenang dan meninggalkan semua permainan yang sedang dimainkannya.
Suara panggilan shalat menjelang magrib itu serupa nyanyian dari langit, mengharukan sekaligus membuatku sedih. Secara pikir, aku sadar bahwa itu panggilan shalat untuk umat agama lain. Secara rasa, aku yang masih kecil bisa menikmatinya tanpa rasa bersalah. Aku penikmat lagu, tapi belum ada lagu semacam itu yang membuat rasa bisa bercampur sedemikian kuatnya di dalam diriku, bukan hendak meledak, malah menenangkan. Aku tak paham bahasa yang dilantunkan tapi tanpa sadar, sesekali membawaku berlinang air mata. Meski aku tidak benar-benar mengerti, mengapa air mataku jatuh.
 
Setelahnya ada tahun-tahun yang panjang di mana di dalam diriku mulai terjadi pertentangan yang cukup rumit dan membuat gelisah. Aku suka membaca kitab injil, tapi aku juga sangat menikmati suara azan. Aku tidak punya sahabat yang bisa kuberitahu tentang kegalauan ini. Tidak ada tempatku bertanya, apakah yang kulakukan dan kurasakan ini pantas? Perasaan tabu ini tak mungkin kuceritakan kepada ayah angkatku yang pasti akan murka sebab aku adalah satu-satunya anak yang dimilikinya. Aku anak angkat, tapi aku adalah pusat dunia baginya.
Tahun 1997 aku memutuskan bersyahadat itu cerita yang sungguh rumit. Bagaimana aku terusir dari rumah, bagaimana aku tertatih menghidupi diriku sendiri, bagaimana aku masih bolak-balik jatuh ke dalam dosa. Kapan waktu akan kuceritakan sedikit-sedikit.
Intinya, sudahlah benar mereka yang menuduh aku tak paham syariat secara detil sebab aku masuk ke dalam Islam bukan atas landasan teori. Tanpa guru. Tanpa seseorang yang menuntun soal salah benar, patut maupun tidak patut. Yang kutahu, setiap kali aku mendengar suara lantunan muazin yang syahdu, di situ aku kembali menemukan alasanku mengapa aku jatuh cinta dan menyadari aku tetap dalam rasa cinta yang sama. Harus kuakui, tidak semua muazin pandai melagu dengan penghayatan. Maka terberkatilah mereka yang mampu mengajak orang-orang dengan suara mereka, menyentuh sekaligus menenangkan. Itu mungkin sebabnya aku selalu menjauh dari siapapun guru dan mereka yang disebut ulama yang senang menghardik dan menakut-nakuti. Cinta menurutku hanya bisa diteruskan dengan kelembutan dan cara-cara yang syahdu.
Beberapa hari ini aku mengalami banyak sekali perdebatan di kepala dan hatiku. Aku sampai berkali-kali jatuh menangis dikarenakan bingung dengan perasaanku sendiri. Seorang kawan baik berkata dengan santai, "Gampang... kan tinggal balik ke agama yang dulu..." Seandainya meyakini sesuatu itu semudah itu. Seandainya mencintai sesuatu semudah itu menghapusnya. Seandainya iman adalah sesuatu yang bisa dibongkar pasang sesuai kehendak akal dan memperturutkan hawa nafsu.
Apakah aku akan meninggalkan Islam? Tidak, sampai saat ini tidak pernah terlintas niatan seperti itu. Yang kukuatirkan adalah aku tidak cukup mampu mewakili wajah Islam, aku memang tidak cukup baik mendaku sebagai seorang umat Islam. Sebab sepengalamanku dan sepengetahuanku yang sangat sedikit ini, Rasulullah adalah lelaki yang meneladankan kelembutan, kasih sayang dan pengampunan, begitulah kemudian Islam yang terpatri di dalam akal dan hatiku. Maka ketika kutemui orang-orang yang melakukan hal yang bertentangan tetapi mereka merasa begitu kuat menampilkan simbol-simbol agama dan fasih menyuarakan ayat serta hadits, aku mendadak merasa kecil dan gagal.
Aku memahami Islam melalui cinta. Akan selalu seperti itu. Bukan lewat simbol, bukan lewat hal-hal yang sifatnya transaksional. Kalau kuambil sajadahku, itu kuniatkan karena aku dipenuhi cinta dan datang untuk memuja sekaligus berterima kasih. Bukan untuk meminta sesuatu menguntungkan bagiku apalagi meminta sesuatu yang buruk bagi musuhku. Kalau aku berbagi sesuatu yang kupunya, itu bukan karena aku meminta panjar surga dan tepuk tangan manusia lain. Aku berbagi karena aku tahu Allah memberi banyak supaya aku meneruskannya kepada mereka yang membutuhkan. Allah memberi lebih supaya aku belajar menjadi manusia bagi manusia lain. Dalam diriku tertanam keyakinan, Allah menginginkan aku mendahulukan niat baik, melakui adab dan perbuatan bermanfaat, ketimbang mengejar ibadah-ibadah yang manfaatnya bersifat pribadi.
Jika aku memahami Islam melalui cinta dan menurut orang lain itu terlalu sempit dan dangkal, mau diapa. Masing-masing manusia berbeda kemampuan dan takdirnya, aku ingin mensyukuri keadaan ini walau ini jauh dari sempurna menurut timbangan manusia. Jika aku tidak akan bisa menjadi pendakwah seumur hidupku, aku masih bisa menjadi seorang pedagang yang amanah. Jika aku tidak bisa memasukkan banyak manusia ke dalam surga, aku masih mungkin menciptakan surga-surga kecil bagi beberapa manusia di sekitarku. Jika aku tak pernah berkesempatan menjadi penghapal kitab, aku toh masih bisa mengambil satu dua hikmah dan teladan Rasulullah dan mencoba meneladaninya lewat perbuatan semampu-mampuku.
Jika aku akhirnya gagal menjadi muslimah yang sempurna mengerjakan semua yang diperintahkan, aku berdoa semoga aku jangan menjadi contoh buruk yang kemudian bisa menggiring orang lain mengolok-olok Islam.
Aku masih butuh banyak waktu untuk mencerna mengapa ada begitu banyak pertanyaan yang menuntut jawab di kepalaku dan ke mana aku harus melangkah demi menemukan jawaban tiap pertanyaan. Terima kasih untuk semua yang terus bertanya keadaanku dan ingin aku kembali menulis dengan riang.
Aku ingin kalian tahu, akupun sangat mengasihi kalian semua.
Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah
Monday, February 22, 2021 - 15:45
Kategori Rubrik: