Keamanan Vaksin

Oleh: Erizeli Bandaro
Ada pertanyaan nitizen yang meragukan Vaksin COVID-19. Alasanya karena vaksin dibuat dengan cepat. Padahal untuk membuat vaksin butuh waktu riset lama dan sampai dia aman digunakan manusia butuh tahunan uji klinis untuk memastikan tidak ada efek buruk jangka panjang terhadap tubuh manusia. Lah ini vaksin bisa dibuat dalam waktu singkat. Apa iya aman? Saya akan jawab sebisa saya atas pemahaman yang saya punya. Saya memang tidak ahli namun sebagai pebisnis yang mengamati bisnis pharmasi tentu saya paham produk mereka.
 
Di awal pandemi desember 2019, ahli ilmu pengetahuan China berhasil memetakan dengan akurat informasi genetik tentang Virus corona SARS-Cov-2. Oleh China, informasi genetik itu dibagikan kepada ilmuwan di seluruh dunia. “ Ini loh musuh kita. Ini loh kelemahannya. Ini loh kelebihannya. Begini loh mereka berkembang. Begini loh asal muasalnya. Beginilah loh organisasi pertahanan dan penyerangannya. Ini loh penyebab sistem daya tahan ( antibodi) manusia error melindungi tubuh dari serangan”
Jadi ibarat perang. Data intelijent tentang musuh sudah diinformasikan oleh China. Ini berkat laboratorium pertahanan nasional China terhadap serangan pandemi. Dengan informasi itulah, para ahli di dunia membuat senjata untuk melindungi diri dari serangan corona, Itu disebut Vaksin. Dari informasi itu maka strategi dan metodelogi menghadapi virus mudah ditetapkan. Strateginya adalah memperkuat antibodi manusia terhadap serangan virus. Metodenya ada dua. Pertama, dengan menggunakan inactive virus atau virus yang sudah dilemahkan. Kedua, dengan mRNA atau messenger RNA.
Metode pertama dibuat oleh China ( Sinovac). Ini metode jadul yang sudah terbukti puluhan tahun aman. Yang kedua, mRNA itu metode canggih yang sudah dikembangkan oleh Eropa dan AS. Dua metode ini punya kelebihan dan kekurangan. Jadi engga perlu diperdebatkan. Tergantung pilihan. Metode pertama, tingkat efektifitasnya melawan virus rendah dibandingkan metode ke dua. Namun tingkat keamanannya tinggi atau resikonya 0,1%. Praktis engga ada resiko. Sementara mRNA seperti Pfezer , efektifitas tinggi namun resiko juga tinggi. Namun tidak fatal.
Tapi anda tidak perlu takut atau bingung menentukan pilihan. Dokter tahu mana yang cocok untuk kedua jenis vaksin itu. Itu sama seperti cara dokter memberikan obat antibiotik untuk anda. Mereka tahu mana yang tepat untuk anda. Contoh kalau daya tahan tubuh anda kuat, ya yang cocok adalah Vaksin Sinovac ( inactive virus ). Untuk manula yang daya tahan tubuhnya rendah, yang cocok vaksin Pfezer atau mRNA. Dalam program vaksinasi, pemerintah sudah mengamankan stok untuk dua jenis vaksin itu.
Vaksin itu metode memperkuat antibodi kita. Bukan obat. Vaksin dibuat dengan standar Sains yang ketat. Jadi engga mungkin big risk. Yang penting walau sudah di vaksin, tetap patuh kepada prokes. Ubah gaya hidup anda. Esensi kekuatan antibodi sebenarnya adalah pada sikap mental atau jiwa kita terhadap penyakit. Kalau kita lebih banyak takut terhadap vaksin dengan membesar besarkan resiko vaksin, jelas itu kontraproduktif terhadap upaya sains untuk melawan pandemi. Jadi engga usah lebay seperti DKI yang dengan bombamdis menyiapkan 21 RS rujukan untuk antipasi efek sampingan dari vaksin.
 
(Sumber: Facebook Diskusi dengan Babo)
Friday, January 15, 2021 - 13:15
Kategori Rubrik: