Keagungan Seksualitas: The Great Power of Unity

Oleh: Setyo Hajar Dewantoro/SHD

 

Sebagian orang punya persepsi bahwa seksualitas dan hasrat yang mendasarinya yaitu birahi atau lust harus dijauhi karena diasumsikan bagian dari ketidaksucian, kejahatan. Orang-orang tercerahkan dianggap tidak layak berpikir tentang yang satu ini, apalagi melakukannya. Maka muncullah konsepsi, selibat dalam arti menjauhi perkawinan atau tidak melakukan sama sekali praktik seksual sebagai jalan yang agung menuju pencerahan. Sebagian agama dan tradisi, masih memberi ruang pada praktik seksual tapi dengan pembatasan dan pengendalian yang sangat ketat. Dan nama Tuhan dibawa-bawa: Dia marah kepada orang yang melakukan praktik seksual tak sesuai perintahNya, para pelakunya mendapatkan dosa besar dengan hukuman sangat berat. 

 

Mereka yang selibat, sedikit sekali yang mendapat pencerahan, dan tidak sedikit yang meninggal dunia dalam keadaan sakit sejenis kanker prostat/rahim. Mengapa bisa? Karena selibat memang bukan jalan absolut menuju pencerahan. Nyatanya banyak orang tercerahkan punya pasangan dan melakukan praktik seksual, bahkan pasangannya bisa lebih dari satu. Dan praktik selibat yang dilakukan dengan pemaksaan, tidak selaras dengan keadaan natural badan seseorang, pasti tidak membawa pencerahan dan hanya merusak tubuhnya. Sebagian orang dianggap atau dicitrakan selibat, agar tetap punya citra suci, nyatanya melakukan praktik seksual dengan cara yang tak diketahui publik. Mengapa? Ya karena sesungguhnya selibat membuat mereka tersiksa dan mereka berusaha untuk keluar dari penderitaan itu, tapi caranya sebenarnya malah membuat mereka menderita juga. 

Sebagian yang memegang dogma pengendalian ketat pada praktik seksual, menghibur diri bahwa itu mereka lakukan agar mendapat ganjaran, suatu saat nanti mereka bisa melakukan itu sepuaa-puasnya dengan banyak orang. Kapan? Ya nanti saat mereka tak punya organ seks lagi. Mereka sendiri sebetulnya tak pernah memikirkan, bagaimana bisa melakukan praktik seksual tanpa phalus dan vagina yang sudah kembali ke asalnya: bumi. 

Lalu bagaimana pandangan saya pribadi? Begini. Saya, banyak terhubung dengan jiwa-jiwa agung yang dulunya pernah jadi manusia lalu mencapai pencerahan. Dan mereka ini, dulunya ya rajin melakukan praktik seksual. Badan mereka sehat, pikiran lapang, emosi penuh kegembiraan, dan tercerahkan. Anda jangan terkecoh dengan tulisan orang-orang belum tercerahkan yang menyatakan mereka begini begitu. Namanya juga cuma berimajinasi dan berasumsi, kenyataannya sungguh berbeda. Saya mengenal betul tokoh legendaris yang memiliki hubungan cinta yang agung dengan 2 perempuan hebat: Maria Magdalena dan Fransiska. Tentu saja di dalam hubungan cinta yang agung itu juga ada praktik seksual. Cinta mereka bukan cinta aseksual. 

Ada tokoh legendaris lainnya yang saya kenal betul, dan pasti tercerahkan, punya hubungan spesial yang melibatkan praktik seksual, dengan perempuan jelita dari Amerika Serikat, Italia dan negara lainnya. Inilah fakta. Anda boleh tak suka membacanya, tapi fakta adalah fakta, kebenaran adalah kebenaran. 

Sebentar? Benarkah Anda tak suka? Sebetulnya semua suka tema yang saya bahas ini, dan pasti ada imaji untuk membuatnya jadi liar. Tapi banyak yang memilih jadi hipokrit. Atau terkungkung oleh pikiran bawah sadarnya yang kadung diprogram untuk menganggap nista seksualitas. 

Begini, praktik seksualitas sebenarnya bisa menjadi jalan keagungan. Ini adalah tindakan yang bisa jadi momen keheningan total. Bahkan puncak dari tindakan ini yaitu orgasme, adalah momen di mana sensasi menyatu dengan kekosongan itu bisa dirasakan. Dan itu diikuti dengan rasa merdeka, lepas dari segala beban. 

Dalam pembahasan yang lebih serius, praktik seksual sesungguhnya sebuah peniruan terhadap penyatuan kekuatan maskulin dan feminin semesta untuk menciptakan Big Bang atau Dentuman Agung . Bagi yang mengerti caranya, praktik seksual bisa menjadi jalan yang agung untuk membangun tatanan baru pada level individu, kebumian, bahkan kesemestaan. Praktik seksual bukan sekadar melepas cairan yang membawa kesenangan badani, ini adalah jalan meditasi yang agung untuk mencipta, memelihara dan melebur. Tapi untuk sampai ketahalan ini, jiwa Anda harus murni. Anda harus bisa melakukan semuanya dalam tuntunan Hingsun. Anda harus sudah bisa bergerak seirama dengan irama semesta. Praktik seksual mengantarkan Anda pada pencerahan yang lebih tinggi, transformasi diri yang lebih utuh, jika dengan siapa Anda melakukannya, dimana, kapan dan dengan cara apa Anda melakukannya, Anda dituntun Hingsun. 

Tanpa kesadaran, praktik seksual hanya jadi seperti makan gado gado. Enak tapi tak berbekas apa apa. Bahkan jika ngawur ya hasilnya akan seperti jika Anda nyolong ayam. Garis bawahi hal ini, saya mengajari semuanya untuk sadar, cerdas, waspada, tertuntun selalu dengan Hingsun. Menjadi merdeka itu beda dengan asal-asalan atau ngawur. Tindakan ngawur pasti membuat tubuh karna Anda keruh dan hidup Anda ruwet. Boro-boro tercerahkan, yang ngawur pasti jatuh terjerembab. Saya pasti marahi murid saya yang ngawur, saya marahi juga murid saya yang hipokrit. 

Suatu saat, tampaknya perlu workshop khusus tentang ini.

 

(Sumber: Facebook SHD)

Wednesday, February 26, 2020 - 16:30
Kategori Rubrik: