Keadilan Untuk Afi Nihayah

Oleh : Arif Maftuhin

Beberapa teman mengirimkan pesan pribadi kepada saya, menanyakan tuduhan plagiarisme yang dialamatkan kepada Afi Nihayah. Saya tidak kenal dekat dengan Afi, tetapi seperti Anda dapat lihat dari catatan-catatan saya, saya beruntung bisa berkomunikasi secara personal dengan Afi beberapa hari terakhir ini. Tulisan saya kemarin tentang "Gender dan Jilbab", misalnya, saya tulis dengan diskusi langsung dengan Afi, meminta persetujuan, mendengar keberatan, mengganti kalimat, agar apa yang saya sampaikan kepada publik "tidak membahayakan Afi".

Mengapa perlu concent dia? Sebab, obrolan kami banyak menyentuh wilayah sensitif yang kalau dibuka semua, bisa-bisa Afi "dihabisi". Saya, seperti banyak orang lain, ingin menjaga tunas ini tumbuh dengan baik. Tuduhan plagiarisme, yang mulai beredar semalam, adalah buktinya. Komentar para haters Afi benar-benar tidak kenal ampun. Miris sekali.

Jadi, mari kita bersikap ADIL. ADIL. ADIL.

Benarkah Afi plagiat? Setelah cek dan ricek tuduhan ini, saya berusaha mengontak Afi (WA text, WA call, sampai telpon). Teks tidak terjawab. Telpon hanya bertemu dengan nada tunggu. Saya tahu dia sibuk. Menurut jadwal ia akan bertemu presiden hari ini. Pesan teks pertama saya, karena itu, hanya berbunyi, "Kamu tabah ya. Saya tahu ini masa yang berat. Let me know kalau ada yang bisa saya bantu." Pesan itu lama tidak ia jawab, sampai saya mendapatkan jawaban singkat "I am not OK." Saya baru bisa telpon saat Afi menuju Kompas TV. Saat saya tanyakan masalah plagiarisme itu, jawabanya persis yang diberikan kepada Bayu Sutiono: ia tidak melakukan plagiarisme.

Meski sudah gatal ingin menulis, saya menunggu untuk mendengar keterangan saksi kunci Mita Handayani, orang yang tulisannya disebut-sebut mirip dengan tulisan Afi. Saya cek FB dia berkali-kali sampai dan hanya nemu teaser: "Sabar ya, nanti dijelaskan..." Jadi, saya bersabar. Saya ingin ADIL. Lima jam kemudian Mita baru menjelaskan bahwa ia memang menulis tulisan itu tahun lalu, bahwa ia meminta kita memafkan Afi karena semua orang pernah bersalah.

Sebagaimana beberapa teman, saya juga ingin Afi segera minta maaf. Saya setuju. Semua orang pernah salah. Dan Afi sebaiknya meminta maaf. Karena maaf tak akan menjatuhkannya. Saat berbincang di telpon sebelum ke Kompas Tv itu, saya juga sudah memberikan saran ini kepada Afi. Tetapi, jawabann dia sama dengan yang di Kompas Tv itu, bahwa ia tidak menjiplak.

Mau adil? Mari kita tempatkan masalah ini dalam konteks yang lebih luas. Pertama, jangankan Afi, orang yang disebut "imam besar" saja tidak mau diadili untuk mengakui kesalahannya. Masih ingat ucapan si hakim ketua MK yang bersumpah demi Allah bahwa ia tidak menerima suap? Masih ingat sumpah ketua partai yang siap digantung? Dan... masih ingatkah ketika diri kita sendiri berbuat salah kepada orang banyak? Kita semua tahu, meminta maaf tidak akan menjatuhkan Afi. Tetapi itu jelas pilihan berat bagi seorang bocah yang mendadak menjadi tumpuan harapan semua orang. Sudahlah, tanpa Afi meminta maaf, kita harus memaafkannya. Merangkulnya lagi, mendorongnya lagi. Membantunya untuk tetap menulis.

Kedua. Kasus plagiat di Indonesia itu ribuan jumlahnya. Ada guru besar UGM. Ada guru besar UNPAD. Ada banyak mahasiswa di perguruan tinggi manapun. Bahkan saya nyaris yakin, orang-orang yang teriak keji kepada Afi itu juga tukang copas (bentuk lain plagiarisme), hanya untuk menyebar hoax. Kalau mau adil, plagiarisme Afi sama sekali tidak penting untuk diurus dibandingkan dengan kejahatan mereka. Afi meniru demi menyebar pesan damai. Para profesor, dosen, dan mahasiswa menjiplak demi uang, karir, dan ijazah. Mereka lebih jahat dan merekalah yang harus Anda bully.

Jadi, mari kita bersikap ADIL. ADIL. ADIL.

Malam itu, dalam perjalan mengantarkan Afi untuk menemui seseorang yang dia sebut sebagai "gurunya" di kawasan Jalan Kaliurang, saya sudah mengantisipasi keadaaan ini dan bertanya ke Afi, "Kamu tahu risikonya jadi orang terkenal? Kamu siap bila sewaktu-waktu kamu dilupakan orang?" Saya menyebut beberap kasus, seperti Norman Kamaru sebagai contoh.

Jawaban Afi, "Saya bukan orang yang sempurna. Saya tahu hidup itu melewati siklus up and down. Saya sudah siap kalau sewaktu-waktu mengalami apa yang dialami mereka. Saya ingin tetap menjadi diri saya. Sebelum terkenal atau bila tidak terkenal lagi."

Saya belum bisa kontak lagi dengan Afi sejak siang tadi. Saya baca di kompas.com, kalau Afi sudah bertemu ayahnya yang jauh-jauh menyusul dari Banyuwangi. Semoga dia segera membaik. Pesan saya di WA tadi mengulangi ucapan Afi malam itu. Hidup itu up and down. Semoga kamu jatuh untuk terbang lebih tinggi lagi.**

Sumber : facebook Arif Maftuhin

Friday, June 2, 2017 - 11:00
Kategori Rubrik: