Kearifan Lokal Sunda dan Islam Semestinya Bisa Harmoni

 

Oleh: Olads Hdn

Masyarakat Sunda sangat menerima Islam dengan baik karena agama islam mempunyai kesamaan konsep monotheism. Agama Sunda adalah ageman yang telah mentradisi dan membudaya dalam masyarakat Sunda. Sejak datangnya Islam, masyarakat sunda tidak pernah sedikit pun merasa tersaingi oleh agama baru, Sunda tidak pernah mencela, menghakimi Islam dengan kata-kata yang mengandung unsur syirik, musyrik, dan lain-lain, meski dalam pelaksanaan ibadah menuhankan Allah dan seakan seperti menyembah Kabah.

Maka Sunda sangat tahu dan memahami tentang ajaran Islam, masyarakat Sunda yang tak punya bentuk fisik sesembahan benda dalam bentuk apa pun, dengan Sanghyang Tunggal yang dipertuhankan. Sunda tidak pernah sedikit pun berprasangka buruk terhadap ajaran Islam yang berkembang di tatar Sunda. Karena ageman Sunda lebih memahami tentang akidah ketuhanan yang dianutnya, inilah yang selama ribuan tahun membuat masyarakat Sunda sangat kondusif dan tenteram bersama Islam.

Ketika agama Islam berkembang dan mulai terkotak-kotak dengan berbagai paham, maka di dalam Islam sendiri sudah terjadi banyak perbedaan, pertentangan, perdebatan dan bahkan pembunuhan dan pembantaian. Setiap kelompok golongan mengklaim pembenaran atas pemahamannya. Selanjutnya muncullah kelompok-kelompok takfiri (yang saling mengkafirkan), menghakimi dan menghukumi tentang perbedaan paham sehingga agama Islam menjadi sangat tidak nyaman. Ketidaknyamanan ini berimbas kepada umatnya sehingga terjadi pengelompokan yang lebih besar dalam berbagai paham pembenaran seiring pertambahan jumlah umat.

Pengaruh kemajuan zaman dan berbagai intervensi Barat dan warisan penjajah bertahun-tahuin dalam politik ekonomi dan sosial, juga telah mengubah tatanan tradisi dan budaya Nusantara yang hanya tinggal slogan dan opini sehingga masyarakat terkesan kehilangan jati dirinya dalam kearifan lokal. Budaya Barat yang telah mendarah daging cenderung telah terbisa diikuti secara tidak langsung, dan tak terasa menjadi kebisaan dalam kehidupan sehari-hari, dan warna idenitas masyarakat Indonesia menjadi tak jelas.

Ketika tradisi budaya Sunda berusaha dihidupkan maka tampaklah kontras dengan budaya asing yang telah mendarah daging. Ketika unsur-unsur kearifan lokal disampaikan dan disuguhkan secara serentak (seperti di Purwakarta) maka hal itu sangat mengagetkan bagi yang tidak terbiasa, apalagi bagi umat muslim yang tak pernah sama sekali mengenal tradisi budaya tanah kelahirannya, atau bagi mereka yang sudah cenderung berubah atas keyakinan dan fanatisme terhadap agamanya, maka pola pikir tentang tanah leluhurnya sudah hilang.

Hal ini sungguh sangat memprihatinkan, karena masyarakat menjadi terpecah belah oleh pola pikirnya sendiri dikarenakan keterbatasan pemahaman atas pengetahuan tentang tradisi budaya dan agamanya. Maka ini adalah kewajiban dari para pelaku pemerintahan untuk segera mengatasi hal ini, agar tidak berlarut-larut, demi keamanan dan ketentraman serta kerukunan warga masyarakat dimanapun berada, mengingat kultur masyarakat Indonesia yang sangat beragam (kebhinekaan) sedang mengalami krisis jati diri.

 

Sumber: Facebook Olads Hdn

Saturday, January 2, 2016 - 12:30
Kategori Rubrik: